Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Orang Ketiga


Saat mereka datang diantara kita, saat itu juga cinta kita mulai teruji.


Aku bersamanya, bukan berarti aku mengkhianatimu.


-Maura-


🌿🌿🌿


Getaran handphone terdengar saat itu. Maura menatap handphone miliknya, tertulis nama Gilang dan Maurapun tersenyum. Pandangannya sudah beralih sekarang, mengangkat panggillan itu dan mulai berbicara.


"Maura sayang." Ucap Gilang di sana dan berhasil membuat Muara malu mendengarnya.


"Kamu masih memanggilku seperti itu."


"Loh.. memangnya kenapa."


"Aku malu dengarnya." Jawab Maura jujur.


"Kamu harus terbiasa mendengarnya."


"Hemm.. terserah kamulah."


"Memangnya kamu enggak sayang sama aku."


"Hayolah.. masa kita berdebat masalah ini."


"Kamu yang memulai."


"Hemm.. jadi aku mesti gimana?"


"Biarakan aku mengucapkan sayang untukmu."


"Iya."


"Kamu juga."


"Semalamkan sudah."


"Aku mau mendengarnya lagi."


"Gilang, aku di kampus sekarang."


"Memangnya kenapa?"


"Nanti kalau ada yang dengar gimana?"


"Kamu bisa mengecilkan suaramu, tapi harus terdengar olehku."


"Hah.."


"Ra.." Panggil Gilang lagi.


Maura menghela nafasnya, perlahan terucap juga kata sayang untuk Gilang. Gilang tersipu akhirnya. Maura membuat dirinya begitu bahagia.


Beberapa detik kemudian, sebuah pintu terbuka. Seseorang telah hadir mengagetkan Gilang yang tengah duduk sendiri dalam sebuah ruangan. Gilang sedang beristirahat saat itu. Di sela-sela pekerjaan yang sedang menantinya.


"Upss.." Ucap Maura terkejut.


Sudah ada seseorang yang hadir di hadapan Maura juga saat itu. Yah.. Rian kembali hadir dan menatap Maura dengan senyum lalu ikut duduk tepat di hadapan Maura.


Maura dengan segera mematikan handphone miliknya. Maura terkejut dan terdiam kemudian.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Tanya Rian dan tampak bingung karena Maura terus menatapnya.


"Oh.. kamu sejak kapan datang?"


"Baru saja."


"Sungguh?"


"Ya.. kenapa?"


"Kamu mendengar apa yang ku ucapkan tadi?"


"Hemm..kurasa tidak."


"Oh.. syukurlah." Ucap Maura sambil mengusap lembut dadanya sendiri.


"Memangnya kamu bilang apa?"


"Tidak.. tidak.. tidak bilang apa-apa."


"Gilang yang meneleponmu?"


"Ya.."


"Dia tidak datang ke sini?" Maura menggeleng.


"Ada sesuatu yang harus dikerjakan." Jawab Maura menjelaskan.


"Hemm.. kamu ada waktu hari ini?"


"Ya.. Kurasa tak ada yang harus ku kerjakan hingga sore ini. Kenapa?"


"Mungkin kamu bisa bantu aku mencari buku yang menarik. Ku lihat kamu suka sekali membaca."


"Oke." Jawab Maura.


.


.


.


.


Ditempat lain, Gilang masih terkejut dengan seseorang yang menghampirinya saat ini. Orang itu Laras, Ia datang tersenyum dan makin mendekat ke arah Gilang.


"Laras." Panggil Gilang dan pada detik itu juga panggilan telepon ke Maura terputus.


"Hai Lang." Sapa Laras dan kemudian bersandar pada sebuah meja yang ada di hadapan Gilang saat itu.


"Kamu di sini?" Tanya Gilang.


"Ya.."


Laras ada di hadapannya sekarang, namun Gilang merasa ada sesuatu yang tak biasa saat ini.


"Kenapa kamu pergi begitu saja malam itu?" Tanya Laras memecahkan kesunyian antara mereka.


Laras menggangguk, wajahnya seakan tersenyum dan terlihat manis.


"Kamu sudah baikkan?" Tanya Gilang.


"Ya.. berkat kamu." Ucap Laras dan membuat Gilang terkejut mendengarnya.


"Kamu salah, semua itu berkat Bian."


"Hemm.. kurasa tidak. Bian pergi setelah kamu pergi."


Kali ini Gilang kembali terkejut. Gilang tampak kesal mendengarnya. Kenapa Bian bisa setega itu pada Laras.


"Kamu bilang apa?"


"Ah.. lupakan. Aku salah bicara." Ucap Laras cepat dan bergerak meninggalkan Gilang segera.


Gilang bangkit dari duduknya, meraih pergelangan tangan Laras dengan cepat. Menghentikan langkah Laras dengan segera. Tanpa sepengetahuan Gilang, Laras tersenyum saat Gilang mencoba menghalanginya pergi.


"Bian meninggalkanmu malam itu?" Tanya Gilang lagi dan sekarang Laras sudah berada di hadapannya dan begitu dekat.


"Aku tidak bilang seperti itu."


"Kamu bilang Bian pergi, itu artinya dia meninggalkanmu." Ucap Gilang dan terdengar kesal saat itu.


"Sudah lupakan, aku baik-baik saja."


"Enggak bisa gitu Ras, Bian perlu ku beri pelajaran."


"Aku tak apa Lang, sudahlah.. Ada satu hal yang harus dikerjakan olehnya malam itu."


"Dia bisa menundanya. Harusnya dia memilih menjagamu."


"Sudahlah.. lupakan itu. Yang penting aku baik-baik saja sekarang." Pinta Laras memohon dan tersenyum menatap Gilang.


.


.


.


.


Maura terdiam, sedangkan Rian tampak tersenyum saat itu. Maura sudah berada di dalam bioskop bersama Rian.


"Hemm.. kenapa aku jadi setuju pergi nonton bareng Rian." Bisik Maura sambil mengusap kepalanya sendiri berkali-kali.


"Kamu pusing Ra?" Tanya Rian.


"Oh.. tidak.. tidak.." Jawab Maura cepat.


Memang Rian mengajaknya pergi. Tapi bukan ini tujuan awalnya. Tiba-tiba saja Rian bilang, dia sudah membeli dua tiket nonton. Dia berencana untuk nonton bersama temannya. Namun temannya tiba-tiba membatalkannya.


"Siapa nama temanmu yang tidak bertanggung jawab itu?" Tanya Maura.


"Oh.. Rendi."


"Hah.. pria?" Tanya Maura memastikan.


"Ya.."


"Kalian mau menonton film romantis?" Tanya Maura lagi.


"Oh.. maksudnya Reni." Koreksi Rian dengan cepat.


Hampir saja Rian ketahuan, dia membuat banyak alasan untuk bisa bersama Maura saat itu.


"Pacarmu?" Tanya Maura lagi dan tersenyum saat itu.


"Bukan." Jawab Rian cepat.


"Cepat sekali kau jawab." Goda Maura pada Rian.


"Kenapa kau tersenyum."


"Enggak apa-apa."


"Dia bukan pacarku."


"Iya aku percaya." Jawab Maura dan tetap tersenyum saat itu.


Sore itu, tiba-tiba saja Rian menyentuh kepala Maura dan mengusapnya dengan lembut. Rian tersenyum menatapnya. Maura menjadi canggung akhirnya.


"Sudah mulai filmnya." Ucap Rian lagi sebelum akhirnya Maura terhanyut dalam setiap adegan yang terjadi pada film yang sedang mereka tonton saat itu.


Dalam diam, Rian selalu menyempatkan diri untuk melihat Maura. Sedangkan Maura tetap asik menikmati film yang sedang ia tonton saat ini.


.


.


.


.


Tenangkan hati kalian yang sudah membaca bab ini😅


Awas kau Laras😡


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Votenya juga ya, Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.