
Aku tahu kamu begitu kecewa, namun bukan berarti harus menaruh dendam terlalu dalam dan begitu lama.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Maura menatap seorang pria, pria yang sudah duduk tepat di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Maura sambil mengaduk perlahan minuman miliknya.
"Enggak ada apa-apa." Ucapnya dan kemudian ikut memesan minuman saat itu.
"Di mana Gilang, aku tak melihatnya tadi pagi."
"Dia sedang pergi." Ucap Maura dan kemudian meminum minuman miliknya.
"Ehmm Ra.. terima kasih untuk hari ini."
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Maura bingung dan menatap kembali pria yang ada di hadapannya.
"Terima kasih kamu mau memaafkan Laras."
Maura terdiam, ia teringat kembali saat di mana dirinya bertemu dengan Laras dan Bian tadi. Laras tiba-tiba saja mengucapkan maaf. Memang sulit untuk bisa langsung mempercayai. Tapi melihatnya, rasanya ia sungguh-sungguh serius dengan ucapannya itu.
"Kau begitu menyukainya?" Tanya Maura.
"Ya.. tapi ku rasa itu sudah terlambat."
"Kenapa terlambat? Kau berhak menyukainya."
"Ya.. tapi dia berhak untuk tidak menyukaiku."
"Maksudmu?" Tanya Maura dan tampak bingung.
"Tapi kau tenang saja, ku pastikan Laras tidak akan mengganggu hubungan kalian."
"Kau sudah banyak berkorban untuknya."
"Aku ikhlas." Jawab Bian dan saat itu minumannya datang.
Bian menatap secangkir kopi di hadapannya, diaduk perlahan dan terdiam sesaat. Mungkin dirinya saat ini sedang mengingat berapa banyak kenangan yang ia lakukan bersama Laras. Apakah di sungguh-sungguh mengikhlaskannya.
"Laras pasti akan menyesal, kalau tidak menyukaimu."
"Dia sedang menata hatinya, menyembuhkan lukanya." Ucapnya dan kemudian meminum kopi miliknya.
"Oh iya, kapan Gilang akan kembali?"
"Dua atau tiga hari lagi." Ucap Maura dan berfikir ulang dengan perhitungannya itu.
"Laras ingin meminta maaf juga pada Gilang, tolong bujuk dia. Aku yakin Gilang pasti akan mendengarkan kata-katamu."
"Aku enggak janji, tapi aku akan coba."
Setelah menghabiskan minuman miliknya, Bian pun pergi. Meninggalkan Maura sendiri lagi. Maura masih begitu menikmati suasana kafe hari itu. Rasanya ia malas untuk kembali. Gilang tak ada di sisinya.
"Hemm..baru saja sebentar, aku sudah merindukannya." Gumam Maura.
Rasanya waktu cepat berlalu. Vaya sudah bersama Rian, Laras sudah menjadi lebih baik sekarang begitupun dengan Bian.
Berharap hal baik akan terus terjadi.
.
.
.
.
Mata Maura membulat, saat ia menatap layar handphone miliknya. Banyak sekali Gilang melakukan panggilan.
Maura tak menyadarinya. Sekembalinya dari kafe ia langsung mandi membersikan diri, tak lama setelah itu ia tertidur.
Rasa lelah begitu dirasakannya. Banyak hal yang sudah terjadi dalam seharian ini. Kepergian Gilang, hubungan Vaya dan Rian dan permintaan maaf Laras.
Maura saat itu segera menghubungi kembali Gilang, jika dibiarkan berlarut-larut Gilang pasti akan marah besar.
"Sorry Lang." Ucapan pertama yang dilontarkan Muara saat dirinya berhasil menghubungi Gilang.
"Kamu kemana aja sih Ra?"
"Aku ketiduran tadi. Sorry..."
"Memangnya kamu kemana aja seharian ini?"
"Aku hanya ke rumah Rian lalu ke kafe." Ucap Maura sambil mengingat kembali apa saja yang telah ia lakukan tadi.
"Bagaimana keadaan Rian?"
"Sudah membaik, tidak ada luka yang serius. Kakinya yang terluka."
"Kau tau tidak Lang, ternyata Vaya dan Rian berpacaran loh." Ucap Maura begitu antusias, saat teringat sosok Vaya dan Rian.
"Hah.." Gilang terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya dan kini ia duduk.
"Iya Lang.. aku pun baru tahu hari ini."
Gilang kemudian berfikir, ia teringat dengan sesuatu, saat dirinya tengah kembali ke apartemen sekembalinya dari kuliah. Ia pernah melihat Vaya dan Rian berjalan bersama dan bergandengan tangan. Saat itu Gilang melupakan hal itu, tidak terlalu memikirkannya. Ia terlalu terburu-buru untuk segera kembali. Mengingat Maura berada di apartemen sendiri dan sedang sakit.
"Pantas saja."
"Maksudmu."
"Aku pernah melihat mereka bersama."
"Mereka menutupinya dengan baik. Tapi aku lega rasanya melihat Vaya bersama Rian. Rian pria baik dan Vaya juga sangat baik."
"Kau memuji pria lain di depanku."
"Hayolah Lang, kau masih saja cemburu." Ucap Maura kesal dan membuat Gilang tertawa akhirnya.
"Aku bercanda Ra, aku tau Rian pria yang baik, aku sudah mengenalnya cukup lama."
"Sekarang kau bilang baik, dulu kau kesal sekali padanya." Ucap Maura meledek Gilang dan terkekeh kemudian.
"Jelas aku kesal, dia mau merebut kamu dariku."
"Oh iya, tadi aku bertemu dengan Laras juga."
"Ngapain, dia mengganggumu?" Tanya Gilang dan terdengar begitu cemas.
"Enggak Lang, dia minta maaf padaku tadi."
"Jangan mempercayainya."
"Jangan gitu Lang, aku lihat dia serius meminta maaf."
"Terserah kamu saja kalau begitu." Ucap Gilang dan terdengar malas saat membahas Laras.
"Dia juga ingin meminta maaf padamu."
"Aku sibuk, katakan saja seperti itu."
"Lang.." Panggil Maura dan terdengar memohon.
"Sudahlah Ra, kita enggak usah bahas Laras saat ini. Aku lelah.. kamu juga cepat istirahat. Besok aku hubungi kamu kembali." Pinta Gilang dan mengakhiri pembicaraan dengan cepat.
Maura terdiam dan kemudian menghela napas panjang. Gilang masih belum bisa memaafkan Laras, begitu besar kekecewaan yang dirasakannya.
"Hem.. mungkin aku bisa mencoba lain hari." Ucap Maura sambil menatap langit-langit kamarnya.
Kembali menatap layar handphonenya. Dicari nama Gilang kembali, dikirim sebuah pesan untuk Gilang.
"Selamat tidur Lang, jangan lupa mimpiin aku " Ketik Maura dan tersenyum kemudian.
Mencoba menutup mata kemudian, mencoba terlelap dalam kesunyian. Hanya terdengar suara detik jam yang bergerak teratur malam itu. Terlelap dan akhirnya terlelap.
.
.
.
.
Vaya terdiam malam itu, dirinya terus saja teringat dengan kejadian siang tadi di rumah Rian.
"Yang kamu katakan tadi itu sungguhan kah?" Tanya Vaya pada Rian setelah mereka berhasil kembali ke kamar Rian.
Rian telah kembali ke tempat tidurnya. Ia menatap wajah Vaya yang duduk dekat tepat di sampingnya. Ia raih tangan Vaya dan menggenggamnya. Membuat jantung Vaya berdebar tak menentu.
"Menurutmu aku berbohong." Ucap Rian dan masih menatap Vaya begitu dalam.
"Kau lebih tau jawabanya dibanding aku." Ucap Vaya dan ikut menatap Rian begitu dalam.
"Aku menyukaimu Va, maaf aku telat menyadarinya dan membuatmu menunggu." Ucap Rian lagi dan berhasil membuat Vaya berdebar makin tak menentu.
Rasanya begitu bahagia siang tadi. Akhirnya apa yang diharapkannya terwujud, cintanya terbalas. Sampai malam ini pun Vaya masih terus merasakan kebahagian. Ia bahkan tersenyum sendiri jika mengingat itu semua.
.
.
.
.
yukk.. semangat,
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote/Gift, dan komen baiknya ya๐