Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Gilang versus Nasi Goreng


Aku hanya seseorang yang tak sengaja masuk dalam kehidupanmu. Seharusnya aku tak berharap lebih.


-Maura-


🌿🌿🌿


Semua perlengkapan masak sudah disiapkan Gilang tadi. Bahan untuk membuat bumbupun sudah diletakkan di atas meja olehnya.


"Hemm.. Niat sekali Gilang ingin makan nasi goreng." Bisik Maura dalam hati.


Gilang sekarang duduk tak jauh dari posisi Maura. Ia sibukkan dirinya dengan handphone yang digenggamnya. Namun Sosok Maura tak luput dari pandangannya. Ia selalu menyempatkan diri untuk melihat Maura saat itu.


Sebenarnya Gilang ingin sekali menemaninya di sana. Sedikit membantu kesibukan Maura. Namun berusaha untuk tetap terlihat cuek. Dia tak mau menawarkan dirinya sendiri, kecuali Maura yang meminta.


Sesekali Gilang tertawa sedikit kencang, berharap Maura mendengarnya. Melihat keberadaan dirinya. Namun Maura tetap tak mempedulikannya. Maura terlalu asik dengan apa yang sedang dikerjakannya sekarang.


Merasa apapun yang dilakukannya tak menarik perhatian Maura, membuat Gilang menatap Maura dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dirinya dikalahkan dengan nasi goreng. Menengok sedikitpun tidak kearahnya, kesalnya Gilang saat itu.


"Enggak bisa begini terus." Ucap Gilang dalam hati.


Gilangpun akhirnya menurunkan sedikit sifat keras kepalanya. Dia bangkit dari duduknya. Mulai melangkah dan mendekati Maura.


"Ehemm..." Gilang mulai bersuara.


"Kenapa? Tanya Maura dan tetap cuek melihat kedatangan Gilang saat itu.


"Udah jadi?"


"Hah.. baru juga mulai." Ucap Maura tak percaya.


"Masih lama?"


"Ih.. nyebelin, makanya bantuin dong." Kesal Maura menatap Gilang.


Gilang tersenyum mendengarnya. Ini yang ditunggu-tunggu olehnya. Maura meminta tolong padanya. Kata-katanya berhasil membuat Maura mengucapkan itu.


"Bantu apa?" Tanya Gilang.


"Ehhmm.. kupasin bawang ya.., bisakan?" Tanya Maura memastikan.


Tanpa menunggu jawaban dari Gilang, Maura mulai meletakan beberapa bawang di hadapan Gilang. Ia menyerahkan sebuah pisau juga dan diletakkan di tangan kanan Gilang. Sekarang Gilang yang menatap bingung, dengan apa yang ada di hadapannya.


"Bisakan?" Tanya Maura lagi seakan mengodanya.


"Siapapun bisa melakukan ini." Jawab Gilang penuh percaya diri.


"Oke.. jangan lama-lama ya." Pesan Maura seakan sedang meledek Gilang saat itu.


Gilang mulai melakukan apa yang diminta Maura. Ia tak mau Maura meremehkannya. Ia mengambil satu bawang, dan perlahanan mengupasnya. Kulit bawang terbuka satu demi satu. Gilang berhasil mengupas satu bawang akhirnya.


Gilang mengambil lagi bawang berikutnya. Melakukan hal yang sama. Lanjut bawang berikutnya dan masih berhasil. Sampai akhirnya Gilang terlihat seperti menahan air matanya. Aroma pedas dari bawang mulai mengganggu indra penciuman dan penglihatannya.


Maura menatap Gilang saat itu. Maura menahan tawanya saat melihat Gilang mulai kesusahan dalam mengupas bawang.


"Ah.. " Teriak Gilang dan mengagetkan Maura.


Maura melihat Gilang lagi, Gilang sedang menutup matanya. Rasa perih seakan sedang dirasakannya.


"Eh.. enggak apa-apakan?" Tanya Maura mulai khawatir melihat Gilang.


"Mataku perih." Jawab Gilang dengan mata yang masih tertutup.


Maura melangkah mendekati Gilang. Ia tatap wajah Gilang, dari dagu, bibir, hidung hingga ke matanya. Maura terdiam sesaat, menatap sosok Gilang sekarang. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang.


"Apa yang sedang ku fikirkan?" Tanya Maura dalam hati.


Tiba-tiba Gilang mengangkat tangannya, jari-jarinya hampir menyentuh matanya. Maura buru-buru menghalanginya. Dia tau apa yang hendak Gilang ingin lakukan. Gilang ingin mengusap matanya sendiri. Tapi itu akan membuat matanya akan terasa lebih perih lagi.


"Jangan diusap." Teriak Maura.


"Cuci dulu tanganmu." Pinta Maura sambil membuka kran air saat itu.


Maura membantu Gilang mencuci tangannya. Dengan wajah yang masih tertutup Gilang tersenyum, ia merasakan sentuhan tangan dari Maura.


"Cuci mukamu juga." Pinta Maura lagi, dan Gilang menurut. Merasa sudah lebih baik dengan kedua matanya, Gilangpun membuka matanya perlahan. Sosok Maura sudah terlihat jelas sekarang.


"Sudah lebih baik?" Tanya Maura memastikan dan Gilang mengangguk dan menatapnya.


Maurapun pergi meninggalkan Gilang. Membalikan tubuhnya dan melangkah kembali menuju kesibukan awalnya. Ada rasa yang membuat Maura tak sanggup untuk berlama-lama bersama dan menatap Gilang. Tatapan Gilang membuat hatinya tak menentu. Maura berusaha untuk tidak memperhatikannya lebih lama.


"Maura.." Panggil Gilang dan mencoba meraih tangan Maura.


Dengan tangan yang saling berpaut, Gilang diam dan Maura diam. Maura menunggu Gilang mengatakan sesuatu yang membuat dia memanggil namanya. Sedangkan Gilang merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Mulutnya tiba-tiba tak sanggup mengucapkan apapun.


Maura mengerutkan dahinya, karena Gilang belum berkata apapun.


"Kenapa?" Tanya Maura akhirnya.


"Oh.. enggak apa-apa." Gengaman mereka akhirnya terlepas.


"Aku balik ke kamar, kamu teruskan saja memasaknya." Ucap Gilang akhirnya dan meninggalkan Maura saat itu.


Dalam diam Gilang termenung. Mengingat kembali kejadian yang tadi dirasakannya. Sosok Maura kembali terekam dalam fikiran Gilang saat itu.


Gilangpun memandang sekitarnya. Ia melihat kembali bingkai foto yang tergeletak di atas meja. Ia meraihnya dan menggenggamnya.


Ia tatap kembali foto yang ada di bingkai itu. Ia tersenyum dan mengusapnya.


"Ras..Sepertinya aku menyukai orang lain." Ucapnya.


Di tempat lain, Maura kembali sibuk dengan nasi goreng yang sedang dibuatnya. Tak berapa lama kemudian, nasi goreng itupun jadi. Maura mulai menyajikan nasi goreng itu dan meletakannya di atas piring. Ia tersenyum kemudian dan pergi hendak memanggil Gilang.


Maura melangkah mencari Gilang, ia terus mencari sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari Gilang di kamarnya. Hanya itu tempat tersisa yang belum dikunjungi Maura.


Dengan senyum yang masih melekat diwajahnya. Ia berusaha masuk dan memanggil nama Gilang, namun terhenti seketika. Maura mendengar suara Gilang dari balik pintu kamar.


Senyumnya hilang dalam sekejap. Kata Laras yang terucap oleh Gilang dan tak sengaja didengar oleh Maura, membuat Maura harus berfikir kembali dan menata hatinya dengan baik.


Maura memutuskan untuk tidak memangil Gilang dan kembali menuju nasi goreng yang dibuatnya. Terdiam, duduk dengan nasi goreng di hadapanya.


.


.


.


.


Semangat Maura💪💪💪


Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak 😊


Mau ratenya juga ya kak😇


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉