Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Bergantunglah Padaku


Bergantunglah padaku, apapun itu. Aku ingin kamu tau, bahwa aku ada hanya untukmu.


-Gilang-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maura tersenyum sendiri saat mengingat sikap Gilang yang begitu kekanak-kanakan tadi.


"Ini buatmu Ra." Ucap Rian sambil menyerahkan sebuah potongan kue.


"Tidak.. tidak.. ini buat Vaya saja." Pinta Gilang dan kemudian menggeser kue itu ke hadapan Vaya.


"Oh.. thank you, aku yang pertama." Teriak Vaya dengan tawa yang terlihat memaksa, mencoba memecahkan ketegangan yang terjadi.


"Buat Maura, biar aku saja yang ambilkan." Pinta Gilang lagi.


Hati kecil Maura ingin tertawa melihat sikap Gilang tadi. Cemburunya terlihat begitu jelas. Entah kenapa Maura bahagia melihat itu semua.


Maura menarik nafas panjang, dan kemudian ia teringat dengan sesuatu, ada yang harus dibelinya malam ini.


Maurapun memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Sebuah dompet dan handphone tak lupa untuk dibawanya. Melangkah sendiri, turun ke lantai dasar apartemen, menuju minimarket di sisi luar apartemen ini berada. Cardigan berwarna coklat membalut tubuhnya dari rasa dingin malam yang menerpa. Angin begitu kuat berhembus, mungkin malam ini akan turun hujan, itu yang ada difikiran Maura saat ini, sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Tak memakan waktu lama, dirinya sudah tiba di depan sebuah minimarket. Membuka perlahan pintu yang ada dihadapannya, mencari sesuatu yang diperlukannya untuk menyambut tamu bulanannya.


Hem.. menatap sebuah rak besar dengan berbagai macam produk, menentukan lalu terhenti aksinya, saat getaran handphone dari saku celananya terdengar.


Gilang yang menghubunginya, Maura tersenyum membaca namanya.


"Ya.. Lang."


"Belum mau tidur kamu?" Tanya Gilang sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Belum." Jawab Maura.


"Kenapa?"


"Aku sedang di luar sekarang, ada yang ingin ku beli."


"Apa! di luar?" Teriak Gilang dan dengan cepat bangkit dari tidurnya.


"Ya.." Jawab Maura perlahan.


"Ngapain di luar malam-malam begini, kenapa enggak bilang."


"Ya.. karena aku hanya ke minimarket saja."


"Tetap harus bilang Ra, kemanapun kamu pergi."


"Ke toilet juga harus bilang kamu gitu."


"Ya.. daripada terkunci lagi."


"Ih.. kok doainya gitu."


"Sudah, tunggu aku di sana, jangan pergi kemanapun sebelum aku datang."


"Aku cuman sebentar kok, ini juga sudah mau balik."


"Tunggu aku Ra, menurutlah."


"Ya.." Jawab Maura akhirnya sebelum percakapan itu terhenti.


Gilang sudah bangkit dari duduknya, sekarang ia berdiri dan melangkah dengan cepat. Mengambil sebuah jaket dan langsung pergi menuju ke luar.


Maura tampak bingung, apa yang diperlukannya sudah didapat, dia hanya berkeliling tanpa tujuan, menunggu kedatangan Gilang.


Beberapa menit kemudian handphonenya kembali bergetar, Maura dengan cepat melangkah menuju pintu masuk minimarket ini. Benar dugaannya, Gilang sudah sampai dan sedang melangkah masuk sekarang.


"Nakal." Ucap Gilang dan berhasil membuat wajah Maura cemberut saat mereka sudah saling berhadapan satu sama lain.


"Apa sih yang kamu cari-cari malam begini?" Tanya Gilang.


"Ini." Jawab Maura sambil memperlihatkan isi keranjangnya.


"Kenapa enggak bilang, akukan bisa membelikan ini untukmu."


"Yakin, memangnya kamu enggak malu."


"Kenapa harus malu."


"Beneran ya, besok-besok kamu yang belikan."


"Iya, belinya sama kamu kan?"


"Ih.. sama aja aku yang beli itu mah." Ucap Maura dan membuat Gilang tersenyum mendengarnya.


"Masih ada yang mau dibeli lagi?"


"Tidak.. ini saja."


"Oke.. kita pulang ya." Ajak Gilang dan Maura mengangguk padanya.


Setelah membayar seluruh belanjaan, mereka melangkah ke luar minimarket. Gilang menggandeng tangan Maura, dan tangan satunya membawa kantong belanjaan.


"Apa kamu sebaik ini dulu dengan Laras, Lang?"


"Kamu seneng banget bahas Laras."


"Lalu bahas apa? bahas Rian?" Tanya Maura.


"Ya enggak gitu juga Ra."


"Lalu apa?"


"Kita bahas masa depan."


"Hah.." Ucap Maura terkejut dan terdengar pelan.


"Nanti kalau sudah menikah, mau punya anak berapa Ra?"


"Serius kamu nanya kayak gitu?"


"Memangnya aku terlihat bercanda."


"Ya.. seperti sedang bercanda.." Jawab Maura apa adanya.


"Yasudah kita pulang saja." Ucap Gilang lalu melangkah lebih dahulu meninggalkan Maura yang terkejut melihat sikap Gilang saat itu.


"Loh kok marah sih." Ucap Maura sambil meraih tangan Gilang dan menggandengnya sekarang.


"Siapa yang marah."


"Kamulah, ayolah Lang jangan seperti ini." Bujuk Maura sambil menggerak-gerakan tangan Gilang seakan berayun.


"Jawab dulu pertanyaanku yang tadi."


"Ehmm dua saja ya.." Jawab Maura dan tertunduk malu.


"Enggak mau lebih." Ucap Gilang dan kali ini berbisik di telinga Maura.


"Ih.. kamu mah, melahirkan katanya sakit Lang."


"Aku temani, saat hari itu tiba aku pasti temani." Ucap Gilang dan membuat Maura tersipu mendengarnya.


"Janji ya.." Ucap Maura sambil menyerahkan jari kelingkingnya ke hadapan Gilang.


"Ya.." Ucap Gilang dan kali ini jari mereka terpaut satu sama lain.


Malam itu menjadi saksi dari segalanya. Hanya sebuah pertanyaan yang terucap begitu saja namun bisa membahagiakan keduanya.


"Jadi kamu setuju, kalau anak kita nanti lebih dari dua?" Goda Gilang dan berhasil membuat Maura salah tingkah sendiri.


"Ih.. kamu, sudah dong bahas ini."


"Jawab dulu dong Ra, tanggung."


"Aku ikut kata suamiku nanti." Jawab Maura akhirnya.


Saling memandang satu sama lain, bergandeng tangan dan melangkah bersama lalu tersenyum bersama.


"Semoga saja, memang kamu yang jadi suamiku kelak." Bisik Maura sambil menatap Gilang.


Genggaman tangan Gilang makin terasa erat. Hangatnya begitu terasa. Kenyamanan sangat dirasakan keduanya. Hati yang berbunga menyelimuti keduanya malam itu.


"Aku akan menikahimu, yakinlah Ra." Bisik Gilang sambil menatap Maura dan tersenyum kembali.


.


.


.


.


Hemm manisnya mereka.. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


dikasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜Š


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š.