Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Terpuruk


Rasa sayang dan cinta memang tak mudah untuk cepat sirna, walau rasa kecewa hadir diantara mereka.


Kamu masih mengkhawatirkannya, walau hatimu tersakiti olehnya.


-Vaya-


🌿🌿🌿


Air mata itu jatuh, menetes berkali-kali, membasahi surat Maura untuk Gilang. Gilang menggenggam surat itu begitu erat, terlepit namun tak beraturan, seakan meremas surat itu dan menghancurkannya.


Beberapa detik kemudian, surat itu terlepas dari genggamannya. Gilang berteriak meluapkan emosinya.


"Maafkan aku.." Ucap Gilang berkali-kali dan terduduk kembali. Menyesali apa yang sudah terjadi.


Tubuhnya lelah, hatinya lelah. Hanya diam sepanjang malam. Menatap foto Maura, mengusapnya, mencoba menghilangkan kerinduan dan menangis kembali.


"Aku bodoh.. Sangat bodoh.." Tuduhnya pada dirinya sendiri.


Gilang kembali terpuruk karena cinta. Menangis kembali, mengingat isi surat Maura untuknya. Maura tersakiti karena cintanya. Mungkinkah ini akhir dari segalanya.


.


.


.


.


Malam telah berganti dengan pagi. Sinar matahari sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam apartemen Gilang. Semua tampak kacau. Apartemen yang selalu terlihat rapi, kina sangat berantakan.


Gilang masih terduduk di lantai, terdiam sepanjam malam. Dirinya terlihat berantakan. Pakaiannya, rambutnya..semua tampak kacau. Tiba-tiba suara bel apartemen berbunyi, memecahkan kesunyian yang terjadi.


Pandangan Gilang langsung ke arah datangnya suara itu. Ia bangkit dari duduknya, seakan berlari ke arah pintu. Berharap Maura yang ada di balik pintu sekarang.


"Mungkin itu Maura, ya.. dia kembali." Ucap Gilang seakan berharap begitu dalam.


Klek..


Terdiam kembali, harapannya sirna, bukan Maura yang di sana. Meneteskan lagi dan lagi air matanya. Menghapus dengan cepat air mata itu. Membalikan tubuhnya segera, melangkah pergi. Namun tertahan, pergelangan tangan seakan tertarik. Ya.. Vaya yang hadir sekarang, menahan langkah Gilang.


"Kamu kacau sekali." Ucap Vaya bingung.


"Kenapa kamu datang ke sini."


"Maura yang meminta ku ke sini."


"Maura.. Di mana dia?" Tanya Gilang dengan suara yang begitu keras saat mendengar nama Maura barusan. Ke dua bahu Vaya di pegangnya dengan kuat.


"Hah... mana ku tau." Jawab Vaya yang begitu terkejut dengan sikap Gilang padanya.


"Kamu bilang, Maura menyuruhmu ke sini. Berarti kamu tau dia di mana." Ucap Gilang dan kali ini mengoyangkan bahu Vaya berkali-kali.


"Hei... Kamu kenapa sih? Maura memang memintaku datang ke sini. Ku kira dia di sini." Ucap Vaya menjelaskan.


Gilangpun diam akhirnya, melepaskan tangannya dari ke dua bahu Vaya, melangkah kembali entah kemana arah tujuanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Vaya sambil menyusul langkah Gilang.


"Lang.." Teriak Vaya, karena Gilang tak menjawab apapun. Gilang tetap diam, melanjutkan langkahnya.


"Woiii... Lang." Teriak Vaya lagi dan lagi dan kali ini menghadang langkah Gilang.


Vaya terdiam, ditatapnya wajah Gilang yang ada di hadapannya. Wajahnya lesu, gumpalan air mata terlihat berkumpul di kedua matanya.


"Maura pergi Va, dia pergi.. Aku yang membuatnya pergi. Aku menyakitinya.. Dia pergi karena aku menyakitinya." Ucap Gilang dengan begitu emosional.


Vaya paham sekarang, kenapa Maura memintanya datang ke sini. Maura tau betul bahwa Gilang saat ini sedang kecewa dan terpuruk. Meminta dirinya untuk dapat menenangkan hati Gilang.


"Bagaimana dengan kamu Ra, ku harap kamu baik-baik saja." Bisik Vaya dalam hati.


.


.


.


.


"Terima kasih."


Gilang sekarang sudah terlihat membaik, kehadiran Vaya membuat dirinya lebih tenang sekarang. Beberapa jam Vaya menemani Gilang. Memahami apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka.


"Maura tak mengangkat panggilanku, pesanku pun tak di balas olehnya. Maura perlu waktu Lang, bersabarlah."


"Ya.." Jawab Gilang seadanya.


"Hemmm.. Kenapa kamu bodoh banget sih." Tuduh Vaya kesal akhirnya.


"Ya.., Aku memang bodoh."


"Hadeh.., aku coba bantu temukan Maura. Tapi janji satu hal, mulai detik ini. Jangan pernah mau untuk bertemu dengan Laras. Apapun itu alasannya."


"Aku hanya membantunya kemarin, ku fikir dia sakit."


"Tadi dia berbohongkan. Sudahlah enggak usah percaya sama omongannya lagi."


"Ya Va.."


"Hadeh..., mandi dulu sana. Rapikan diri dulu, enggak enak banget liatnya." Pinta Vaya akhirnya.


"Terima kasih Va, kamu sudah datang."


"Makasihnya sama Maura saja. Dia yang menyuruhku ke sini. Bersyukurlah, dia memang kecewa sama kamu Lang, tapi dia selalu peduli sama kamu."


"Yah.. Aku tahu."


"Sudah cepat sana.." Pinta Vaya lagi.


Melihat Gilang saat ini, membuat Vaya merasa kasihan. Rasanya ingin memarahi Gilang yang begitu bodoh. Namun dia sudah terlihat sangat menyesal saat ini. Vaya berfikir, Laras adalah masalah dari segalanya.


Vaya berfikir cukup keras, bagaimana dirinya dapat menemukan Maura. Nomornya saja tak dapat dihubungi hingga sekarang. Vaya merasa khawatir. Maura menghindar dari semua orang. Siapa yang membantunya sekarang. Membantu menenangkan hatinya. Vaya tau.. Maura pasti sedang terpuruk seperti halnya Gilang.


"Ku mohon, kamu baik-baik saja Ra." Bisik Vaya lagi.


.


.


.


.


Hayoloh Maura kemana..😅, semangat💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


.


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.