
Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu.
Setiap orang ada masa lalu. Tapi aku punya kamu di masa kini. Ku harap kamu menjadi masa depan ku
-Maura-
🌿🌿🌿
Angin kembali bertiup begitu menenangkan. Senyum bahkan tawa terukir di keduanya. Maura tak lepas dari senyum di wajahnya. Begitupun dengan Rian saat ini.
"Kamu masih suka menangis di pojokan."
"Enak saja, itu kamu." Protes Maura cepat dan tertawa akhirnya.
Rian masih menggerakkan ayunan yang saat ini sedang di duduki Maura. Berbincang bahkan tertawa akhirnya.
.
.
.
.
Sedangkan Gilang tampak tergesa. Mendengar kata Rian berada di dekat Maura saat ini, membuatnya berfikir bahwa Rian akan merebut Maura darinya. Diraih jaket dan langsung dikenakannya. Handphone dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja tak jauh dari posisi berdirinya saat ini, langsung di raihnya juga dan begitu cepat.
Gilang melangkah lebih cepat dari biasanya. Matanya tak lepas dari jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Setiap detik, menit, ia hitung sepanjang langkah.
"Aku harus cepat." Gumamnya.
Menyalakan mesin mobil dan melaju kemudian. Ada rasa takut tersendiri, takut akan kehilangan kembali.
"Mereka sedang apa?" Tanyanya sambil terus menatap jalan yang sedang dilalui.
Tak memakan waktu cukup lama, Gilang pun tiba. Melangkah kembali bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Dilirik kembali jam tangan yang tengah dikenakannya.
Sampai di depan sebuah pintu, Gilang mencoba menghubungi Maura. Mengabarkan keberadaannya saat ini. Namun Maura tak mengangkatnya, sudah lebih dari sekali. Maura masih tak mengangkatnya.
Diketuk akhirnya pintu yang ada di hadapannya sekarang. Berharap Maura ada di balik pintu saat ini. Mempersiapkan senyum sebaik yang dia bisa.
Terbuka sudah, sosok lain di sana. Bukan Maura.. senyumnya tak lagi sempurna. Mencoba menyapa dengan senyum yang terkesan dipaksa.
"Pagi Tante." Sapa Gilang pada sosok wanita yang dikenalnya sebagai ibunya Maura.
"Wah.. kamu sudah sampai Lang, yuk masuk."
Gilang masih tersenyum sepanjang langkahnya, mengikuti ibunya Maura saat itu. Di tatap sekelilingnya, namun tak ditemukan Maura di sekitarnya.
"Lagi ada tamu ya Tante?" Tanya Gilang meminta penjelasan.
"Oh.. iya, itu teman lama Tante."
"Oh.." Gilang mengangguk mendengarnya.
"Oh iya, Maura ada di taman belakang. dia sudah menunggu mu sejak tadi."
" Taman belakang." Ulang Gilang.
"Ya, dari sini kamu lurus saja. Maura ada di sana." Tunjuk Ibunya Maura pada sebuah pintu yang terbuka lebar tak jauh dari posisi berdirinya mereka.
Gilang memandang dari kejauhan, sosok Maura tak terlihat. Ada rasa ingin segera pergi menemuinya. Namun rasanya tak sopan jika harus melangkah langsung ke sana.
"Om.. pagi." Sapa Gilang saat sosok ayahnya Gilang sudah sangat dekat dengan dirinya saat ini dan Gilang pun tersenyum pada sosok wanita lain seumuran dengan ibunya Maura yang tengah duduk diantara mereka.
"Saya pamit, nyusul Maura ya Tante, Om." Pinta Gilang akhirnya.
Setelah berpamitan, Gilang melangkah kembali. Hatinya tak tenang. Pada saat ini yang ia tahu, Maura pasti sedang bersama dengan Rian. Apa saja yang sudah terjadi dengan mereka selama ini.
Melangkah terus, sampai akhirnya tiba tepat di depan pintu, memandang keluar dan mendapati sosok Maura yang tengah tertawa dengan Rian yang ikut tertawa bersama.
Hatinya bertanya, kebahagian terpancar jelas di antara mereka. Kakinya tak berhenti melangkah, mungkin lebih lambat sambil terus memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi diantara mereka
Merasa sudah cukup terlihat jelas, Gilang mulai bersuara. Memanggil nama Maura, dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
"Gilang, kamu sudah datang." Ucap Maura dan tampak terkejut sekali.
Rian yang menyadari kedatangan Gilang, terdiam dan menghentikan gerakan ayunan segera. Membuat Maura akhirnya melangkah ke arah Gilang dengan cepat.
"Aku menghubungimu." Ucap Gilang masih terus menatap Rian saat itu.
" Maaf, aku meninggalkan handphoneku di depan."
"Kamu tak membukakan pintu untukku."
"Maaf Lang, aku enggak tahu kalau kamu sudah datang."
"Ya.. kamu lupa."
"Lang.." Panggil Maura dan menyentuh wajah Gilang mengarahkan ke wajah Maura akhirnya.
"Aku minta maaf." Ucap Maura lagi dan mereka saling menatap sekarang.
Maura merasa ada yang salah saat ini. Diraihnya jemari Gilang dan digenggamnya kemudian. Rian yang tadinya hanya melihat, memutuskan untuk melangkah mendekati Maura dan Gilang akhirnya.
"Hai Lang." Sapa Rian dengan senyumnya.
"Kenapa kamu bisa di sini?"
"Rian dan ibunya sedang berkunjung. Ternyata Rian teman kecilku. Dulu ia tinggal di sebelah rumah ini " Jawab Maura menjelaskan.
"Owh.." Jawab Gilang singkat dan kembali menatap Rian.
"Kamu lama sekali, katanya sudah mau datang tadi." Protes Maura.
"Ya.. seharusnya memang aku harus lebih cepat."
Maura menarik tangan Gilang untuk mengajaknya. Tak lupa ia mengajak Rian juga yang masih bersama mereka.
"Aku ambilkan minum untuk kalian, tunggu di sini." Pinta Maura dan akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Tampak tenang, hanya suara angin yang terdengar. Pandangan mereka entah kemana. Rasanya aneh, yang biasanya berbincang bagaikan teman baik. Sekarang terkesan bagaikan musuh.
"Kamu sudah mengenalnya sejak dulu?" Tanya Gilang mulai bersuara.
"Ya. Aku juga baru tahu baru-baru ini." Jawab Rian menjelaskan.
"Oh.., bagaimana perasaanmu?"
"Maksudmu?" Tanya Rian dan kemudian menatap Gilang.
"Pasti kamu sekarang sangat senang. Ternyata Maura teman kecilmu. Dan kamu merasa punya kesempatan untuk mendekatinya."
"Tentu aku senang, dan pasti kamu khawatir saat ini." Ucap Rian dan kemudian ia tertawa.
Gilang tampak terlihat tak senang saat itu, emosinya sedikit terpancing. Ingin rasanya meraih Rian dan memukulnya. Namun ia menahannya, menahannya demi Maura dan keluarganya saat ini.
"Kamu tenang saja Lang, dulu ia memang milikku, tapi sekarang dia milikmu." Ucap Rian selanjutnya dan berhasil membuat Gilang terdiam.
"Tolong jaga dia, jangan lukai dia. Jika itu terjadi aku siap menggantikan posisimu." Ucap Rian lagi dengan senyum yang sengaja ditunjukkan ke Gilang.
"Aku tak akan biarkan itu terjadi."
"Ku pegang kata-katamu." Ucap Rian dan kemudian bangkit dari duduknya dan mencoba melangkah pergi meninggalkan Gilang saat itu.
Rian sudah berdiri, melangkah menuju sebuah pintu. Meninggalkan Gilang yang masih duduk saat itu.
Maura datang dan melihat Rian yang hendak pergi. Dengan dua buah gelas berisi minuman dingin dengan rasa jeruk di keduanya.
"Loh, kamu mau kemana Rian?" Tanya Maura saat mereka berpapasan.
"Aku ingin ke dalam."
"Ini minumanmu."
"Makasih ya Ra." Ucapnya dan kemudian meraih gelas itu.
Sebelum Rian benar-benar pergi, Rian mendekat ke arah Maura. Tubuhnya sedikit membungkuk dan kemudian berbisik.
"Gilang sedang cemburu, tenangkan dia." Bisiknya.
Terdiam mendengar ucapan Rian saat itu. Pandangan Maura pun beralih ke arah Gilang yang saat ini tengah menatap dirinya dengan Rian. Terlihat sekali wajahnya yang tak suka melihat kedekatan Rian dengan Maura tadi.
"Kamu masih ingat minuman kesukaanku." Ucap Rian dan sengaja dibuat terdengar jelas oleh Gilang, kemudian benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Rasanya ada yang salah, jantung Maura berdebar dengan rasa takut atas kecemburuan Gilang yang terlihat jelas saat ini. Maura melangkah perlahan mendekati Gilang. Diletakkannya minuman itu tepat di hadapan Gilang. Duduk kembali dengan ke dua tangan yang saling berpaut menunjukkan kegugupan yang tengah dirasakan Maura.
"Ehm... diminum Lang."
"Aku tidak suka jeruk."
"Oh.. Kamu mau apa?"
"Air putih saja."
"Enakan juga jeruk."
"Seleraku dengan Rian beda, tolong jangan disamakan."
Yang tadinya gugup, sekarang Maura malah tersenyum. Rasanya begitu lucu melihat Gilang yang saat ini cemburu pada Rian.
"Kenapa kamu malah tersenyum."
"Tidak apa-apa, hanya saja aku senang sekarang."
"Ya.. senang karena ketemu teman lamakan."
"Bukan itu."
"Lalu."
"Senang melihatmu cemburu." Ucap Maura dan menatap begitu dekat sosok Gilang sambil terus tersenyum.
"Kamu nakal." Ucap Gilang dan kali ini ikut tersenyum.
"Dia masa laluku Lang, kamu masa depanku." Ucap Maura dengan senyum keduanya.
Rasanya begitu tenang. Udara pagi menambahkan ketenangan di keduanya. Hanya duduk bersama, tersenyum satu sama lain. Memuji diantaranya. Memahami segalanya.
Maura senang melihat Gilang yang cemburu saat ini. Tapi bukan berarti Maura ingin membuat Gilang cemburu. Namun sikap Gilang membuktikan bahwa dirinya memang sangat mencintai Maura.
.
.
.
.
Mohon maaf lahir batin ya semua🙏. Yuk lanjut bacanya. Semangat untuk Author🤗🤭💪💪💪
Mohon dukungannya ya
Like, Favorite, Rate-nya yang banyak, Vote dan Giftnya.
Moga betah dan selalu setia menunggu up-nya.
Terima kasih ya, mampir juga yuk ke Cinta Pak Bos sudah TAMAT di sana🤗