Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Salah Paham


Kesempatan memang tidak datang dua kali, tapi keberuntungan bisa datang berkali-kali.


-Maura-


🌿🌿🌿


Antara dua pilihan terima atau tidak. Ini sebuah kesempatan dan ini juga sebuah keputusan.


Bian, pria yang tengah menawarkan tumpangan pada Maura. Ia muncul di saat yang tepat. Saat Maura memang benar-benar membutuhkan tumpangan. Namun tawarannya pasti akan mendatangkan masalah pada dirinya nanti. Apalagi kalau Gilang tau akan hal itu.


"Ahhh.." Teriak Maura dalam hati.


Maura sadar betul, Gilang akan marah besar jika mengatahui kalau dirinya bertemu dengam Bian. Seperti saat di cafe beberapa hari yang lalu.


"Lupakan tawarannya." Bisik Maura sendiri.


Maurapun akhirnya tersenyum saat sebuah taksi terlihat dari pandangannya, dia melambaikan tangannya segera. Mencoba menghentikannya.


"Aku dapat taksi, terima kasih untuk tawarannya ya." Ucap Maura pada Bian.


Maurapun segera meninggalkan Bian. Masuk ke dalam taksi dan pergi menuju kampusnya.


Bian hanya bisa tersenyum, mendengar penolakan Maura dan berbisik kemudian.


"Menarik.."


.


.


.


.


Setibanya di kampus, handphone Maura bergetar kembali, Gilang menghubunginya lagi. Kali ini Maura mengangkatnya.


"Ra.. kenapa kamu berangkat duluan, kitakan bisa pergi bersama?" Ucap Gilang dengan cepat.


"Akukan sudah bilang, ada yang harus aku kerjakan pagi ini."


"Akukan bisa mengantarmu Ra.."


"Kamukan masih tidur."


"Kamu bisa bangunkan aku."


"Tapi.."


"Sudah.. sekarang kamu di mana, aku sedang dalam perjalanan ke kampus."


"Aku akan ke perpustakaan."


"Oke." Jawab Gilang dan langsung menutup teleponnya.


"Ish..nyebelin." Gerutu Maura sambil menatap handphonenya.


"Siapa yang nyebelin?"


Maura terkejut, ia langsung menatap sumber suara itu datang. Seorang pria sudah berdiri di sampingnya dan tersenyum padanya.


"Rian." Ucap Maura.


"Gilang yang membuatmu kesal?" Tanyanya.


"Ya.., siapa lagi kalau bukan Gilang." Jawab Maura cepat.


"Kita ke kantin saja yuk, kebetulan aku belum sarapan."


"Tapi aku mau.."


"Temani ya.." Ucap Rian memotong perkataan Maura dengan cepat.


"Baiklah.."


Maura akhirnya memutuskan untuk menyetujui permintaan Rian. Mereka melangkah bersama menuju kantin.


.


.


.


.


Gilang tiba di kampus, memakirkan mobilnya dan melangkah ke perpustakaan. Gilangpun mengedarkan pandangannya mencari sosok Maura. Setiap sudut tak luput dari pandangannya. Gilang mulai menyusuri setiap lorong rak buku yang berjajar lurus di hadapannya. Berharap Maura ada di sana.


Namun hasilnya nihil, Gilang tak menemukan Maura. Gilangpun kembali menghubungi Maura, sambil melangkah keluar dari perpustakaan.


"Kamu di mana?" Tanya Gilang dengan cepat.


"A..e.. kantin." Jawab Maura dengan hati-hati.


"Apa.., kamu bilang di perpustakan."


"Ya.. tadinya sih mau ke sana."


Rian yang melihat kebingungan Maura, langsung mengambil handphone Maura dan menggantikan Maura untuk berbicara dengan Gilang.


"Maura bersamaku Lang." Ucap Rian dan membuat Gilang terdiam mendengarnya.


Maura menatap Rian yang ada di hadapannnya. Melihat ekspresi Rian yang terkejut saat Gilang langsung memutuskan pembicaraan mereka.


"Gilang bilang apa?" Tanya Maura yang begitu penasaran.


"Ia enggak bilang apa-apa." Ucap Rian sambil menyerahkan kembali handphone milik Maura.


"Dimatikan?"


"Ya."


"Dia tuh suka sekali mematikan telepon tiba-tiba."


"Sudahlah.." Ucap Rian dan tangan Rian tiba-tiba menyentuh kepala Maura dan mengusapnya.


Rian tersenyum menatap Maura dan Maura hanya mampu menunduk tak berani membalas tatapannya.


"Ehm.. aku ke kelas ya, sudah mau masuk sebentar lagi." Ucap Maura dan langsung bangkit dari duduknya.


"Aku antar."


"O..ke.." Jawab Maura perlahan.


Maura dan Rian kembali melangkah bersama. Gilangpun melihat hal itu. Tatapan Gilang tajam ke arah Maura dan Rian yang sekarang tengah tertawa bersama.


Setelah dari perpustakaan, Gilang langsung menuju kantin. Walaupun Gilang merasa Maura sudah mengecewakaannya, tapi Gilang masih bersih keras untuk bisa menemukan Maura saat itu.


Sekarang Gilang sudah berdiri di hadapan Maura dan Rian. Kelas Maurapun hanya tinggal beberapa langkah. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam menatap. Sampai akhirnya, Gilang tiba-tiba menarik tangan Maura dan mencoba meninggalkan Rian begitu saja.


"Hei.." Teriak Maura.


"Lo menyakitinya Lang."


"Ini bukan urusan lo."


"Ini mejadi urusan gua, karena lo menyakitinya."


Gilang dan Rian saling memandang, wajah mereka tampak kesal. Tatapan keduanya sangat menakutkan buat Maura. Maura hanya mampu terdiam dan menatap keduanya.


"Huaaaaaa... aku terlambat..." Ucap Maura tiba-tiba dan mengagetkan Rian dan Gilang saat itu.


Tangan Maura akhirnya terlepas saat teriakannya tadi. Ia pergi secepat yang ia bisa. Meninggalkan ketegangan yang baru saja terjadi.


"Mereka kenapa bertengkar sih?" Gerutu Maura sendiri sepanjang jalan menuju kelasnya.


.


.


.


.


Gilang dan Rian akhinya diam, menahan emosi masing-masing. Mengela nafas dan mencoba berbicara dengan tenang satu sama lain.


"Lo suka sama Maura?" Tanya Gilang.


"Ya.. gua menyukainnya."


Ketakutan Gilang terjawab selama ini. Kejujuran Rian membuat hatinya tak menentu. Gilang memang tau kalau Rian bersikap sangat berbeda pada Maura. Gilang selalu menyangkal bahwa Rian menyukai Maura. Namun hari ini semua tampak jelas.


"Gimana dengan lo Lang, bukannya lo masih berharap bisa balik dengan Laras."


"Bukan urusan lo."


"Tinggalkan Maura, sikap lo yang kayak gini hanya membuat Maura menderita."


Rianpun segera pergi, setelah mengucapkan itu semua. Meninggalkan Gilang sendiri akhirnya. Kata-kata Rian membuat Gilang tak mampu berkata apapun. Hanya mampu berbisik...


"Aku telah menyakitinya..."


.


.


.


.


.


pas buat bab ini, sempet bingung diterima atau ditolak tawaran dari pria yang dibenci Gilang. wkwkw... galau authornya 😂, terima kasih untuk komen menariknya ya.


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak 😊


Mau ratenya juga ya kak😇


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.