
Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin melihat senyummu setiap saat, dengan caraku sendiri, tidak dengan melukai yang lain.
-Bian-
🌿🌿🌿
Maura bercermin menatap dirinya. Sebuah kemeja putih ia kenakan saat ini. Perona pipi dengan sentuhan tipis terlukis di wajahnya. Bibirnya tampak merah namun tak mencolok, dan harum vanilla jasmine terasa di tubuhnya.
Terlihat Gilang datang menghampiri, Ia tersenyum dan terlihat pada cermin yang Maura tatap saat ini. Melingkarkan tangannya dengan sempurna di pinggang Maura, meletakkan dagunya tepat di pundak Maura.
"Hemm.. harum." Ucap Gilang dan terdengar berbisik di telinga Maura.
"Kau sudah siap?" Tanya Gilang kemudian.
"Ya.." Jawab Maura dan mengubah pandanganya ke wajah Gilang yang berada di sampingnya begitu dekat.
Gilang merubah posisi tangannya dan kali ini meraih jemari Maura dan menggandengnya.
"Kita pergi sekarang." Ajaknya.
Mereka melangkah bersama, turun ke lantai dasar menuju mobil Gilang. Gilang membukakan pintu dan mempersilahkan Maura untuk masuk ke dalam. Disusul Gilang kemudian hingga saat ini mereka sudah berada di dalam mobil bersama.
"Ehmm.. Lang."
"Ya.." Ucap Gilang setelah selesai memasang sabuk pengaman miliknya.
Gilang langsung menatap Maura setelah Maura memanggil namanya. Tatapan Maura lurus ke depan tanpa melihat Gilang saat itu.
"Besok.." Ucap Maura dan terhenti kemudian.
Gilang yang menatap kegelisahan Maura, menyentuh punggung tangan Maura dan mengusapnya perlahan.
"Apa orang tuamu mau menerimaku?" Lanjut Maura dan membuat Gilang tersenyum.
"Mereka pasti menerimamu."
"Aku perlu bawa apa untuk mereka?"
"Enggak usah repot-repot Ra."
"Kurasa itu perlu Lang. Apa yang mamah papamu suka."
"Ehmm... cucu." Jawab Gilang sambil tersenyum dan berhasil membuat Maura terkejut terdiam mendengarnya.
"Aku serius Lang... kamu malah bercanda." Ucap Maura dan kali ini ia memasang wajah cemberut di hadapan Gilang.
"Memangnya kamu enggak mau memberikan mereka cucu."
"Ya mau, tapi kan itu nanti." Jawab Maura dan wajahnya memerah setelah mengatakannya.
"Cewek apa cowok?"
"Lang, kenapa pembahasannya jadi ke arah sana." Protes Maura lagi.
"Hahahah.. oke.. oke..untuk besok kita pikirkan sambil dijalan ya."
"Ya.." Jawab Maura menyetujui dan tersenyum akhirnya.
Gilang pun menyalakan mesin mobil kemudian, melakukan perjalanan akhirnya. Obrolan ringan pun terjadi disepanjang perjalanan mereka.
Kesibukan jalan sudah terasa pagi itu. Aktivitas warga kota sudah sangat terlihat jelas. Toko-toko sudah banyak yang buka. Para pedagang keliling pun sudah mulai sibuk menawarkan dagangannya.
Setelah melewati jalan yang padat untuk waktu yang cukup lama, akhirnya mereka melewati jalan yang cukup tenang. Kiri kanan jalan terlihat indah dengan banyak pohon besar yang berdiri kokoh di setiap sisi jalan. Banyak daun berjatuhan saat angin tertiup saat itu.
Maura sedikit membuka kaca mobil, menatap dengan jelas jalan yang dilalui. Menghirup udara pagi yang masih terasa sejuk.
"Kau suka?"
"Ya.."
"Sebentar lagi kita sampai." Ucap Gilang dan tampaknya Maura tak terlalu mendengarkan karena begitu asik menikmati perjalanannya.
.
.
.
.
Sekantung buah apel ada di genggaman Bian siang itu. Ia tampak bersemangat melangkah menuju kamar Laras. Sepanjang jalan ia tersenyum, membayangkan wajah Laras saat menatap kedatangan dirinya nanti.
Bian meraih gagang pintu dengan cepat, memanggil nama Laras kemudian. Senyum masih terukir di wajahnya saat itu sampai akhirnya lenyap saat menyadari bahwa Laras tak ada di penglihatannya.
Bian melangkah lebih cepat masuk ke dalam, mendekati ke arah kasur sambil memangil nama Laras berulang kali. Meletakan sekantung apel yang ia sengaja beli sebelum akhirnya ia sampai di rumah sakit tadi.
Langkahnya menuju ke toilet kemudian, mengetuk pintu toilet dan memanggil nama Laras kembali.
Hasilnya nihil, Bian tak menemukan Laras di manapun. Tampak khawatir dengan langkah bolak balik dan tangan yang menyentuh dahi dan berpikir.
Rasa panik hadir tiba-tiba. Bian pun melangkah keluar kamar, bertanya kemudian dan akhirnya memutuskan untuk menyusul Laras dengan cepat setelah salah satu petugas rumah sakit mengetahui keberadaan Laras.
Rasanya masih begitu terkejut saat melihat Laras tak ada di kamarnya. Laras hanya keluar kamar menghilangkan kejenuhan. Ada suster yang mengawasinya, namun sebelum bisa melihatnya, Bian masih merasa tak tenang.
Kini Bian sudah berada dimana Laras berada, di sebuah taman kecil yang berada di belakang rumah sakit ini. Matanya mulai mencari, kakinya mulai melangkah lagi. Beberapa menit kemudian terhenti, saat sudah mendapati apa yang dicari.
Senyum merekah menghapus kekhawatirannya. Bian tengah menatap Laras yang tengah duduk di sebuah kursi dan tersenyum saat itu.
"Aku mencarimu." Ucap Bian mengagetkan Laras saat dirinya sudah berhasil berada dekat dengan Laras.
"Bian.. kamu sudah kembali."
"Ya.. kenapa tak menungguku, jika mau ke sini."
"Aku bosan, kebetulan ada suster yang baik hati mau mengantarku ke sini." Ucap Laras dan tersenyum.
"Kenapa dengan wajahmu itu." Tanya Laras saat melihat wajah Bian yang tampak berbeda.
"Khawatir, ku kira kamu pergi." Jawab Bian jujur dan berhasil membuat Laras merubah ekspresinya.
Entahlah, apa yang dirasakan Bian saat ini, masih tak dapat diungkapkannya dengan jelas. Rasanya masih tak rela jika Laras harus pergi secepat itu tadi. Bian memang berencana melepaskan Laras, tapi itu nanti.. bukan saat ini. Bian merasa bahwa sekarang belum waktunya untuk menyatakan perpisahan.
Bian melangkah mendekati Laras dan ikut duduk di samping Laras. Tangannya menyentuh jemari Laras dan menggenggamnya.
"Kita kembali ke kamar ya."
"Bentar lagi ya Bi.. Aku masih mau liat mereka." Ucap Laras menunjuk pada sekelompok anak-anak yang tengah bermain bersama.
Bian yang mendengarnya, mengubah pandangannya ke arah yang ditunjuk Laras tadi. Laras tampak tersenyum melihat aksi mereka.
"Kasihan mereka Bi, masih terlalu kecil untuk merasakan sakit."
"Tapi mereka hebat, mereka tetap tersenyum dan bahagia." Ucap Bian dan berhasil merubah pandangan Laras pada dirinya.
"Aku juga ingin bahagia."
Sekarang Bian yang mengarahkan pandangannya ke arah Laras, menatapnya begitu dalam.
"Kamu akan bahagia, jika kamu melepaskannya."
"Benarkah." Ucap Laras lagi dan air mata mulai menggenang di matanya.
Bian meraih punggung Laras, mendorongnya hingga dipeluknya kemudian. Laras yang sejak awal begitu kuat, menangis juga saat itu. Ia terisak dalam pelukan Bian akhirnya.
"Aku juga ingin kamu bahagia." Bisik Bian sendiri.
.
.
.
.
Jangan lupa jempol kalian untuk LIKE..😘
Semangat, rajin up ya Thor 🤭😄💪💪💪
duh GCku masih erorr🤧🤧 huaaa curhat.
Promo yaa..
Mampir ke cerpen juga yuk, KLIK PROFILKu sok dipilih Cerpennya. Semua boleh dibaca Gratis🤭 Jejak like juga di sana ya☺️