
Diantara dua pilihan, mana yang harus ku pilih..
-Maura-
🌿🌿🌿
Mana mungkin Gilang yang ada di balik pintu sekarang. Gilang bisa masuk kapan saja tanpa harus membunyikan bel. Vaya.. ya Vaya yang ada di hadapan Maura saat ini. Tersenyum melihat Maura.
"Ternyata kamu Va."
"Kamu kira Gilang?" Jawab Vaya dan melangkah masuk ke dalam.
Maura menutup pintu itu dan menyusul mengikuti langkah Vaya menuju sofa. Mereka duduk bersama kemudian.
"Kenapa kamu bisa datang ke sini?"
"Gilang yang mintaku ke sini, memangnya ke mana sih Gilang?"
"Bersama Laras." Jawab Maura dan tertunduk saat mengatakannya.
"Hah.., Laras?"
"Ya.." Jawab Maura dan kemudian bangkit dari duduknya dan hendak pergi menuju dapur.
Rasanya air mata Maura ingin kembali lagi turun ke pipi saat menyebut nama Laras tadi. Namun Maura mencoba untuk menahannya.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Maura sebelum dirinya benar-benar pergi.
"Aku bisa ambil sendiri. Duduk sini." Pinta Vaya sambil menarik pergelangan tangan Maura dan mengajaknya duduk kembali.
Maura duduk kembali akhirnya. Wajahnya di tatap oleh Vaya, Maurapun mengalihkan pendangannya segera ke sembarang arah. Vaya sadar sesuatu buruk telah terjadi dengan sahabatnya ini.
"Kamu habis menangis Ra?" Tanya Vaya memastikan dan menggenggam tangan Maura.
"Enggak.." Jawab Maura bohong dan masih tak berani menatap Vaya.
"Gilang yang membuatmu seperti ini?" Tanya Vaya lagi. Kali ini Maura menunduk dan tanpa di sadari air matanya menetes.
"Ish.. dasar Gilang. Kok bisa aku mempunyai sepupu sebodoh dia." Kesal Vaya.
"Sepupu?" Ulang Maura dan sekarang menatap Vaya.
Vaya keceplosan, dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Vaya lupa , bahwa ia belum pernah menceritakan hubungan dirinya dengan Gilang adalah saudara sepupu.
Vaya merasa bersalah dengan Maura. Dia orang yang telah mempertemukan Maura dengan Gilang. Vaya berharap Gilang bisa melupakan Laras dengan kehadiran Maura. Gilang pria baik, Maurapun baik. Namun ternyata Maura malah tersakiti.
"Maafkan aku ya Ra, aku bohong soal ini."
"Sudahlah.."
"Sekarang kamu mau gimana? Menginap di tempatku saja ya. Aku yakin Gilang enggak akan kembali malam ini."
"Dia bilang dia akan kembali."
"Ra.. jangan jadi bodoh gini deh."
"Maafkan aku Va, aku memang bodoh, karena jatuh cinta dengannya." Ucap Maura dan kali ini tangisnya pecah.
Maura terisak dan Vayapun memeluknya Mengusap perlahan punggung Maura dan menenangkannya.
Maura seakan melepaskan seluruh kesedihannya saat itu. Kehadiran Vaya membuat Maura lebih tenang.
"Menangislah Ra.. menangislah, jika itu membuatmu lebih tenang." Bisik Vaya sambil mengusap lembut punggung Maura.
.
.
.
.
Bian datang, masuk dengan tergesa dan tiba-tiba langsung mendapat pukulan dari Gilang tepat di wajahnya. Bian meringis kesakitan dan membalas memukul wajah Gilang akhirnya.
Emosi Gilang begitu memuncak saat ini. Tatapannya tajam mengarah ke Bian.
"Lo.. kenapa sih Lang?" Tanya Bian yang begitu kesal menatap Gilang yang tiba-tiba saja memukulnya.
"Lo kemana aja? Laras butuh lo, tapi lo enggak ada saat dia butuh."
"Gua enggak tau, kalo bukan karena lo yang hubungin gua tadi. Gua juga enggak akan datang ke sini sekarang."
"Dia udah hubungin lo, sejak siang tadi."
"Laras enggak hubungin gua sama sekali. Terserah lo mau percaya atau enggak." Ucap Bian dan kemudian pergi menuju kamar Laras.
Gilang terdiam, masih dengan rasa sakit di wajahnya. Mengusapnya dan akhirnya merenung.
"Laras enggak mungkin bohong." Gumam Gilang.
Gilangpun melangkah kembali menuju kamar Laras, diintipnya Bian yang tengah duduk di samping Laras dan mengusap lembut kepala Laras. Gilangpun memutuskan untuk pergi akhirnya.
.
.
.
.
Setelah menangis cukup lama, Maurapun akhirnya tertidur kembali. Kali ini ia tak sendiri. Vaya masih menemaninya.
Diusapnya perlahan kepala sahabatnya itu. Ditatapnya Maura dengan lembut.
"Maafkan aku Ra.. maafkan aku." Bisik Vaya berulang kali.
Dengan cepat, pandangan Vayapun beralih ke sebuah pintu yang terbuka. Gilang tengah berdiri di sana. Ia tampak tersenyum menatap Vaya. Gilang merasa tenang Vaya sudah datang menemani Maura saat ini.
Vaya bangkit dari duduknya, melangkah lebih cepat menuju Gilang. Tangan Vaya mengangkat ke atas. Telapak tangan Vaya menyentuh pipi Gilang dengan keras, Vaya menamparnya. Senyum Gilang sirna dalam sekejap.
"Va.. Kenapa aku ditampar?" Ucap Gilang sambil menyentuh pipinya sendiri.
"Pantas untuk pria brengsek kayak kamu Lang." Ucap Vaya dengan kesal dan membalikkan tubuhnya dengan segera hendak meninggalkan Gilang dengan cepat.
Gilang meraih pergelangan tangan Vaya dengan cepat, membuat Vaya akhirnya terhenti melangkah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Gilang.
"Mulai hari ini, Maura berhenti jadi asistenmu lang."
"Apa, aku enggak setuju."
"Resignnya Maura, enggak perlu dapat persetujuan dari kamu."
"Hei.. dia bekerja denganku, aku berhak menolak."
"Egois.."
"Kamu kenapa sih Va?"
"Kamu nyakitin dia Lang. Kamu membuat Maura me.."
"Va.." Panggil Maura memotong ucapan Vaya saat Maura terbangun karena suara berisik yang ditimbulkan antara Vaya dan Gilang.
Vaya menghentikan ucapannya, sekarang benar-benar pergi melangkah meninggalkan Gilang dan menuju Maura dengan cepat.
"Kamu sudah bangun Ra, kita pergi sekarang ya." Pinta Vaya memohon.
"Aku enggak izinkan kamu resign." Gilang ikut berbicara.
"Resign." Ulang Maura dan tampak bingung lalu menatap Vaya akhirnya.
"Kamu resign ya jadi asistennya Gilang, aku carikan pekerjaan yang lebih baik dari ini." Bujuk Vaya terus.
"Aku enggak ngizinin." Gilang kembali bersuara dan tampak memohon sekarang.
Gilangpun melangkah lebih dekat ke Maura dan Vaya saat itu.
"Jangan pergi Ra." Pinta Gilang sekali lagi.
Entah apa yang terjadi saat Maura tertidur tadi. Maura menatap bergantian keduanya. Maura mencintai Gilang dan Maura menyayangi Vaya.
.
.
.
.
Tunggu jawaban Maura ya, Maura baru bangun tidur jadi perlu waktu. 😅
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Votenya juga ya, Supaya tambah semangat up nya.
💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.