
Sesuatu telah terjadi, dan aku tak mengerti. Kamu terlihat berbeda terhadapnya. Membuat hatiku bertanya..
-Vaya-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"Tidurlah." Pinta Gilang pada Maura dan kemudian mencium keningnya.
Maura dan Gilang telah sampai, sekarang tengah berdiri di depan pintu masuk apartemen kamar Maura. Berpamitan dan kemudian Gilang pun pergi meninggalkan Maura.
Dilepaskan jaketnya, disusul jam tangannya lalu terduduk di sofa saat itu. Matanya terpejam, kepalanya bersandar pada sofa. Gilang menghela nafasnya perlahan, melepaskan rasa lelah yang tengah datang menghampiri.
Tiba-tiba saja Gilang teringat dengan percakapan antara dirinya dengan Ayahnya Maura tadi. Rasa tegang begitu terasa saat itu.
"Maaf, jika ini terlalu cepat untuk saya sampaikan kepada om." Ucap Gilang tadi.
Tampak sekali wajah Gilang yang gugup, dengan menatap wajah Ayah Maura yang tampak tenang mendengarkan Gilang bersuara.
"Memang saya baru mengenal Maura beberapa bulan ini. Tapi saya sangat yakin, bahwa saya sangat menyayangi Maura."
Gilang mencoba memberanikan diri menatap Ayahnya Maura kemudian, mencoba berkata sejelas mungkin. Mencoba menyampaikan maksud hatinya selama ini.
"Saya ingin menikahi Maura, saya ingin membahagiakannya." Lanjut Gilang kembali dan kali ini Ayahnya Maura tersenyum.
"Kamu memang pria yang sangat berani, dan om lihat kamu sangat baik." Ucap Ayahnya Maura dan Gilang mencoba bersikap tenang, walah kedua tangan saling berpaut dan berkeringat menutupi kegugupannya.
"Om sebenarnya cemburu melihat kalian. Maura anak om satu-satunya. Pria pertama yang dikenalnya adalah ayahnya, pria yang pertama menyayanginya adalah ayahnya. Tapi sekarang sudah ada pria lain yang menyayanginya dan itu kamu Lang." Ucap Ayahnya dan masih tampak tersenyum saat bicara.
"Memang berat untuk melepaskan Maura ke pada pria lain. Tapi om percaya sama kamu. Tolong jangan kecewakan dia, jaga dia dengan baik." Lanjut Ayahnya Maura.
Gilang merasa lega saat itu, lega mendengar ucapan Ayahnya Maura padanya. Dia mempercayai dirinya untuk menjaga Maura sekarang.
Berat memang bagi seorang ayah untuk melepaskan anak perempuannya kepada pria lain. Tapi seorang ayah juga ingin melihat anaknya bahagia. Tidak egois, yang terbaik pasti datang menghampiri. Jodoh memang tak ada yang tahu. Keyakinan yang hadir saat ini. Keyakinan akan sosok Gilang adalah yang terbaik untuk Maura. Memang jelas dirasakan oleh Ayahnya sekarang.
Gilang kembali membuka matanya, ia duduk sambil menunduk kemudian. Teringat kembali ucapan Ayahnya Maura tadi.
"Saya tunggu kehadiran orang tuamu."
"Baik Om." Jawab Gilang cepat.
Itu adalah janji yang telah terucap tadi. Kembali berfikir, mengerutkan kening dan langsung meraih handphonenya kemudian. Gilang menghubungi seseorang. Menghubungi orang tuanya.
.
.
.
.
"Menikah..."
tiba-tiba saja kata itu terniang di pikiran Maura. Menatap langit-langit kamar sambil memeluk guling dengan kuat.
"Apa aku siap?" Tanyanya sendiri.
Maura memutar posisi tidurnya, jika tidak ke kanan ya ke kiri. Mencoba mencari posisi senyaman yang ia ingin dapatkan.
"Bagaimana dengan kuliahku?" Pikirnya lagi.
Kali ini Maura meraih bantalnya dan menutupi wajahnya.
"Kenapa aku jadi berfikir soal pernikahan. Aduh.. aku deg-deg kan." Ucapnya dan sedikit terdengar lebih kencang.
Drttttt..
Maura bangkit dari tidurnya dengan cepat, saat terdengar getaran suara dari handphonenya berasal. Ia mencoba meraihnya yang tergeletak tepat di atas meja kecil yang letaknya persis di samping kasurnya saat ini.
Gilang yang tengah menghubunginya disaat rasa bingung yang tengah menghampiri Maura.
"Kamu belum tidur, Ra?"
"Belum, makanya aku mengangkat teleponmu."
"Sedang memikirkan ku?"
"Kenapa kamu percaya diri sekali."
"Tapi memang benarkan?"Tanya Gilang lagi dan dia tampak puas saat ini.
"Aku memikirkan hal lain." Ucap Maura dan terlihat Gilang merasa kecewa mendengarnya.
"Kamu dilarang memikirkan orang lain, selain aku."
"Ih.. egois."
"Kamu dilarang memikirkan Rian." Ucap Gilang lagi dan tampak sekali suaranya begitu kesal.
"Kenapa sih, dipikiran kamu tuh selalu aku dan Rian." Maura ikut terpancing marah akhirnya.
"Ahh.. malam-malam kamu nyebelin." Ucap Maura lagi dan kemudian mematikan teleponenya.
Gilang sempat terdiam, menatap layar handphonenya, pembicaraan mereka terputus begitu saja. Mencoba menghubungi kembali. Namun Maura tak mau mengangkatnya.
"Ahhh.. kenapa aku jadi terpancing.. udah tau Gilang seperti itu." Gerutu Maura lagi.
Terdengar kembali handphonenya berbunyi, Maura membiarkannya. Tak lama setelah itu diterimanya sebuah pesan dari Gilang untuknya .
Dibukanya perlahan oleh Maura dan dibacanya perlahan. Tersenyum akhirnya.. dan menenangkan tidurnya malam ini.
Maaf... semoga kamu tak bosan mendengar kata ini. Aku tak bermaksud membuatmu marah. Aku percaya kamu mencintaiku. Aku sangat percaya.. jika aku cemburu itu karena aku sangat mencintaimu. Selamat malam, ku harap kamu tersenyum mengingatku, disaat kamu tertidur.
.
.
.
.
Siang telah tiba, Maura dan Vaya melangkah bersama menuruni anak tangga saat itu. Berbincang seputar kuliah mereka.
"Tugas hari ini banyak sekali." Protes Vaya kesal.
"Sabar..." Maura menanggapi.
Tanpa disadari ada sosok lain yang tengah memperhatikan mereka. Tampak tersenyum melihat Maura dan Vaya saat ini.
Maura dan Vaya berjalan terus, tanpa di sadari Maura salah melangkah saat itu. Membuat kakinya terkilir, meskipun tak sampai terjatuh.
Berteriak.. dengan Vaya membantu dirinya untuk tetap berdiri. Namun rasa sakit mengakhiri untuk dirinya bertahan berdiri, terduduk di salah satu anak tangga dan menatap kakinya perlahan.
"Maura." Panggil seorang pria dan dengan cepat ia menghampiri Maura dan Vaya.
"Rian." Panggil Maura.
Rian yang awalnya hanya menatap mereka dari kejauhan, akhirnya berlari menghampiri. Rasa khawatir begitu terasa saat itu. Walau sudah mencoba melepaskan sebuah rasa. Namun bukan berarti berhenti peduli pada Maura.
"Kenapa ceroboh sekali." Ucap Rian dan berhasil membuat Vaya dan Maura menatap Rian saat itu.
Vaya melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Rian, Rian bersikap tidak seperti biasanya pada Maura. Lebih terlihat santai seperti tak pernah terjadi apa pun diantara mereka.
"Kamu juga dulu seperti ini, kakimu terkilir. Hati-hati Ra, kamu sudah besar sekarang." Ucap Rian dengan tatapan dan tangan mengarah ke kakinya Maura.
"Kenapa kamu jadi cerewet sekali." Protes Maura akhirnya.
"Ini bukan cerewet, aku sedang menasihatimu. Supaya tidak terulang dikemudian hari." Ucap Rian dan kemudian mengacak-ngacak rambut Maura kemudian seperti yang pernah ia lakukan dulu.
"Ahhhh.. rambutku berantakan Rian." Kesal Maura sambil merapikan kembali rambutnya sendiri dan berhasil membuat Rian tersenyum menatapnya.
Melihat senyum Rian saat ini, hanya itu yang bisa Vaya saksikan sekarang. Apa yang telah terjadi diantara mereka. Maura dan Rian tampak akrab sekali saat ini. Namun entak kenapa suasana saat ini tampak berbeda, tidak seperti dulu.
"Ku lihat kakimu." Pinta Rian kemudian.
Tanpa disadari mereka, Gilang sudah hadir diantara mereka. Berdiri dan ikut berjongkok seperti halnya Rian.
"Biar aku saja yang lihat." Pinta Gilang dan berhasil menghentikan tindakan Rian.
Rian bangkit, hanya berdiri dan menatap. Tak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Ia sadar betul posisinya seperti apa.
Vaya pun ikut bangkit saat itu. Hanya menatap Maura, Gilang dan Rian.
"Ra.." Panggil Gilang dan tampak cemas akhirnya.
"Aku enggak apa-apa."
"Auuu..." Teriak Maura saat Gilang berhasil menyentuh kakinya itu.
"Kamu enggak baik-baik saja, ayo kita pulang." Pinta Gilang dan kemudian mengangkat tubuh Maura dan menggendongnya.
"Aduh Lang, turunin aku. Ini di kampus aku malu. " Pinta Maura dengan tangan yang sudah bergelantung di pundak Gilang karena takut terjatuh akan tindakan Gilang yang tiba-tiba saja.
Gilang tak menuruti pinta Maura, terus membawanya dan membuat Maura hanya menutup malu wajahnya tepat di dada Gilang. Meninggalkan Vaya dan Rian kembali bersama.
.
.
.
.
Mau digendong juga๐๐, tapi udah berat sekarang๐คญ๐
Semangat... semangat... semangat...๐ช๐ช๐ช
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐ (Alhamdulillah udah tamat)