
Ketika ku memutuskan untuk memilihmu. Ku belajar untuk memahami, belajar untuk menerima.
Terima kasih kau hadir, di saat ragu itu datang dan selalu meyakiniku, bahwa cintamu memang tulus untukku.
-Maura-
🌿🌿🌿
Gilang terus menatap Maura, dirinya belum mulai bicara, sampai dirinya merasa yakin bahwa hanya tinggal dirinya dengan Maura saja saat itu.
"Ra.." Panggil Gilang akhirnya.
Maura hanya diam, beberapa detik ia menatap Gilang, beberapa detik kemudian ia menatap ke sembarang arah.
Gilangpun bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Maura akhirnya. Duduk tepat di sampingnya.
"Kamu kenapa malam-malam ke sini?"
"Kamu tidak menjawab telephoneku. Aku cemas Ra, Aku tahu kamu pasti marah saat ini." Ucap Gilang sambil meraih jari-jari Maura dan menggenggamnya sekarang.
"Maafkan aku ya." Ucap Gilang lagi dan Maura tak bersuara.
"Tolong percaya samaku Ra, bukan aku yang mengirim pesan itu."
"Aku tahu, pasti itu ulah Laras."
"Ya, Aku tak sengaja terlibat pekerjaan dengannya hari ini. Hanya itu saja, Aku sudah punya kamu sekarang, cukup kamu yang ku punya. Tolong percaya padaku."
"Aku percaya padamu Lang. Aku hanya kesal saja, makanya tak menggangkat telephonemu. Maaf." Ucap Maura lalu menunduk kemudian setelah kata maaf terucap.
Maura merasa bersalah saat itu, karena tidak mengangkat telepon Gilang, membuat Gilang harus datang di malam ini. Wajah Gilang tampak lelah sekali, rasa sesal mulai dirasakan Maura.
Sedangkan Gilang tersenyum mendengarnya, hatinya merasa tenang sekarang. Gilang mengusap lembut jemari Maura kemudian.
"Makasih Ra, Aku tenang sekarang, aku pamit ya."
"Hah.. secepat itu."
"Sudah malam Ra, aku enggak enak sama ayah dan ibu kamu."
"Kamu mau pulang ke apartemen? tapi itu jauh Lang. Kamu pasti sudah lelah banget hari ini."
"Aku cari penginapan dekat sini saja. Besok aku datang lagi."
"Maaf ya, sampai buat kamu datang ke sini." Ucap Maura dan disambut dengan senyum Gilang lagi.
Gilang mengusap rambut Maura kemudian. Kemudian berpamitan dan meminta maaf akan kedatangannya di malam hari.
Lelah.. tapi hatinya tenang sekarang. Hanya tersenyum di sepanjang malam yang dilalui.
Hubungan ini bukan hubungan yang baru, pernah merasa kehilangan, pernah merasa kecewa. Maura mencoba memahami Gilang, mencoba mengenal Gilang. Perlahan percaya bahwa memang Gilang mencintainya.
Setelah kedatangan Gilang yang begitu tiba-tiba, setelah kepergian Gilang yang begitu cepat. Menyisahkan kerinduan yang dirasakan Maura saat ini.
Matanya masih belum terpejam, menunggu kabar dari Gilang malam itu.
"Aku akan mengabarimu, jika sudah sampai." Ucap Gilang sebelum akhirnya mereka berpisah tadi.
Maura mencoba bertahan dengan rasa kantuk yang sudah menghampiri dirinya.
"Cuci muka.. cuci muka.." Ucap Maura sendiri lalu bangkit dari tidurnya dan pergi menuju kamar mandi akhirnya.
Termenung sendiri, lalu berlari dengan cepat saat handphonenya berbunyi.
"Ya.. Lang." Ucap Maura cepat.
"Sedang apa kamu?"
"Nungguin kamu." Jawab Maura jujur dan berhasil membuat Gilang tersipu.
"Aku sudah sampai ya.."
"Cepat istirahat..."
"Ya.."
".. dan cepat datang besok." Ucap Maura dan tampak malu akhirnya.
"Tunggu aku.." Jawab Gilang akhirnya.
Tak banyak yang mereka bicarakan malam itu. Namun cukup memberikan kesan yang dalam bagi keduanyan. Menyisahkan senyum satu sama lain.
Mencoba memejamkan mata, terbayang wajah Maura di fikiran Gilang, begitupun sebaliknya.
"Aku mencintaimu." Ucap Gilang dalam tidurnya.
Pagi telah tiba, matahari juga sudah mulai muncul perlahan. Suara handphone milik Maura berdering tiada henti. Membuat Maura akhirnya terbangun dan meraihnya segera.
Namun Maura tak langsung mengangkatnya. Ia mengusap matanya berkali-kali, melihat waktu yang tertera pada layar handphonenya. Terhenti lalu berbunyi kembali.
Kali ini Maura mengangkatnya, wajahnya cemberut tapi hatinya senang. Gilang yang menghubunginya.
"Ya.." Jawab Maura malas.
"Baru bangun?"
"Ya.." Jawab Maura dengan kata yang sama.
"Aku sudah bersiap ke tempatmu, cepatlah mandi."
"Ha.. sekarang." Ucap Maura terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya.
"Ya.. sayang. Aku menantimu yang membukakan pintu."
Pembicaraan itupun berakhir, Maura begitu terburu-buru setelahnya. Langsung melangkah ke kamar mandi dan bersiap kemudian.
Sedangkan Gilang tertawa sendiri, pagi-pagi sekali dia sudah berhasil membohongi Maura.
Menuruni anak tangga, tersenyum disetiap langkahnya. Menatap sekelilingnya. Dilihat ibunya yang tengah sibuk sekali. Membuat Maura berfikir dan ingin bertanya segera.
"Ra.. bantu ibu potong buah itu ya."
Maura menatap kearah yang ditunjuk ibunya, sebuah semangka besar dan sebuah melon sudah tergeletak di atas meja.
"Ada yang mau datang bu?" Tanya Maura menghilangkan rasa penasarannya.
Entah kenapa, Maura berfikir bahwa saat ini, ibunya mempersiapkan kedatangan Gilang. Tapi seharusnya tak sesibuk ini.
"Teman lama ibu, sudah lama sekali tidak bertemu. Hari ini dia mau datang ke sini."
"Oh... aku kenal?" Tanya Maura lagi.
"Mungkin iya, mungkin tidak."
Maura mengkerutkan keningnya, dirinya terus berfikir siapa yang datang nanti.
"Gilang juga akan datang bu nanti."
"Ya ibu tahu."
"Kok bisa?" Tanya Maura heran.
"Gilang yang bilang sama ibu."
"Kok bisa?"
"Ya bisa dong Ra."
"Gilang bicara apa saja sama ibu."
"Hemmm.. Rahasia." Ucap Ibunya dan tertawa kemudian.
"Iya deh.. yang udah punya rahasia."
"Kamu enggak cemburu sama ibukan Ra?"
"Mana ada." Jawab Maura dan melanjutkan memotong buah semangka yang sejak tadi sudah setia di hadapannya. Sedangkan sang ibu tampak bahagia menggoda Maura.
Hampir satu jam, mereka disibukan dengan menu makanan. Sekarang Maura tampak bimbang, kenapa Gilang bisa lama sekali datangnya.
Duduk dengan tatapan mengarah ke televisi, namun fikiran terbang menuju Gilang. Matanya selaku sibuk menatap jarum jam yang terus berputar.
Akhirnya yang di harapakan datang. Handphonenya berbunyi. Maura tak langsung mengangkatnya, melainkan ia berlari ke arah pintu saat itu.
Ayah dan ibunya, hanya tersenyum melihat aksi Maura saat itu dan saling menatap kemudian.
Hampir sampai depan pintu, hampir sampai meraih gagang pintu, hampir sampai membukannya. Maurapun mengangkat telepon itu.
"Aku tahu, kamu pasti sudah di depan." Tebak Maura cepat.
Terbukalah pintu itu, sebelum Gilang bersuara. Membuat senyum Maura yang tadinya merekah perlahan hilang.
"Hallo." Sapa seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Oh.."
"Ini pasti Maura." Tebaknya.
"Iya tante."
"Pasti kamu lupa sama tante."
"Sepertinya.." Jawab Maura dengan kening berkerut mencoba mengingat sosok wanita yang ada di hadapannya sekarang.
Ibunya Maurapun hadir diantara mereka. Menyambut kedatangannya.
"Ayo masuk dulu."
"Tunggu sebentar, aku bersama anakku." Jawabnya.
Terlihat sosok yang dikenali Maura saat ini. Seorang pria.., sempat ragu dengan apa yang dilihatnya sekarang. Namun makin mendekat pria itu, makin membuat yakin bahwa penglihatan Maura tidak salah.
Mohon maaf ya semua🙏mohon maaf atas segala kekurangannya.
Semangat terus Author💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉 (Alhamdulillah udah tamat)
Promo Novel baru boleh ya👉👈
"Sebatas Pacar Sewaan". Minta dukungannya di sana juga🙏. Terima kasih