Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Aku Mengkhawatirkanmu


Menyakitimu bukan maksudku, bukan tujuanku. Tolong beri aku waktu. Ku harap kamu masih mau menunggu.


Maaf..


-Gilang-


🌿🌿🌿


Maura melangkah keluar dari kelasnya. Betapa terkejutnya Maura saat melihat Gilang sudah berdiri bersandar pada dinding tepat di samping pintu masuk kelas ini berada.


"Gilang, kamu masih di sini?"


"Sudah selesaikan, yuk pulang." Ajak Gilang.


Gilang tak menjawab pertanyaan Maura, yang ada Gilang malah menarik tangan Maura dan membawanya pergi. Banyak pasang mata yang melihat akan aksi Gilang pada Maura. Namun Gilang tetap terlihat tenang dan pandangannya lurus ke depan, tak mempedulikan siapapun.


Maura tampak bingung dengan sikap Gilang, Gilang terlihat lembut mengajaknya. Apa yang terjadi padanya, mungkin ada kaitannya dengan Rian. Ya.. Rian orang yang terakhir bersama Gilang, itu yang Maura tau.


"Kita rapikan apartemenmu hari ini ya." Ucap Gilang tiba-tiba sambil tersenyum mengucapkannya.


Banyak pertanyaan yang muncul di benak Maura. Pagi tadi Gilang masih sangat kesal pada dirinya. Gara-gara Maura pergi tak bersamanya. Tiba-tiba sikap Gilang berubah, kekesalannya hilang begitu saja.


Gilang masih mencoba menata hatinya. Ada rasa ingin memiliki, ada rasa ingin selalu bersama, ada rasa ingin selalu membuat Maura bahagia. Namun kata-kata Rian padanya membuat dirinya berfikir ulang.


Gilang diam sepanjang jalan menuju apartemennya. Ia tak banyak bicara dan Maurapun ikut diam tak berani memulai pembicaraan.


Sampai akhirnya mereka tiba, Gilang membuka sebuah pintu tepat di sebelah kamar apartemennya.


"Kamu tinggal memasukan barang-barangmu. Maaf ini terlalu lama dari rencana awal." Ucap Gilang dan pintu di hadapan mereka terbuka dengan sempurna.


Maura diam, menatap takjub apa yang dilihatnya sekarang. Maura tak pernah berfikir, bahwa Gilang telah menyiapakan ini semua untuknya. Maura masuk perlahan dan menatap setiap sudut ruangan ini. Merah marun begitu mendominasi di ruangan ini.


"Apa yang kurang?" Tanya Gilang.


"Ini sudah sangat bagus, tapi.."


Mata Gilang membulat saat mendengar kata tapi dari mulut Maura.


"Tapi apa?"


"Kenapa kamu pilih merah marun?"


"Bukannya kamu suka warna merah marun?"


"Kapan aku bilang seperti itu?"


"Waktu kamu memilihkan dasi untukku."


Maura tertawa mendengarnya. Saat itu hanya beberapa warna yang ditunjukkan Gilang padanya, bukan berarti merah marun adalah warna kesukaannya.


"Kenapa kamu tertawa?" Ucap Gilang kesal.


"Hayolah Lang, waktu itu hanya tiga warna yang kamu tunjukkan. Bukan berarti merah marun warna kesukaanku." Ucap Maura dan tertawa kembali.


"Jadi kamu tidak suka merah marun? lalu kenapa kamu memilihkan aku dasi merah marun? kamu sengaja memilihkan warna yang buruk buatku?"


"Bukan seperti itu. Aku pilihkan merah marun, karena ku merasa kamu cocok dengan warna itu."


"Kalau kamu tidak menyukainya, aku akan ganti."


"Hei.. ini sudah sangat bagus, aku enggak bilang kalau aku enggak sukakan" Ucap Maura cepat.


"Jadi warna apa yang kamu suka?"


"Ehmm kurasa aku menyukai semua warna, tak ada yang terfavorit." Jawab Maura Ragu.


"Oke.. mulai sekarang warna favoritmu adalah merah marun." Ucap Gilang lagi dan tersenyum menatap Maura.


Gilang tersenyum, Maurapun ikut tersenyum. Gilang sepertinya sudah kembali seperti awal . Tidak seperti tadi hanya diam dan membuat Maura bingung menyikapinya.


.


.


.


.


Maura mulai merapikan barang-barangnya. Gilangpun ikut membantu. Tak terlalu banyak di apartemen Gilang. Hanya pakaian dan buku-buku. Barang-barangnya masih tertinggal di kostannya.


Ada rasa yang mengganjal dalam hati Gilang, rasanya ia ingin mendengar langsung dari mulut Maura, kenapa Maura harus berbohong padanya. Gilang merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya.


"Ra.. kenapa kamu berbohong tadi?"


"Berbohong soal apa?" Tanya Maura bingung.


"Kamu bilang, kamu berangkat lebih awal karena ada yang harus dikerjakan."


"Oh... itu memang benar.." Ucap Maura ragu.


"Tapi ternyata kamu bersama Rian."


"Hanya kebetulan."


"Kenapa kamu selalu bilang kebetulan."


"Lalu, aku harus bilang apa? kesalahan?"


"Kamu bilang kamu di perpustakaan, tapi ternyata kamu di kantin bersama Rian. Apa itu kebetulan?"


"Aku memang hendak ke perpustakaan tadi, tapi aku bertemu dengan Rian, dan dia mengajakku ke kantin. Kamu mulai deh menyebalkan." Gerutu Maura dengan jelas.


"Maaf.." Ucap Gilang.


Maura terdiam mendengar kata maaf dari Gilang. Apa yang terjadi dengan dirinya. Apa Gilang tersinggung dengan ucapan Maura, yang telah menuduh dirinya menyebalkan.


"Kamu boleh membenciku, tapi tolong jangan menghindariku." Ucap Gilang lagi dan bangkit dari duduknya.


Maura menghela nafasnya, berfikir apa yang telah terjadi pada Gilang. Sikapnya selalu berubah dengan cepat. Iapun bangkit dari duduknya dan ikut berdiri sekarang.


"Aku memang menghindarimu Lang, tapi aku tidak membencimu." Ucap Maura tiba-tiba.


Gilang yang tadinya hendak meninggalkan Maura, menghentikan langkahnya. Ternyata Maura benar sedang menghindarinya, apa karena Gilang telah menyakitinya, seperti yang dikatakan Rian padanya tadi.


"Kenapa kamu menghindariku?" Tanya Gilang lagi dan melangkah mendekati Maura.


"Itu karena.." Jawab Maura ragu dan Gilang masih menunggu jawabannya.


Maura tak bisa menutupi hal ini terus, ia harus bertanya pada Gilang. Iapun tak mau jika hal ini mengganggu fikirannya berhari-hari. Apapun jawaban dari Gilang, Maura merasa sudah siap untuk mendengarnya.


"Karena..?" Tanya Gilang mengulang ucapan Maura dan sekarang Gilang sudah berdiri di hadapan Maura dan sangat dekat.


"Ehmm.. itu karena kamu menciumku diam-diam semalam." Ucap Maura akhirnya dan menundukkan wajahnya kemudian.


"Ah.. kamu belum tidur semalam."


Gilang tampak terkejut akhirnya. Sikapnya semalam telah diketahui oleh Maura.


"Kenapa kamu pura-pura tidur?" Tanya Gilang mencari-cari alasan. Ia bingung harus bilang apa.


"Karena aku enggak nyangka, kamu cepat kembali. Aku fikir kamu sedang mengantar Laras."


"Aku enggak mengantarnya semalam."


"Kenapa?"


Gilang tak menjawab dengan cepat. Maura sangat penasaran dengan jawaban itu.


"Karena aku mengkhawatirkanmu Ra.."


Deg.. jantung Maura berdebar kencang. Jawaban Gilang membuat hatinya tersipu. Benarkah Gilang mengatakan itu.


.


.


.


.


.


episode berikutnya mohon bersabar😅


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak 😊


Mau ratenya juga ya kak😇


di Vote Alhamdulilah😁


dikasih hadiah juga boleh😊


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.