Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Berubah


Rasa tak bisa berubah dengan cepat. Bersikap baik untuk yang kamu yang baik.


-Laras-


🌿🌿🌿


Maura tampak menunggu dan begitu antusias. Ini pertama kalinya Gilang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Gilang tampak lihai membuat sarapan pagi ini. Bahkan Gilang tak mengizinkan Maura membantu.


"Kamu duduk diam di sini." Pinta Gilang sambil menggeser kursi dan meminta Maura untuk duduk.


"Beneran aku enggak perlu bantu?"


"Enggak perlu, serahkan semua padaku." Ucap Gilang penuh dengan rasa percaya diri dan melangkah meninggalkan Maura.


Maura hanya berani menatap dari kejauhan akhirnya. Duduk manis layaknya sang putri kerajaan. Sesekali ia memanggil nama Gilang, menghilangkan kejenuhan.


"Masih lama Lang?" Teriak Maura.


"Tunggu sebentar lagi."


"Oke." Jawab Maura dan kemudian terdiam kembali untuk beberapa sesaat dan kemudian berteriak kembali.


"Kamu buat roti bakar rasa apa?"


"Coklat keju."


"Hmm.. oke."


Pandangan Maura berubah ke arah handphone miliknya. Handphone yang ia letakan di atas meja saat itu. Handphone itu bergetar, ada sebuah pesan masuk untuknya.


Maura membukanya lalu membacanya, sebuah pesan dari Rian untuknya.


Bagaimana keadaan kakimu?


Maura pun membalas pesan itu, menyampaikan bahwa kakinya kini sudah sangat baik. Tanpa disadari ada suara kursi tergeser, dan Gilang sudah duduk di hadapannya sekarang.


"Siapa?"


"Rian." Jawab Maura cepat.


"Dia bilang apa?"


"Nanya keadaan kakiku." Ucap Maura dan kemudian pandangan beralih ke sepiring roti yang telah tersaji di hadapannya.


"Waw.. lezat sepertinya."


"Cobalah." Pinta Gilang sambil menyerahkan potong kecil roti yang telah tersangkut pada sebuah garpu di tangannya.


Maura pun membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu dan menikmatinya.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Gilang dengan tatapan menunggu.


"Rasa roti." Jawab Maura dengan senyum candanya.


"Aku tau itu, aku serius nanya Ra."


"Enak Lang.. enak.."


"Itu saja?"


"Kamu mau jawaban seperti apa."


"Lebih rinci."


Dahi Maura mengerut, wajahnya tampak berfikir kemudian.


"Ehmm.. empuk, lembut, manisnya pas, kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, habiskan setelah ini kita pergi."


"Kemana?"


"Kita buat banyak foto bersama." Jawab Gilang dan tersenyum kembali menatap kebingungan Maura.


"Foto." Ulang Maura


"Iya, aku harus punya banyak foto bersamamu melebihi foto masa kecilmu bersama Rian."


"Ihhh... dasar kekanak-kanakan."


"Biarkan." Ucap Gilang dan kali ini tersenyum menatap Maura dan Maura pun membalas senyum itu.


Pagi itu, Gilang dan Maura sarapan bersama. Matahari tampak masuk dari jendela yang berada di samping mereka. Tidak terlalu cerah, namun rasa hangat menyelimuti keduanya.


"Bagaimana dengan kakimu?"


"Kakiku sudah sangat baik."


"Kamu siap?"


"Siap untuk apa?" Tanya Maura dan menghentikan makannya, menurunkan garpu di atas piring dengan beberapa potongan roti yang tersisa di sana.


"Aku ingin mengenalkan mu ke orang tuaku besok."


"Besok.." Ulang Maura


Mendengar rencana ini, membuat Maura tampak gugup. Ada rasa takut akan mengecewakan kelak, ada rasa takut akan penilaian mereka kelak. Namun menjadi diri sendiri, itu akan lebih baik.


Suatu saat ini pasti akan terjadi, akan dilalui, dan akan dialami. Sebuah hubungan memang harus menuju ke sana. Ketika sudah memilih dan memutuskan, saat itu juga kita harus siap menghadapi.


.


.


.


.


Bian melangkah masuk ke dalam, terlihat Laras dari kejauhan tengah berbaring saat ini. Bian melangkah menghampiri dan tersenyum saat menatap wajah Laras yang tampak tenang dalam tidurnya.


Laras menggerakkan tubuhnya, membuka matanya kemudian secara perlahan. Dilihatnya Bian yang tengah menatap dirinya dan ada sebuah senyum di sana. Ada rasa tak yakin dengan penglihatannya saat ini, tapi rasanya memang benar Bian tersenyum lalu membuang tatapannya dengan cepat saat menyadari Laras terbangun.


"Kamu sudah bangun?"


"Ya.."


"Pagi ini aku harus pergi, ada yang harus ku kerjakan."


"Pergilah, aku bisa sendiri." Ucap Laras dan tampak menenangkan Bian.


"Aku akan langsung ke sini, jika urusanku sudah selesai." Ucap Bian lagi dan Laras mengangguk.


"Oh iya, ini sarapanmu."


Bian pun mulai sibuk setelah mengatakan itu, membantu menyiapkan sarapan dan meletakkannya semua di hadapan Laras. Membuka perlahan plastik yang menutupi makanan yang disiapkan rumah sakit untuk Laras. Menyendok makanan itu kemudian dan memberikannya ke Laras. Laras pun sudah duduk bersandar pada kasur yang didudukinya.


"Aku bosan dengan makanan seperti ini." Ucap Laras tiba-tiba sambil menatap makanan yang sudah berada di hadapannya.


"Setelah sembuh, kamu bisa makan apapun."


"Ini enggak enak."


"Tapi kamu harus memakannya, buka mulutmu." Pinta Bian kemudian, dan Laras pun membuka mulutnya dan memakan makanan itu akhirnya.


"Kapan aku boleh pulang?"


"Lusa, jika kondisimu sudah sangat baik, mungkin kamu bisa pulang lebih cepat."


"Baguslah, jadi kamu juga bisa istirahat Bi."


Bian sempet terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Laras untuknya. Mungkin saat itu tiba, saat Laras sudah membaik. Bian pun harus melepaskan Laras segera.


"Bi..Bian." Panggil Laras dan menghapus lamunan Bian.


"Ya.." Ucap Bian dan tampak terkejut.


"Ada yang menghubungimu."


"Oh iya.. tunggu sebentar aku tinggal dulu." Ucap Bian dan meninggalkan Laras untuk beberapa sesat, lalu kembali lagi menemui Laras.


Laras tampak dari pandanganya, tengah menatap ke arah luar jendela, melihat kesibukan jalan. Hanya dengan kaos putih bergaris yang ia kenakan saat ini, rambut yang panjang bergelombang ia biarkan tergerai. Wajah putihnya walau masih sedikit pucat tak menghapus kecantikannya. Bian kembali terdiam dan tersenyum menatap itu semua. Mungkin pemandangan seperti ini, tak akan pernah dilihatnya lagi kelak.


"Kamu sudah kembali Bi.." Ucap Laras dan menghapus lamunan Bian lagi.


Laras menatap Bian saat itu dari kejauhan. Bian tampak diam dan hanya menatap dirinya. Bian pun melangkah kembali menghampiri Laras.


"Kamu sudah selesai makannya?"


"Ya.. aku sudah menghabiskannya." Jawab Laras mengangguk dan tersenyum.


"Ya sudah aku tinggal pergi ya, tadi Pak Dion yang telephone. Kamu tau sendiri dia seperti apa orangnya." Ucap Bian menjelaskan.


"Oke.., hati-hati Bi." Pinta Laras dan tersenyum lagi.


"Terima kasih." Ucap Bian dan tanpa diduga telapak tangannya menyentuh dan mengusap rambut Laras perlahan sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Laras.


Laras terdiam, sejujurnya saat ini ia berusaha untuk bersikap baik pada Bian. Ia berusaha untuk tetap tersenyum melihat Bian. Walau sejujurnya hatinya belum bisa sepenuhnya menerima Bian.


Pandangan Laras kembali ke arah jendela di sampingnya. Kali ini ia menatap langit. Terlukis wajah Bian dalam penglihatannya.


"Maafkan aku Bi." Bisiknya sendiri.


Sepanjang langkah, Bian berfikir. Laras tampak berbeda setelah pertemuannya dengan Gilang. Ia menjadi lebih penurut dan selalu tersenyum.


Mungkin memang Gilang yang telah mengubahnya, bukan dirinya.


.


.


.


.


Semangat..semangat...untuk diriku🤭💪💪💪


Jangan lupa jejaknyaaaaa... tekan tomobol like ya☺️