
Ting tong..
Pagi ini, disaat udara masih terasa sejuk. Maura datang ke apartemen Gilang, menuruti pintanya. Menekan berulang kali bel apartemen kamar Gilang. Namun tak ada tanda-tanda pintu di hadapannya akan terbuka dengan segera.
"Kemana Gilang?" Tanya Maura sedikit berbisik.
Maura kembali sibuk, kali ini ia mencari handphone miliknya. Mencoba menghubungi Gilang. Mencari namanya dan kemudian menekan panggilan. Itu yang bisa dilakukannya saat ini.
"Hallo.." Suara Gilang sedikit pelan.
"Kamu di mana? Aku sudah di depan pintu apartemenmu. Hayolah.. jangan - jangan kamu baru bangun." Ucap Maura sedikit kesal.
Klek..
Pintu itu terbuka akhirnya. Sosok Gilang tengah berdiri tegap di hadapan Maura. Kaos putih polos dan celana training putih menutupi tubuhnya. Sebuah handuk kecil melingkar di lehernya. Rambutnya basah, wajahnya terlihat segar dan... harum.
"Kau sedang lihat apa." Tanya Gilang.
"Ah.. aku lelah berdiri di depan." Ucap Maura dan langsung masuk begitu saja ke dalam apartemen Gilang. Gilang hanya bisa tersenyum melihat tingkah Maura saat ini.
"Apa yang harus ku lakukan pagi ini?" Tanya Maura.
"Buatkan aku sarapan." Jawabnya sambil melangkah dan kemudian duduk di sofa miliknya dan Maura tepat di sampingnya.
"Kenapa harus aku?"
"Karena kamu asistenku sekarang."
Maura berfikir, memangnya tugas asisten seperti ini. Atau Gilang memang sedang mencoba menyulitkannya.
"Ok, kau mau sarapan apa?"
"Kamu bisa buat apa?"
"Kita makan roti saja kalau begitu."
"Hah.."
"Kebetulan aku beli dua, satu buat kamu dan satu lagi buatku." Sambil dikeluarkanya roti yang tak sengaja dibeli Maura saat menuju ke apartemen gilang pagi ini.
Gilang diam tak percaya dengan apa yang dilakukan Maura padanya. Bagaimana bisa Maura berfikir untuk berbagi roti dengan dirinya.
"Kenapa kau diam, kau tidak mau." Ucap Maura tampak senang.
Gilang langsung meraih roti tersebut, yah ke dua roti milik Maura diraihnya. Ia mengambilnya dengan paksa.
"Hei.. kau kenapa?"
"Aku memintamu untuk membuat sarapan, kenapa kamu malah memberikanku roti."
"Ini juga sarapan." Ucapa Maura tak mau kalah.
"Aku tak mau."
"Kau terlalu pemilih."
"Biarkan."
"Menyebalkan."
"Siapa yang menyebalkan?" Tanya Gilang.
"Kamulah." Tunjuk Maura pada diri Gilang.
"Kamu yang menyebalkan."
"Kembalikan rotiku." Pinta Maura.
"Ini milikku sekarang."
"Hei..." Teriak Maura dan segera bangkit dari duduknya dan mencoba merebut kembali roti miliknya.
Maura terlalu tergesa - gesa meraihnya. Mengakibatkan tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Gilang. Sedangkan Gilang terlalu bersemangat untuk menghalangi Maura saat ini.
Jantung mereka berdetak kencang. Mereka saling menatap untuk beberapa detik. Tatapan itupun berakhir saat bel apartemen Gilang kembali berbunyi.
Maura segera bangkit, setelah menyadari ada sesuatu yang seharusnya tak terjadi antara mereka.
"Aku buka pintu dulu." Ucap Gilang dan bergegas bangkit dari posisinya sekarang.
Gilangpun tidak fokus dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Hanya karena sebuah roti, membuat dirinya merasa terlalu bersemangat. Jantungnya tak kalah cepat berdetak seperti milik Maura. Jantung mereka berpacu kencang saat tatapan mereka bertemu tadi
Gilang terus melangkah dan fikirannya terus mengingat kejadian tadi. Entah langkah kakinya yang terlalu cepat dan lebar, atau karena waktu yang terlalu cepat berganti. Gilang tak sadar bahwa dirinya sekarang sudah berada di depan pintu. Lamunannyapun hilang saat bel apartemen kembali mengeluarkan suaranya.
Klek..
Gilang membukannya dan mentapa sosok pria yang cukup ia kenal. Rian tengah berdiri dan tersenyum menatap Gilang. Masuk begitu saja tanpa menunggu pintu itu terbuka sempurna oleh Gilang.
"Maura." Panggil Rian saat menyadari ada sosok lain di dalam apartemen sahabatnya itu.
"Kamu di sini juga." Ucapnya lagi sambil melangkah menuju Maura yang tengah duduk di sofa yang ada di hadapannya.
"Ya." Jawab Maura dan tersenyum.
Gilang menyusul melangkah mendekati mereka. Melihat sosok Maura tersenyum melihat kedatangan Rian membuat Gilang sedikit kesal dengan Maura. Kenapa dia bisa tersenyum seperti itu padanya tapi pada dirinya tidak.
Mereka duduk bersama sekarang. Maura duduk di sofa yang lebih panjang ukurannya bersama Gilang. Sedangkan Rian duduk di sofa yang hanya cukup untuk satu orang dewasa yang berdiri kokoh tepat di sebelah sofa panjang tempat di mana Gilang dan Maura duduk bersama.
"Kau sudah sarapan." Tanya Rian pada Maura.
"Belum... rotiku direbut olehnya." Tunjuk Maura pada diri Gilang.
"Aku tidak merebutnya, kaukan yang memberikannya tadi."
"Aku hanya memberiakanmu satu. Kau malah mengambil semuanya." Protes Maura.
Maura dan Gilang kembali saling menatap, berargumen satu sama lain. Sedangkan Rian terdiam dan tersenyum menatap mereka sekarang.
"Kalian seperti anak kecil saja." Ucap Rian akhirnya.
"Siapa yang seperti anak kecil?" Protes Maura kembali.
"Sudah jelas itu kamu." Jawab Gilang.
"Sudah.. sudah.. mau sampai kapan kalian seperti ini."
"Sampai Gilang mengembalikan rotiku."
"Tidak.. ini sudah jadi milikku, kau sudah memberikannya tadi."
"Ihhhhh menyebalkan.." Teriak Maura di hadapan mereka berdua.
Gilang tertawa.. tapi ia menutupinya dengan sempurna. Wanita yang di hadapannya sangat menghibur menurutnya. Membuat Maura kesal membuat Gilang ingin terus melakukannya, bukan karena dia membencinya. Melainkan suatu hal yang Gilangpun tak paham apa ini.
"Biarkan Gilang memakan rotimu, aku bawa burger. Tadinya untuk Gilang, tapi melihat Gilang ingin rotimu, jadi Burger ini milik kamu." Ucap Rian menghibur Maura.
"Wah.. rezeki cewek sabar." Ucap Maura dan tersenyum pada Rian.
"Bagaiman bisa roti dibandingkan dengan burger." Protes Gilang.
"Hei.. aku sudah ikhlas roti itu buat kamu, jadi kamu harus bersyukur." Ucap Maura sambil menggenggam burger dan sengaja menunjukkannya di hadapan Gilang, sengaja dilakukannya untuk meledek Gilang.
Gara-gara roti, membuat mereka bertengkar, tapi pertengkaran itu meninggalkan kesal yang sulit diartikan oleh Gilang. Mungkin sejak hari itu, hubungan mereka mulai mendekat.
.
.
.
.
Semoga suka dengan kisah Maura dan Gilang ya. π
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
πͺπ
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak π
Mau ratenya juga ya kakπ
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos."