
Maura menatap sekelilingnya sekarang. Ada rasa yang membingungkan yang tengah dirasakannya. Entah kenapa Maura merasa banyak pasang mata memperhatikannya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sore itu, Gilang dan Maura tiba di sebuah gedung yang tampak kokoh berdiri di hadapan mereka. Lantai dasar gedung ini cukup luas. Jendela besar menutupi seluruh isi ruangan ini. Ada sebuah cafe tak jauh dari pintu lift berada.
Maura dan Gilang melangkah masuk ke dalam lift. Tiba di satu lantai dan menyusuri perlahan bersama. Banyak orang yang menyapanya dengan kagum dan tersenyum kemudian. Ada juga yang hanya terdiam menatap dari kejauhan dan tersenyum bahagia.
Gilangpun tak kalah dengan mereka dalam melebarkam senyumnya di hadapan orang-orang yang menyapanya. Tampan dan berkharisma. Sedangkan Maura tampak berfikir kembali, sepopuler itukah Gilang.
Maura terus mengikuti langkah Gilang sedangkan tatapannya terfokus pada orang-orang di sekelilingnya dan..
"Auu.." Teriak Maura.
Gilangpun tertawa kecil melihatnya. Yah Gilang sengaja menghentikan langkahnya, dan membuat Maura akhirnya menabrak dirinya.
"Kau pasti sengaja." Tuduh Maura sambil mengusap keningnya perlahan dan Gilang kembali tersenyum meledeknya.
"Apa masih jauh?" Tanya Maura akhirnya.
"Tidak, kita sudah sampai."
"Oh.."
Sebuah pintu terbuka, banyak sekali orang di dalam sana. Semua terlihat sibuk dan Maura terdiam melihat sekelilingnya sekarang.
"Hai Gilang." Ucap seorang pria yang menghampiri kami.
Pria itu terlihat ramah dan tersenyum manis saat melihat Gilang dan Maura. Wajahnya tak kalah tampan dengan Gilang, tubuhnya tinggi dan ideal. Namun Gilang menatapnya penuh dengan kebencian.
"Hai." Jawab Gilang datar.
"Siapa itu, kau tak ingin mengenalkannya padaku." Ucap pria itu dan tertawa kemudian.
"Kau tak perlu tahu. Dia bukan urusanmu." Jawab Gilang dan terlihat kesal.
"dan maaf, permisi." Pamit Gilang akhirnya dan tanpa disadari Gilang menarik tangan Maura begitu saja, menariknya untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapan mereka sekarang.
Maura terdiam, menatap apa yang menjadi perhatinya. Tangan Gilang melekat di jemarinya. Tangan itu terus menariknya dan membawa dirinya masuk lebih ke dalam.
Maura membiarkannya kali ini. Dia tak banyak berkomentar. Maura merasa hubungan Gilang dengan pria yang mereka temui, bukan hubungan yang baik. Ada rasa kebencian Gilang pada dirinya.
Pria itu tersenyum pada Maura, saat dirinya melintas tepat di hadapannya. Sedangkan Gilang hatinya berkecamuk, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Kau tunggu di sini, jangan melakukan apapun jika ku tak minta." Ucap Gilang kembali sambil menunjuk sebuah kursi yang ada di hadapan mereka sekarang.
"Itu membosankan." Protes Maura.
"Jangan membantah kali ini, Oke." Ancam Gilang dan Muara hanya diam dan menatapnya kesal.
Lima menit, sepuluh menit, dan sudah tiga puluh menit. Gilang melakukan persiapan. Mengganti pakaiannya dan merubah tampilannya menjadi begitu memukau.
Setiap orang yang hadir saat itu menatap kagum padanya. Tak terkeculi dengan Maura, dalam hati Maura mengakui bahwa Gilang memang pantas dikagumi banyak orang.
Sesi pemotretanpun dimulai, Gilang mulai menyuruh Maura melakukan banyak hal, dari sebatas mengambilkan minum, membantunya mengganti pakaian hingga mengambil sebuah tisu Gilang meminta bantuan Maura.
"Kau menyebalkan."
"Kau asistenku."
"Memangnya harus seperti ini."
"Cepat rapikan dasiku." Pinta Gilang terus dan tidak mempedulikan ucapan Maura, dan Maura selalu menggerutu saat melakukannya
"Bagaimana merapikan dasi ini." Rajuk Maura sambil memutar, membalik dan melakukan apapun pada dasi itu, tapi tetap saja tak membentuk hasil yang baik.
"Ahhh.. aku tak bisa.." Kesal Maura akhirnya dan menjatuhkan tanganya.
Gilang meraih kedua tangan Maura tersebut. Dia mengarahkannya pada dasi yang sedang ia kenakan.
"Kau harus belajar, dan mengingat caranya. Kedepannya kau yang harus melakukannya sendiri."
Tangan Gilang menggenggam tangan Maura kembali, Ia menggerakannya perlahan dan akhirnya terbentuk sebuah dasi yang melekat di kerah kemeja yang sedang di kenakan Gilang saat ini.
"Mudahkan." Ucapnya lagi dan membuat Maura terdiam menatap senyum Gilang.
Hatinya Muara mulai tersentuh dengan segala tindakan-tidankan Gilang yang tanpa ia duga. Namun Muara berusaha untuk tidak mengakui rasa itu.
"Aku akan mulai lagi, kau tunggulah di sini."
"Cepat kembali." Pintanya.
"Ya.." Jawab Maura dan berlalu pergi meninggalkan Gilang.
Maura terbebas, ia tertawa namun menahannya. Jangan sampai tingkah bodohnya terlihat oleh orang lain.
Perlahan mengusap dadanya, dan mengatur nafasnya.
"Aku tak sungguh ingin ke toilet, ke mana sebaiknya ku pergi." Bisik Maura dan berfikir.
"Ah.. Cafe, aku bisa kesana." Bisik Maura kembali saat teringat ada sebuah cafe di lantai dasar gedung ini.
Maura mengetahui keberadaan cafe itu tadi. Saat matanya sibuk memandang sekelilingnya. Sebuah cafe yang lebih banyak menyajikan minuman kopi.
Maura berfikir, Gilang tak akan mencarinya, jika dirinya menghilang sementara. Toh sesi pemotretan memakan waktu lama dan melelahkan.
"Ting.." Pintu lift terbuka.
Maura terhenti sejenak, saat melihat sosok pria yang membuat Gilang tampak kesal ada di dalam lift saat ini. Dia tersenyum dan menatap Maura. Maurapun melangkah masuk akhirnya.
"Kita bertemu lagi." Sapanya.
"Ya" Jawab Maura sambil menakan tombol lift menuju lantai dasar.
"Kau tak bersama Gilang?"
"Oh.. Gilang masih sibuk di dalam."
"Oh iya, kenalkan aku Bian."
Maura sempat terdiam menatap pria yang bersamanya sekarang. Pria itu menyodorkan tanganya hendak berkenalan dengan dirinya.
"Maura." Jawab Maura dan tak menyambut tangangnya. Maura mencoba tersenyum dan tetap bersikap ramah.
"Ting.." Pintu lift terbuka kembali. Maura tiba di lantai tempat di mana cafe itu berada. Bian ikut turun bersamanya dan melangkah mengikuti Maura.
"Kau mengikutiku?" Tuduh Maura sambil membalikan tubuhnya ke arah Bian dan malah membuat Bian tertawa mendengarnya.
"Aku hanya ingin ke cafe itu. Ku rasa hanya ini jalan menuju ke sana." Tunjuk Bian.
"Pasti kau ingin ke sana juga."
Maura terdiam kemudian, bagaimana Bian tahu bahwa dirinya akan ke sana.
"Kau diam, pasti benar dugaankukan. Kita satu tujuan, jadi kita bisa ke sana bersama."
Maura mentap pria yang ada di hadapannya kembali dan kemudian melangkah meninggalkannya. Ia tak mempedulikan kata-katanya dan Bian tetap mengikuti Maura.
Tujuan Maura ke sini adalah untuk menghindari Gilang. Namun dia malah bertemu dengan sosok Bian. Gilang tak menyukai pria ini, Maurapun berusaha menjaga jarak padanya.
.
.
.
.
So.. Bian siapa ya, kenapa Gilang harus membencinya. ๐
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak ๐
Mau ratenya juga ya kak๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos"
Terima kasih semua๐