
Rasanya hati ini lebih terasa tenang, saat kejujuran itu terungkap. Menyakitkan memang ketika cinta tak terbalas. Tapi aku bisa berbuat apa, memaksamu? Hemm.. Rasanya itu salah.
Sekarang aku mencoba menanti seseorang, seseorang yang benar-benar menjadi jodohku.
-Vaya-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Maura melangkah begitu cepat, beberapa kali ia menabrak orang yang melintas dekat dengan dirinya. Kata Maaf selalu terucap dan berlari kembali.
Gilang dan Rian sudah tampak terlihat di hadapannya saat ini. Ada Vaya juga di sana, mencoba memisahkan keduanya. Beberapa langkah lagi Maura akan sampai di hadapan mereka.
"Brukkk..."
Rian terjatuh, sebuah pukulan datang dari arah Gilang saat itu. Maura yang menatap itu semua mempercepat langkahnya, ia berteriak memanggil nama Gilang.
Gilang menyadari kehadiran Maura, menatapanya yang berlari ke arah dirinya. Wajahnya terlihat begitu cemas saat ini.
"Cukup Lang, cukup." Pinta Maura sedikit berteriak.
Rian bangkit dari jatuhnya, dengan Vaya mencoba membantunya. Namun saat semua belum siap berdiri, Gilang mencoba memukulnya kembali.
Maura mencoba menahan Gilang saat itu, memeluk Gilang begitu kuat, melingkarkan tangannya dengan kuat di pinggang Gilang.
"Cukup Lang, ku mohon." Pinta Maura dengan kepala menyandar pada bahu Gilang.
"Biar ku beri pelajaran pada dia."
"Enggak seperti ini Lang, ku mohon." Rengek Maura lagi.
"Lepaskan aku Ra."
"Enggak mau."
"Ra.."
"Ku mohon tenanglah."
Suasana menjadi hening, Gilang tampak menahan emosinya perlahan. Maura makin memeluk erat tubuh Gilang saat itu. Sedangkan Rian tampak meringis kesakitan, sambil menyentuh bibirnya yang terluka.
"Ayo kita pergi Rian." Bujuk Vaya sambil merangkul Rian saat itu.
"Tidak Va.."
"Rian kumohon, pergilah bersama Vaya." Ucap Maura ikut meminta.
Rian yang mendengarnya, mengurungkan niatnya untuk tetap bertahan. Ia pun perlahan bersama Vaya pergi meninggalkan Gilang dan Maura akhirnya.
Gilang mencoba bersikap tenang, mengatur nafasnya yang begitu memburu tadi. Dipejamkan kedua matanya, menenangkan hati dan kekesalannya. Maura masih bertahan, Gilangpun akhirnya menyentuh tangannya dan membawa Maura berada di hadapannya.
"Ku mohon jangan lakukan seperti tadi." Pinta Maura memelas.
"Aku kesal Ra, aku kesal.." Ucap Gilang dan akhirnya memeluk Maura dengan cepat.
Maura membalas pelukannya, mengusap pundaknya perlahan. Mencoba menenangkan hati satu sama lain.
.
.
.
.
Vaya tampak panik saat itu, entah kenapa melihat darah dari sudut bibir Rian, membuatnya sangat cemas.
"Au.." Teriak Rian saat Vaya mencoba membantu mengoleskan obat di sudut bibirnya.
"Pelan sedikit Va." Pinta Rian memohon pada Vaya.
Vaya diam, tetap mencoba membantu Rian. Rasanya air mata mulai berkerumun di kedua matanya. Mencoba untuk menahannya, namun akhirnya terjatuh perlahan. Dihapusnya, menetes lagi sambil tetap mengoleskan obat pada Rian.
Rian yang menyadarinya, langsung menahan tangan Vaya yang masih mencoba mengobatinya dan menggenggam pergelangan tangannya itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Rian.
"Enggak apa-apa." Jawab Vaya dan menghapus kembali air matanya itu.
"Va.."
"Ya.."
"Kenapa?" Tanya Rian lagi.
"Kenapa kamu bodoh sekali? Kenapa masih saja keras kepala? Ucap Vaya akhirnya dan mencoba menahan tangisnya lagi
"Gilang yang memulainya duluan, kamu lihat sendirikan tadi."
"Cobalah untuk melepaskan Maura, tak semua cinta menjadi milik kita." Ucap Vaya dan berhasil membuat dirinya menangis.
Tenanglah, aku tak apa. Maaf telah membuatmu khawatir." Ucap Rian menenangkan.
Untuk beberapa menit, hanya terdengar suara tangis Vaya, meluapkan perasaan yang selama ini ia pendam begitu lama.
"Aku bodoh.. kenapa aku bodoh seperti kamu." Ucap Vaya akhirnya dan membuat Rian berfikir.
"Maksudmu."
Vaya mencoba melepas pelukannya. Menatap wajah Rian yang begitu dekat dengannya. Masih tersisa air mata di pipi, walau perlahan ia hapus kembali.
"Ya.. aku bodoh, karena aku menyukaimu, padahal ku tahu perasaan kamu hanya untuk Maura." Ucap Vaya akhirnya dan berhasil membuat Rian terkejut.
"Kamu bercanda Va."
"Maafkan aku Rian, tadinya aku enggak mau mengungkapkan ini semua. Maaf, ternyata aku enggak sanggup.
Rian hanya diam, dirinya begitu terkejut mendengar pengakuan Vaya padanya. Ia tak pernah menyadari ini, entah sejak kapan Vaya mempunyai perasaan padanya.
"Tapi kamu tenang saja, aku enggak berharap kamu menyukai ku juga dan bolehkah aku meminta sesuatu padamu. Mungkin ini akan menjadi permintaan pertamaku dan terakhirku, setelah ini aku enggak akan meminta apapun darimu."
"Katakan." Ucap Rian dan berhasil membuat Vaya tersenyum.
Vaya mendekat, dengan wajah yang masih tersenyum menatap Rian saat itu. Makin mendekat, dengan ke dua tangannya menyentuh wajah Rian perlahan. Jantungnya bergetar, begitupun dengan Rian. Detak jantung mereka seakan berlomba satu sama lain
Vaya makin mendekatkan wajahnya ke wajah Rian, sudah tak ada jarak keduanya, menyentuh bibir Rian perlahan dengan bibirnya. Mencoba lebih dalam walau Rian tak membalasnya.
Rian tak melakukan apapun, menghentikannya pun tidak. Hatinya mulai bingung. Rasanya Vaya telah berhasil membuat jantung berdebar begitu kuat. Ada rasa ingin membalasnya, namun keegoisannya masih meracuninya saat itu.
"Tolong peluk aku lagi, sekali ini saja." Pinta Vaya dan menciumnya kembali.
Entah kenapa Rian menurut mendengar kata-kata Vaya, dan akhirnya memeluk Vaya sesuai pintanya. Kembali membiarkan Vaya mencium bibirnya dan kali ini hasrat Rian terpancing dan membalas ciuman Vaya akhirnya.
Beberapa detik kemudian, tersadar, mendorong tubuh Vaya mencoba menghentikan.
"Stop Va.." Pinta Rian dan mencoba mengusap keningnya menyadari kesalahan. Vayapun terdiam, lalu bangkit dari duduknya.
"Ya.. Maafkan aku." Ucap Vaya lagi.
"Aku yang harusnya minta maaf."
"Hemm.. sudahlah.. jadi diri kamu baik-baik. Aku pamit dulu."
Vaya mencoba meninggalkan Rian akhirnya, membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi perlahan.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" Tanya Rian dan berhasil menghentikan langkah Vaya.
"Entahlah, rasanya ia datang, tanpa ku sadari. dan terima kasih untuk hari ini." Ucap Vaya lagi dan melangkah lebih cepat meninggalkan Rian seorang diri akhirnya.
Vaya behenti melangkah untuk sesaat, saat dirinya sudah berhasil meninggalkan Rian. Menutup pintu dan bersandar kemudian. Ia mencoba menenangkan hati dan jantung yang masih berdetak begitu cepat.
"Kenapa aku bisa melakukan itu pada Rian." Bisiknya.
Sedangkan Rian, masih begitu terkejut dengan tindakan Vaya padanya. Tanpa disadari, Rian menyentuh sendiri bibirnya.
"Au.." Teriaknya saat lukanya tersentuh.
"Kenapa tadi tidak merasakan sakit ini." Ucapnya sendiri dan tanpa disadari senyum terukir di wajahnya.
.
.
.
.
Semangat Vaya.. #eh๐๐ช๐ช๐ช
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.