
Kita bertemu dengan cara yang salah, tapi jangan salahkan rasa cinta yang telah hadir. Biarkan aku tetap mencintaimu, walau kau tak mau membalasnya.
-Bian-
🌿🌿🌿
Sepanjang lorong rumah sakit, Gilang masih tetap menggenggam tangan Maura. Membawanya terus melangkah.
Hati Maura tengah bahagia. Kata-kata Gilang pada Laras tadi membuktikan akan cintanya. Sesekali Maura menatap wajah Gilang yang hanya diam menikmati langkahnya itu. Sampai akhirnya Maura terkejut saat Gilang berhenti melangkah.
Wajahnya menengok ke arah Maura tiba-tiba. Membuat Maura terkejut karena telah menatap Gilang dalam diam sejak tadi.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Jawab Maura dengan menatap ke sembarang arah.
"Kenapa harus diam-diam melihatku."
"Hah?" Ucap Maura terkejut dan kali ini berani menatap wajah Gilang.
"Kamu pasti sedang terpesona dengan wajah pacarmu ini."
"Hemm.. salah, aku hanya terpesona dengan kata-katamu tadi di depan Laras." Ucap Maura sambil menunduk.
"Itu memang yang harus ku katakan Ra. Memaksakan kehendak itu menyakitkan semuanya."
"Makasih ya Lang. Sejujurnya aku sempat ragu tadi."
"Ragu kenapa?"
"Siang tadi, aku bermimpi kamu kembali ke Laras." Ucap Maura jujur akhirnya.
"Kamu percaya dengan mimpi itu."
"Aku hanya takut."
"Sudahlah, itu hanya mimpi, lupakan itu, sekarang kita periksa kakimu." Ajaknya kemudian dan menarik perlahan tangan Maura lagi untuk melangkah kembali.
"Jadi ke dokternya?" Tanya Maura dengan menahan tarikan tangan Gilang saat itu.
"Ya jadi dong Ra."
"Ini sudah baikan Lang."
"Kamu bukan dokter, kita pastikan."
"Tapi.."
"Enggak nurut, aku gendong..."
"Oke aku nurut." Ucap Maura cepat dan mengalah akhirnya.
Gilang tersenyum, melihat kegugupan Maura. Gilang hanya ingin Maura baik-baik saja. Ingin Maura tidak merasakan sakit lagi di kakinya. Ingin segera membawa Maura menemui orang tuanya dalam keadaan baik.
.
.
.
.
Laras tengah menangis kembali, air matanya turun saat Gilang benar-benar pergi. Sosoknya sudah tidak lagi terlihat.
"Kenapa kamu harus menyuruh Gilang ke sini, Bi.. Kenapa?" Ucap Laras sedikit berteriak.
"Karena kamu ingin bertemu dengannya."
"Dia sudah sangat membenciku."
"Kenapa kamu tidak meminta maaf." Ucap Bian dan membuat Laras terdiam tidak berkata apapun.
Meminta maaf, Laras tak pernah berfikir akan hal itu. Ia hanya bersikap egois selama ini.
"Kamu memanggil nama Gilang berkali-kali dalam tidurmu Ra, makanya aku meminta Gilang menjenguk mu." Ucap Bian lagi dan terhenti saat handphonenya terdengar berbunyi.
"Istirahatlah, aku angkat telepon dulu." Lanjut Bian lagi dan dirinya melangkah pergi meninggalkan Laras sendiri.
Kembali termenung dengan sisa-sisa air mata di pipi. Wajahnya tampak basah, matanya tampak sembab. Pandangannya menatap arah luar dari balik jendela kamar rumah sakit yang sedang ia tempati.
Ada seseorang yang sangat peduli padanya. Laras tau betul siapa itu. Awalnya memang pernah menyukainya. Mungkin itu sebuah rasa yang salah. Rasa sesaat, rasa ingin mendapatkan kebahagian sementara.
Bian hadir, di saat dirinya terasa hampa akan Gilang yang kian sibuk akan kariernya. Mungkin bukan itu salah satu alasannya. Bian memang sengaja datang merusak hubungan itu dan berhasil saat itu.
Cinta Laras teruji, dia tak dapat menahan keegoisan pada dirinya. Berselingkuh.. jalan yang dipilih Laras akhirnya. Ia ingin merasakan cinta Bian, tapi ia tak mau melepaskan Gilang.
Namun tetap harus memilih akhirnya, dan ternyata pilihannya salah. Dirinya masih merindukan sosok Gilang. Menyesal dan itu yang dirasakannya hingga saat ini.
Penyesalan di keduanya, berharap kembali namun rasanya tak mungkin. Bian mencoba untuk tetap peduli, menghapus kesalahan yang pernah terjadi. Sedangkan Laras masih terperangkap akan keegoisan yang masih menyelimuti hatinya.
Pintu terbuka kembali setelah tertutup oleh Bian tadi. Bian masuk kembali dengan seorang suster bersamanya. Waktu untuk pemeriksaan kembali. Laras diam hanya mengamati proses yang tengah terjadi.
Tak memakan waktu lama, hanya tinggal Bian dan Laras kembali dalam ruangan itu.
"Aku ingin makan apel, Bi.." Ucap Laras dan berhasil membuat Bian terkejut dan menatap tak percaya.
"Bi.." Panggil Laras lagi.
"Ya sebentar, aku kupaskan." Ucap Bian cepat saat dirinya tersadar bahwa ini bukan mimpi.
Laras benar memintanya untuk mengupas apel untuk dirinya. Awalnya dia menolak, bahkan ia membuangnya. Entah apa yang terjadi saat dirinya keluar dari ruangan ini. Tiba-tiba saja Laras berucap seperti itu. Mengupas perlahan akhirnya, Bian sadar bahwa Laras tengah memperhatikan dirinya.
"Pulanglah setelah ini, Bi.." Ucap Laras dan berhasil menghentikan sesaat aksi Bian saat itu.
"Aku mau di sini." Ucap Bian dan melanjutkan dengan membuat potongan kecil apel untuk bisa dimakan oleh Laras.
"Kamu perlu istirahat."
"Aku bisa istirahat di sini."
"Aku tak bisa membalas kebaikanmu."
"Aku tahu itu, kamu tak perlu banyak berfikir. Makanlah ini." Ucap Bian lagi sambil menyerahkan salah satu potongan apel pada Laras.
Tangan Bian mengarah ke mulut Laras, Bian mencoba menyuapini Laras. Laras tidak menolaknya kali ini, namun matanya berkaca-kaca saat menatap Bian saat itu.
"Kamu lanjutkan, aku ingin ke toilet." Pamit Bian akhirnya.
Bian pergi meninggalkan Laras dengan cepat, rasanya ia ingin ikut menangis menatap Laras yang di hadapannya tadi.
"Aku akan pergi Ras, setelah ku yakin kamu baik-baik saja." Ucap Bian dalam hati disepanjang langkahnya meninggalkan Laras.
.
.
.
.
Langit sudah tampak begitu gelap, dari kejauhan Maura menatap indahnya kerlip bintang melalui sebuah jendela kamarnya berada.
Maura melangkah kemudian, menuju sebuah pintu kamar, dan pandangannya menatap sekeliling setelah ia berhasil membuka pintu kamar bercat coklat.
Senyum Maura tampak terukir jelas di wajah, saat dirinya menemukan sosok Gilang yang masih berada di apartemen ini.
Maura melangkah mendekat dan Gilang menyadari kedatangan Maura itu. Gilang bangkit dari duduknya segera, dan menghampiri Maura.
"Kamu tidak tidur Lang?"
"Kamu sendiri, kenapa terbangun?"
"Ehm... aku hanya haus." Ucap Maura dengan tangan Gilang yang sudah mendarat tepat di ujung kepala Maura dan mengusapnya perlahan.
"Tunggulah di sini, aku ambilkan." Pinta Gilang dan tersenyum saat itu.
Gilang melangkah pergi, meninggalkan Maura sendiri, duduk di sebuah sofa yang tadi di duduki oleh Gilang. Mata Maura menatap sekeliling, sebuah laptop tampak menyala. Secangkir teh dan masih tampak hangat tepat di atas meja saat itu.
Maura menatap ke arah lain, tepatnya disebelah kirinya berada. Sebuah foto tengah menarik perhatian Maura saat ini. Seseorang yang tengah bersama Gilang dalam foto itu. Tersenyum dan tampak bahagia.
.
.
.
.
Maaf ya🙏 maaf..maaf..maaf.., lagi buntu😓dan RL padat merayap😣. Semangat..semangat...untuk diriku🤭💪💪💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉 (Alhamdulillah udah tamat)
Cerpenku juga menunggu kehadiran kalian🤗🤗🤗, tinggal klik di PROFILKU