
Bahagiaku saat kamu tetap di sampingku.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Maura telah kembali, kali ini Gilang menemani. Memandang ke arah luar kaca mobil saat ini. Menghela nafas panjang dan teringat saat dirinya pergi meninggalkan Gilang saat itu.
Keputusan tersulit bagi Maura. Namun ia dapat melaluinya, Maura dapat melihat Gilang lagi, bertemu dengan dirinya lagi. Bersamanya lagi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Hah.. oh.."
"Memikirkan ku?" Sela Gilang cepat.
"Hah.. pede sekali kamu."
"Kamu dilarang memikirkan orang lain, kecuali aku."
Maura hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Gilang barusan. Gilang memang benar, saat ini yang difikirkan Maura adalah dirinya. Gilang sudah mengisi penuh seluruh hatinya.
"Aku takut Lang."
"Takut apa?"
"Tidak apa-apa lupakan."
Gilang sadar sesuatu hal telah mengganggu fikiran Maura saat ini. Mungkin Maura masih mengingat saat-saat dirinya jatuh karena sebuah rasa. Cinta memang tak selalu indah, tapi ia akan pergi menuju tempat yang semestinya.
Gilang meraih jari jemari Maura, digenggamnya dengan lembut. Mencoba menghilangkan ketakutan yang tengah Maura rasakan saat ini.
"Percaya padaku Ra." Ucap Gilang dan menjawab ketakutan yang tengah dirasakan Maura saat ini.
Di tempat lain, Vaya mondar mandir menanti kedatangan Gilang dan Maura. Beberapa kali dia melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh.. Tuhan lama sekali mereka." Kesal Vaya sendiri.
Vaya masih merasa kesal dengan Gilang. Gilang berjanji akan menghubungi dirinya saat sudah menemukan Maura.
"Kenapa kamu baru menghubungiku Lang..?" Teriak Vaya malam tadi saat Gilang dan Maura mencoba menghubunginya lewat video call.
"Kalian tau tidak, aku cemas sekali.. teganya." Teriak Vaya lagi.
"Maaf Va.., salahkan Gilang saja ya." Ucap Maura sambil melirik Gilang yang tengah berada di sampingnya. Tersenyum namun terkesan tengah meledek diri Gilang.
"Ishh.. kamu bilang mau membantuku bicara dengan Vaya, kenapa malah menyudutkan ku." Protes Gilang sambil mencubit lembut pinggang Maura.
Maura yang tak siap dengan sentuhan Gilang terkejut dan sedikit berteriak.
"Ihhh Lang, geli.." Teriak Maura.
"Itu hukuman buat kamu." Ucap Gilang lagi dan melakukan hal yang sama berulang kali.
Vaya terdiam, lalu tersenyum menatap kebahagian mereka. Rasanya Vaya sudah mulai merasa tenang sekarang. Gilang dan Maura tampak baik-baik saja.
"Hemm.. mereka melupakannku." Gumam Vaya sendiri namun tersenyum menatap semuanya.
"Lang cukup Lang, geli sekali." Teriak Maura memohon ampun.
"Aku enggak mau." Jawab Gilang cepat dengan jari jemari yang sudah siap melakukan aksinya lagi.
"Va..va.. maafin Gilang ya.." Terika Maura akhirnya memohon pada Vaya.
"Aku enggak mau." Jawab Vaya.
"Hei.. kalian menyiksaku." Protes Maura dengan wajah yang cemberut.
"Aku tidak menyiksamu."
"Lalu apa namanya tadi, kalau bukan menyiksa?"
"Aku hanya menyukaimu Ra.."
"Oh.. Tuhan, sekarang kalian yang menyiksaku." Teriak Vaya dan malah membuat Gilang dan Maura saling menatap dan akhirnya tertawa bersama.
Itulah percakapan yang terjadi semalam, Vaya mengingatnya dengan jelas. Maura yang tampak bahagia bersama Gilang.
Vaya saat ini tengah diam, duduk menanti kedatangan mereka. Di lobby aparteman Gilang dan Maura tinggal. Dilirik kembali jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pandangannya beralih dengan cepat, saat terlihat sosok pria yang sangat dikenalnya. Vaya bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat. Memanggil nama pria itu berulang kali.
Langkah Vaya makin mendekat, pria itupun sudah menyadari kehadiran Vaya saat ini. Menghentikan tindakannya yang akan menekan tombol lift saat itu.
"Kamu di sini Va?"
"Ha.. ya, kamu mau ke tempat Gilang."
"Ya.."
"Owh.. Maura bersamanya?"
"Ya.." Jawab Vaya.
Vaya begitu antusias saat melihat Rian hadir saat ini. Rian seakan mengobati kebosanan yang tengah dirasakan Vaya menanti kedatangan Gilang dan Maura. Rasa kecewa tiba-tiba muncul, saat nama Maura disebut oleh Rian.
"Kita menunggu di sana saja." Tunjuk Vaya pada sebuah sofa panjang, tempat dimana ia menunggu tadi.
Rian mengganguk, dan melangkah bersama menuju tempat yang dimaksud.
.
.
.
.
"Kita mampir ke toko kue sebentar ya."
"Untuk apa."
"Aku ingin membelikan kue untukmu, waktu itukan gagal kamu mencobanya."
"Maaf Lang."
"Sudahlah.. kali ini kamu harus mencobanya."
Maura mengangguk tanda setuju. Beberapa menit kemudian mereka tiba, disebuah toko dimana Gilang pernah membeli kue untuk Maura. Walau akhirnya kue itu terbuang dengan percuma.
"Ini saja mba." Tunjuk Gilang.
Memesan, membayar dan menunggu pesanan terbungkus rapi. Tak memakan banyak waktu, pesanan merekapun telah siap untuk dibawa. Merekapun beranjak pergi.
Namun, langkah Gilang dan Maurapun terhenti dalam seketika. Saat sosok Laras tengah melangkah masuk ke dalam dan akhirnya mereka bertemu.
"Gilang." Panggil Laras.
Inilah yang ditakuti Maura. Kehadiran Laras selalu menakutkan buat Maura. Gilang sadar Maura sangat tidak menyukai keadaan seperti ini. Menggenggam tangan Maura begitu kencang.
"Hai.. Ra.." Sapa Laras dengan begitu ramah tanpa balasan ucapan dari Maura.
Maura tak habis fikir, kenapa Laras bisa begitu ramah padanya. Jelas sekali waktu itu Maura menunjukkan ketidaksukaanya pada diri Laras.
"Kemana saja kamu Lang, kenapa aku tidak bisa menghubungimu?"
"Maaf, aku sibuk Ras."
"Ya..ya..ya.. sibuk pacaran." Ucap Laras dan langsung menatap ke arah Maura.
"Ya.. kau benar. Aku sibuk dengan pacarku. Jadi aku permisi." Ucap Gilang dan langsung menarik tangan Maura dan mengajaknya pergi segera.
Laras tampak kesal, ia merasa harus merubah cara untuk bisa mendekati Gilang kembali. Dilihatnya Gilang pergi bersama Maura. Membukakan pintu taksi untuk Maura disusul dengan Gilang membuka pintu taksi untuk dirinya. Tak berapa lama kemudian mereka benar-benar pergi dari pandangan Laras.
"Maaf kak, ada yang bisa saya bantu."
"Tidak ada, terima kasih." Ucap Laras dan begitu kencang. Lalu pergi meningglkan toko kue itu segera.
.
.
.
.
berantem lagi mereka dah ๐ณ
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.