Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Belum saatnya


Seperti melihatmu, namun rasanya tak mungkin. Mungkin ini hanya sebuah kerinduan yang sudah menumpuk terlalu tinggi.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura sudah tiba, masuk ke dalam sebuah kafe secara perlahan, sapaan dari pelayan kafe yang terlihat ramah membuat Maura tersenyum untuk membalasnya.


Maura duduk di tempat yang sama, seperti malam tadi. Agak memojok dengan jendela besar di sampingnya. Entahlah.. Maura merasa nyaman duduk di sana, begitu menikmati kesibukan jalan dan sekitarnya, hanya itu hiburannya saat ini.


Pelayan yang sama seperti semalam datang menghampiri Maura, menawarkan makanan dan minuman untuknya.


"Mau pesan apa? Menu ya sama seperti semalam?" Tanyanya.


Maura terkejut mendengarnya, ternyata kehadirannya semalam disadari oleh pelayan wanita yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


"Ya.. ice chocolatenya satu." Jawab Maura dan ikut tersenyum saat melihat pelayan wanita itu tersenyum menatapnya.


"Ok, ada tambahan lagi?"


"Hemm.. spaghetti bolognaise saja."


Pelayan wanita itupun pergi setelah mencatat semua pesanan Maura. Maurapun kembali terdiam, sendiri. Menatap kembali kesibukan sekitarnya.


.


.


.


.


Vaya melangkah begitu cepat dengan handphone yang ia tempelkan dekat dengan telinganya. Ia sibuk menghubungi Gilang, yang belum juga mengabarinya sejak tadi.


"Ishh.. di mana dia." Gerutu Vaya sambil terus melangkah.


Perasaanya campur aduk, antara khawatir dan penasaran yang bercampur menjadi satu. Melangkah begitu cepat dan menekan berulang kali nomor Gilang pada layar handphonenya.


"Brukkk."


Tubuh vaya menabrak seseorang tanpa ia sadari. Ditatapnya orang yang ada di hadapannya. Seorang pria yang sangat dikenal olehnya.


"Sorry Rian." Ucap Vaya akhirnya dan berlalu pergi meninggalkan Rian begitu saja.


Rian terkejut melihat sikap Vaya saat ini. Ditariknya pergelangan tangan Vaya dengan cepat.


"Va.. kamu tau Maura di mana?" Tanya Rian langsung saat dirinya berhasil menghalangi Vaya pergi.


"Aku enggak tau."


"Kamu bohong."


"Terserah kamu saja." Jawab Vaya dan kembali melangkah pergi lagi.


Rian lagi dan lagi menghalanginya. Membuat Vaya menghentikan langkahnya segera.


"Aku tak bisa menghubunginya, akupun tak melihatnya beberapa hari ini di kampus."


"Hemm.. Maura lagi butuh ketenangan."


"Maksudmu?" Tanya Rian dan kali ini menatap tajam Vaya yang ada di hadapannya.


"Aku sedang sibuk, tak ada waktu untuk menjelaskan."


"Pasti Gilang sumber masalahnya. Di mana Gilang?"


"Aku enggak tau.. mereka pergi, dan engga ada satupun yang mengabariku." Ucap Vaya dan tampak kesal akhirnya.


"Kenapa kamu jadi marah-marah."


"Aku hanya kesal, sudah tanya jawabnya nanti lagi." Ucap Vaya dan kali ini benar-benar pergi meninggalkan Rian seorang diri.


Rian tak menghalanginya lagi. Rian terdiam dan berfikir, sesuatu telah terjadi antara Maura dan Gilang.


.


.


.


.


Gilang tiba di kafe yang ia tuju, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Seluruh sudut ruang tak luput dari perhatiannya, setiap pengunjung juga tak lepas dari pandangannya. Hanya ada beberapa orang yang hadir siang ini.


Gilang terdiam, rasanya harapan kecilnya tak membuatnya beruntung saat ini. Tiba-tiba seorang pelayan wanita menyapa dan tersenyum padanya. Menyadari kedatangan Gilang yang terlihat sekali sedang mencari seseorang.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.


"Oh.. maaf kamu pernah melihat wanita ini?" Tanya Gilang akhirnya sambil menunjuk foto Maura pada layar handphone milik Gilang.


"Oh.. kakak ini, dia sedang makan di sa.." Ucap pelayan wanita itu namun tertahan saat dirinya menatap kursi paling ujung di sudut ruang.


"Maaf, tadi kakak itu duduk di sana." Tunjuk pelayan itu.


"Oh.. sudah pergi lama?"


"Sepertinya belum lama, tadi saya hanya mengambil pesanan di belakang, mungkin 5-7 menit yang lalu"


"Oke, terima kasih. Tolong hubungi nomor ini jika melihatnya lagi." Pinta Gilang sambil menyerahkan sebuah kartu nama miliknya.


Setelah Gilang pergi melangkah keluar, pelayan wanita itu terkejut saat dirinya membalikan tubuhnya. Dilihatnya Maura sedang berjalan ke arahnya sekarang.


"Oh tidak." Ucapnya dengan tangan menutup sempurna mulutnya yang membentuk huruf O besar.


"Kakak masih di sini?" Tanya pelayan itu saat Maura sudah berdiri tepat di hadapannya sekarang.


"Iya.. kenapa?" Tanya Maura bingung.


"Ku kira kakak sudah pergi."


"Belum, tadi dari toilet." Ucap Maura dan bingung menatap pelayan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Ada yang mencari kakak barusan."


"Hemm.. mana ada yang mencariku." Ucap Maura dan tambah terlihat bingung.


Kedatangannya di kota ini, tak ada yang tau. Rasanya tidak mungkin sekali ada yang mencarinya.


"Beneran kak, barusan ada yang mencari kakak, seorang pria, gantengannya kelewatan."


"Hah.." Teriak Maura dan akhirnya tertawa mendengarnya.


"Itu kak.. orangnya, dia mau masuk taksi. Kejar ka." Tunjuknya.


Pandangan Maurapum akhirnya tertuju pada arah jari telunjuk pelayan wanita itu. Memang ada pria yang masuk ke dalam taksi saat ini. Namun wajahnya tidak terlihat.


"Aku tak mengenalnya, salah orang sepertinya."


Palayan itupun akhirnya pasrah, menerima ucapan Maura. Rasanya foto yang ditunjukkan pria tadi sangat mirip dengan Maura. Ya.. tidak mungkin salah.


"Aku pergi ya, terima kasih ice chocolatenya." Pamit Maura dan ikut melangkah keluar dari kafe.


Maura berdiri di pinggir jalan, mencari taksi untuk membawanya pergi. Maura tiba-tiba mengingat Gilang di sela-sela waktu ia menunggu.


"Punggung pria tadi, mirip sekali dengan Gilang." Bisiknya tiba-tiba, lalu dibuang jauh-jauh fikirannya itu.


"Ah.. fikir apa aku barusan, enggak mungkin Gilang di sini." Ucap Maura lagi sambil meyakininya sendiri.


.


.


.


.


Drttttttt...


Gilang menatap layar handphone miliknya. Nomor tak dikenal sedang menelephonenya saat ini. Ia tak mengangkatnya, membiarkannya berdering begitu saja. Berbunyi kembali untuk yang kedua kali. Kembali menatap layar handphonenya, tak sembarangan orang tau nomor handphone miliknya ini. Dia berfikir kembali dan sepertinya mengingat sesuatu.


"Jangan..jangan.." Teriak Gilang.


.


.


.


.


belum ketemu ya..👀, semangatt💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.