
Mungkin masih tersisa sedikit keraguan di hatiku. Mungkin karena suatu kekecewaan dan kesedihan yang tak sengaja singgah. Aku bukan tidak mencintaimu, tapi aku sangat mencintaimu. Aku hanya perlu menyakini diriku, bahwa kamu memang tercipta untukku.
-Maura-
🌿🌿🌿
Rencana Maura untuk berbelanja hari ini tertunda. Maura dan Gilang sudah sampai di penginapan yang selama ini Maura tempati. Membuka satu kamar lagi untuk Gilang.
"Ini kamarmu." Tunjuk Maura pada sebuah pintu tepat di hadapan dirinya dan Gilang.
"Kamarku tepat di sebelah kamarmu." Lanjut Maura lagi.
"Kamu istirahat dulu, pasti lelah. Aku kembali ke kamarku." Lanjutnya dan hendak pergi meninggalkan Gilang.
"Temani aku." Gilang bersuara, sambil diraihnya pergelangan tangan Maura dan menahannya untuk pergi.
"Sebentar saja.." Bujuknya lagi.
Maura mengganguk akhirnya, ikut masuk ke dalam mengikuti langkah Gilang. Duduk kemudian di pinggir kasur sambil menatap kesibukan Gilang merapikan barang bawaanya.
"Bagaimana bisa kamu menemukanku Lang?"
"Aku tau dari foto yang kamu upload waktu itu. Nama kafe tak sengaja terfoto."
"Oh.. benarkah."
"Kenapa ekspresimu begitu, bukannya bagus jika kita bertemu." Ucap Gilang dan kali ini melangkah menuju Maura dan duduk tepat di sampingnya.
"Ya.. maaf. Aku hanya terkejut saja."
"Jangan pergi lagi ya.."
"Tergantung, sejauh mana kamu bisa mempertahankanku."
"Ehmm.. bagaimana kalau kita tunangan saja." Ucap Gilang lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur saat itu, menatap langit-langit dan kembali berkata.
"Kufikir, sebaiknya kita menikah saja."
"Hah.." Teriak Maura dan dengan cepat Gilang menarik tanganya sehingga Maura ikut terjatuh di kasur bersamanya. Saling menatap dan begitu dekat.
"Kamu tidak ingin menikah denganku?"
"Bukan tidak ingin, kurasa terlalu cepat." Jawab Maura ragu.
"Hemm.. sudahlah." Ucap Gilang dan kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk kemudian.
Maura menjadi bingung, Gilang tampak kecewa. Kini Maura ikut duduk kembali di sampingnya.
"Maaf Lang." Ucap Maura tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf? Sudahlah, aku ingin istirahat. Makasih sudah mau menemaniku."
"Yasudah, aku kembali ke kamar."
Kali ini Maura yang tampak kecewa mendengar perkataan Gilang, melangkah perlahan dan terkesan lambat.
"Ra.." Panggil Gilang dan membuat Maura membalikan tubuhnya dan sekarang menatap Gilang yang tengah melangkah menuju dirinya. Diraihnya tangan Maura, digenggamnya dengan erat, ditatap wajahnya begitu dekat.
"Aku serius dengan perkataanku tadi. Kita perlahan menuju ke arah sana ya. Karena itu tujuanku mencintaimu." Ucap Gilang dan membuat Maura tersenyum akhirnya.
.
.
.
.
Maura tampak menatap langit-langit kamar, tersenyum sendiri mengingat kata-kata Gilang tadi padanya, sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Gilang untuk beristirahat sejenak.
"Enggak romantis, masa ajak nikah kayak gitu." Protesnya tiba-tiba namun tersenyum akhirnya.
Ditempat lain, Gilangpun tampak melamun. Berbaring di kasur dan menatap kembali langit-langit kamarnya.
"Barusan aku melamar Maura." Ucapnya dan tampak terkejut sendiri.
"Truss dia menolaknya." Lanjutnya sambil menggaruk kepalanya walau sebenarnya tak ada rasa gatal yang dirasakannya.
"Tidak.. tidak.., dia tidak menolaknya, dia hanya perlu waktu. Aku terlalu terburu-buru yah seperti itu." Ucapnya menyakini dirinya sendiri.
Sama-sama melamunkan satu sama lain, tersenyum sendiri, dan mengingat kembali menit-menit sebelum mereka berpisah. Gilang mencium Maura dan Maurapun membalas ciuman itu.
.
.
.
.
Langit tampak gelap, bulan tampak bersinar terang. Hembusan udara terasa menyelimuti seluruh tubuh Maura. Deburan ombak terdengar begitu indah.
Saat ini dirinya sedang duduk disebuah resto tak jauh letaknya dengan pinggir pantai. Gilang tampak di hadapannya sekarang, memesankan makanan untuk mereka nikmati bersama.
"Kamu suka tempat ini?" Tanya Gilang setelah pesanan mereka telah selesai dipesan semua.
"Ya..bagus. Kamu pernah ke sini sebelumnya?"
"Hemm.. dulu."
"Bersama Laras?"
"Kamu jawab dulu."
"Tidak.. aku tidak pergi bersamanya"
"Lalu dengan siapa?"
"Sendiri."
"Kenapa sendiri?"
"Memangnya aku tidak boleh pergi sendiri?"
"Itu bukan sebuah jawaban." Jawab Maura dan terlihat cemberut.
"Hemm, aku sendiri Ra. Karena hari itu Laras memutuskan hubungannya denganku."
Hening sesaat, Maurapun menatap Gilang yang pandangannya menatap ke sembarang arah.
"Kamu punya aku sekarang, berjanjilah untuk sepenuhnya melupakan dia." Ucap Maura dan menyentuh punggung tangan Gilang.
"Ya, sekarang aku punya kamu."
"Tadinya ku berencana kembali besok."
"Batalkan." Jawab Gilang cepat.
"Cepat sekali kamu menjawab."
"Kita manfaatkan kebersamaan kita, tanpa Laras dan Rian."
"Kenapa Rian kamu bawa-bawa."
"Karena Rian menyukaimu Ra."
"Hah.. kamu bilang apa?"
Gilang terdiam, mendengar ucapannya sendiri. Rasanya dia terlalu bersemangat menjawab ucapan Maura padanya.
"Lupakan, aku tak bilang apapun."
"Jelas kamu mengatakan sesuatu tadi."
"Jelas kamu juga telah mendengarnya."
"Itu serius?" Tanya Maura sambil menatap Gilang, sedikit memajukan tubuhnya yang terhalang oleh meja diantara mereka.
"Yaa.. aku serius mencintaimu."
"Aku juga serius kalau soal itu."
"Soal apa?" Tanya Gilang mencoba menggoda Maura dengan senyum di wajahnya.
"Ihhh.. kamu pandai berkata-kata sekarang."
"Kamu serius soal apa?" Tanya Gilang lagi.
"Aku serius mencintaimu, puas kamu." Ucap Maura dan berhasil membuat Gilang tersenyum bahagia di wajahnya.
"Enggak ikhlas.. coba ulang." Goda Gilang lagi.
"Enggak mau." Jawab Maura cepat.
"Aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu.." Ucap Gilang berulang-ulang.
"Duhhh.. Lang, sudah hentikan..orang lain mendengarnya." Ucap Maura panik sambil menutup mulut Gilang dengan salah satu tangannya. Pandangannya menatap sekeliling.
Tiba-tiba, terdengar getaran handphone milik Gilang. Maura dan Gilang bersamaan mengubah pandangannya ke arah handphone yang sengaja diletakan Gilang di atas meja, tepat di hadapan Gilang.
Terdiam.. membaca sebuah nama yang tertulis pada layar handphone saat itu.
.
.
.
.
Siapa yang telephone, ishh ganggu saja😏
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.