
Tolong.. jangan terlalu baik padaku. Aku takut salah mengartikannya.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sekarang hujan sudah benar-benar berhenti. Rasa bosan dan letih sudah sangat dirasakan Maura saat itu. Maura memeluk tubuhnya sendiri, saat hembusan angin tak sengaja masuk dan menerpa tubuhnya.
"Aku harus kembali." Ucapnya.
Maura bangkit dari duduknya dan kemudian terdiam. Ia melupakan sesuatu yang begitu penting malam itu.
"Ah.. bodoh, aku lupa membawa dompetku." Gerutu Maura sendiri.
Maura memasukan tangannya ke saku celananya saat itu. Berharap ia bisa menemukan beberapa lembar uang di dalam sana. Mungkin saja ada yang tertinggal. Namun tak ada uang sepeserpun di dalam sakunya.
Maura duduk kembali, apa yang mesti dilakukan dirinya sekarang. Karena keterkejutannya tadi membuat dirinya terburu-buru meninggalkan apartemen Gilang. Hanya handphone yang masih setia bersamanya.
Meminta tolong Vaya, rasanya tidak mungkin, ini sudah malam. Riankah.. tapi itu akan merepotkan dirinya. Hanya karena kebodohannya, membuatnya harus datang kesini. Tidak.. hanya Gilang yang bisa membantunya. Namun saat ini dia masih bersama Laras.
"Hayolah Maura, kamu hanya meminta bantuannya bukan mengganggu mereka." Bisiknya sendiri.
Maurapun akhirnya meraih handphonennya. Mencari nama Gilang dan terdiam untuk beberapa detik.
Gilang..
Hanya satu kata dan berhasil Maura kirim untuk Gilang. Maura tak berani meneleponnya, hanya bisa mengirim pesan. Itupun hanya menulis namamya saja. Namun beberapa detik kemudian Gilang menghubunginya.
Maura terkejut, ia hanya berani menatapnya. Ia tak mengangkatnya. Sampai akhirnya Gilang menghubunginya kembali. Kali ini Maura mengangkatnya.
"Ya.. Lang." Ucap Maura namun terasa gugup saat itu.
"Kamu di mana sekarang?"
"Aku.. aku.. di cafe, seberang apartemenmu Lang."
"Kenapa lama sekali? Di luar hujan Ra, udaranya sangat dingin, cepat kembali." Pintanya.
"Tapi Lang, aku enggak bisa kembali?"
"Kenapa?" Tanya Gilang cemas.
"Itu karena.. Aku belum membayar minumanku."
"Yasudah cepat bayar."
Gilang bingung dengan apa yang dikatakan Maura padanya. Kenapa Maura tak bisa kembali, hanya karena ia belum membayaranya. Hal semudah ini, kenapa membuatnya begitu cemas.
"Aku lupa membawa dompetku Lang, aku terburu-buru tadi dan ini semua gara-gara kamu." Ucap Maura dan tampak malu untuk mengatakan kebenaranya.
Gilang tersenyum mendengarnya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tadi terjawab sudah. Saat itu Laras tak sengaja melihat senyum Gilang, senyum untuk orang lain.
"Lang.." Panggil Maura kembali.
"Ya.."
"Kok kamu malah diam sih, tolong ambilkan dompetku Lang, aku meletakkannya di meja kamarmu. Cepat datang ke sini.. Aku sudah bosan di bawah. Kamu enggak ingin aku bermalam di sinikan?" Ucap Maura kesal dan memohon pada Gilang.
"Tunggulah.. jangan kemana-mana." Ucap Gilang mengakhiri pembicaraan.
"Ada-ada saja, sudah tau aku tak bisa pergi. Masih saja berpesan jangan kemana-mana." Gerutu Maura di hadapan Handphone miliknya.
Menunggu, menanti dan tersenyum akhirnya.
"Gilang masih mempedulikanku.." Gumam Maura dan tak sengaja senyum terukir di wajahnya.
.
.
.
.
Gilang sedang bersiap.. meraih jaketnya dan kemudian memakainya. Laraspun tak berhenti menatap kesibukan Gilang saat itu.
"Kamu mau kemana Lang?" Tanya Laras.
"Menjemput Maura."
Maura.. untuk kedua kalinya, Gilang meninggalkan Laras karena Maura. Apa yang sudah terjadi diantara mereka. Apakah benar hanya sebatas hubungan antara asisten dan bosnya.
"Kenapa dia enggak pulang sendiri saja, kenapa kamu harus menjemputnya?"
"Maura belum membayar minumannya, ia lupa membawa dompet" Jawab Gilang jujur.
"Oh.." Laraspun mengangguk mencoba memahami keadaan.
"Kamu mau ikut atau tunggu di sini?" Tanya Gilang pada Laras.
"Aku ikut kamu.. sekalian pulang saja."
"Oke.." Jawab Gilang dan segera melangkah pergi.
Gilang tampak tergesa-gesa. Beberapa kali ia melirik ke arah jam tangannya. Laraspun diam-diam memperhatikannya. Mereka tetap terdiam sampai akhirnya masuk ke dalam lift bersama.
"Kamu cemas Lang?" Tanya Laras akhirnya.
"Ya.. Maura baru saja baikkan. Dia sudah terlalu lama di luar. Pasti sangat dingin di luar sana."
Laras tercengang mendengarnya. Gilang mengungkapakan kecemasaanya pada Maura begitu saja.
"Kamu menyukainya?" Tanya Laras akhirnya.
"Aku hanya asal tanya, kenapa kamu jadi bengong gitu." Ucap Laras bersamaan dengan terbukanya pintu lift dan melangkah keluar terlebih dahulu.
.
.
.
.
Maura masih menanti Gilang, tiba-tiba ia menjadi cemas. Jangan-jangan Gilang tak jadi datang kemari. Jangan-jangan Laras melarangnya. Jangan-jangan Gilang lupa..
"Ahhh... kenapa aku jadi berfikiran buruk seperti ini." Kesalnya sendiri.
Namun itu tidak bertahan lama, saat sosok Gilang telah muncul dari kejauhan datang menghampirinya. Maura tersenyum lega.. kecemasaanya sirna. Namun ia menahan senyumnya itu, saat melihat Laras ikut datang bersama Gilang.
"Kenapa Laras di sini juga?" Tanya Maura sendiri sambil menatap kedatangan mereka yang kian mendekat. Merekapun akhirnya tiba di hadapan Maura. Maura mencoba tersenyum melihat Laras saat itu.
"Kamu ini, dompet saja enggak di bawa." Ucap Gilang seakan memarahi Maura.
"Akukan lupa, mana dompetku?"
"Aku enggak membawanya."
"Loh.. kok.."
"Aku bisa membayarnya untukmu. Tunggu di sini." Pintanya kemudian.
Maura merasa, jika dia harus menunggu di sini, akan membuat dirinya tak nyaman. Maura tak mau bersama Laras. Laras terlihat tak menyukai dirinya.
"Tapi Lang.."
"Sudah.. kita tunggu di sini saja." Ucap Laras memotong perkataan Maura dan kemudian menarik pergelangan tangan Maura saat itu. Gilangpun akhirnya pergi, meninggalkan Maura dan Laras.
"Kalian terlihat dekat sekali." Ucap Laras tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Kamu pasti sudah tau, kalau Gilang masih menyukaiku." Ucap Laras kembali.
Maura tersenyum kecut mendengarnya. Apa maksud dari perkataan Laras padanya. Untuk apa ia mengatakan itu.
"Oh.. benarkan, ku kira ia sudah melupankanmu." Jawab Maura dan membuat Laras terkejut mendengarnya.
Gilang kembali dengan cepat dan pembicaraan antara Maura dan Laras berakhir begitu saja.
"Kamu pulanglah dulu Ra, kamu sudah terlalu lama di luar." Ucap Gilang.
Ya.. "pulanglah dulu". Maura paham dengan maksud ucapannya. Gilang meminta Maura untuk meninggalkan mereka. Maura merasa bahwa dirinya sudah menjadi pengganggu.
"Oke.." Jawab Maura dan membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Tunggu.." Teriak Gilang dan berhasil meraih pergelangan tangan Maura.
"Apa lagi?"
"Pakailah ini." Ucap Gilang sambil melepaskan jaketnya sendiri lalu memakaikannya ke tubuh Maura.
Laras sekali lagi dibuat terkejut dengan tindakan Gilang pada Maura. Kenapa Gilang memakaikannya untuk Maura, bukan untuk dirinya? Kenapa Maura mendapatkan perhatian yang lebih dari Gilang? dan kenapa Gilang melakukannya tepat di depan dirinya?
Maurapun terkejut dengan tindakan Gilang padanya. Gilang memberikan jaketnya untuk Maura. Bahkan Ia memakaikannya.
"Kamu hati-hati."
"Ya.." Ucap Maura dan mengangguk kemudian.
Ada rasa yang aneh di hatinya. Maura tersentuh dengan tindakan Gilang padanya. Bahkan ia melakukan itu di depan Laras.
Maura tetap melangkah meninggalkan mereka. Aroma tubuh Gilang tercium jelas pada jaket yang diberikan Gilang padanya.
Mungkin Gilang akan pulang larut malam ini. Menghabiskan waktu bersama Laras.
"Terima kasih.. kamu masih mau peduli padaku. Ku harap, aku tak salah mengartikannya." Bisik Maura dan terus melangkah menyusuri malam.
.
.
.
.
Yuk yang belum bisa move on.., cepet move on.. ๐
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak ๐
Mau ratenya juga ya kak๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐