Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Canggung


Malam itu suasana sepi menghampiri Gilang. Maura tertidur pulas di samping kursi mobil yang Gilang duduki. Mengendarai mobilpun Gilang lebih berhati-hati. Khawatir membangunkan Maura yang tengah tertidur saat itu.


Sesekali Gilang melirik ke arah Maura. Mengingat senyum Maura kembali Dan akhirnya Gilangpun tersenyum sendiri.


"Ah.. apa yang sedang ku fikirkan." Ucap Gilang akhirnya dan senyum Maura kembali hadir dalam fikirannya.


Maura sedikit bergerak, mengubah posisi tidurnya. Kali ini wajahnya menghadap ke arah Gilang.


"Enak sekali di tertidur, padahal aku bosnya." Gerutu Gilang sendiri.


"Gilang menyebalkan." Ucap Maura tiba-tiba, namun matanya tetap tertutup. Maura mengigau..


Gilang terkejut mendengarnya. Dalam tidur, Maura memimpikan dirinya. Tapi kata menyebalkan yang ke luar dari mulutnya. Gilangpun meliriknya kembali, dan tersenyum akhirnya.


"Hemm.., dalam tidurpun kamu menyebutku menyebalkan." Ucap Gilang kembali.


Perjalanan terus berlanjut. Maura masih tetap tertidur dengan nyenyak. Setengah jam kemudian, mereka sampai di kostan Maura. Gilang memanggil nama Maura berulang kali hendak membangunkannya. Namun bergerak sedikitpun tidak, apalagi bangun. Maura tetap saja tertidur.


Gilang mencoba lebih keras lagi. Kali ini dia memanggil nama Maura lebih keras dan sedikit menggerakan tubuh Maura yang tertidur.


"Maura.., bangunlah sudah sampai." Pinta Gilang.


"Hemmm.."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Maura. Usahanya masih belum berhasil. Gilang menghela napas kemudian. Maura tak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun dari tidurnya. Gilangpun berusaha lebih keras lagi untuk membangunkannya. Ia membuka sabuk pengamannya terlebih dahulu, dan menggerak-gerakan tubuh Maura kembali.


"Hayolah Maura, bangunlah. Kau memang mau tidur di sini semalaman?"


"Ehmm.. aku masih ngantuk, lima menit lagi yah." Ucap Maura begitu saja dengan mata yang masih tertutup.


"Kalau saja tau sesulit ini membangunkanmu. Tak akan ku biarkan kamu tidur tadi." Gerutu Gilang sendiri.


Gilangpun kembali menatap Maura. Kali ini matanya menatap lembut wajah Maura saat itu. Wanita di hadapannya terlihat cantik saat tertidur. Bibir kecil dan berwarna merah sempurna, kulit wajah yang putih dan bersih, bulu mata yang indah, tak luput dari penglihatannya.


Gilangpun memberanikan diri untuk menyentuh wajahnya. Jari-jarinya telah berhasil mendarat di pipi Maura akhirnya. Sedetik kemudian mata Maura terbuka.


Mereka saling menatap sekarang. Jantung mereka saling berdegup kencang. Maura gugup, Gilangpun demikian dengan jari-jari Gilang yang masih menyentuh wajah Maura.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Maura gugup.


"Membangunkanmu." Ucap Gilang dan segera melepaskan jari-jarinya yang menyentuh wajah Maura sejak tadi. Gilangpun menyandarkan tubuhnya kemudian dengan tatapan lurus ke depan. Begitu juga dengan Maura. Pandangannya lurus ke depan, dengan jantung yang masih berdegup kencang.


"Sudah sampai." Ucap Gilang kembali.


"Ahh.. iya." Maurapun tersadar akhirnya. Ia segera membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil Gilang segera.


Maura segera turun, lebih cepat dari biasanya. Jantungnya masih saja berdebar tak beraturan. Maura pergi begitu saja, Gilangpun demikian.


"Ahh.. bukuku." Teriak Maura lagi.


Ia melupakan bukunya lagi. Tapi itu bukan masalah besar sekarang, yang jadi masalah adalah kenapa jantungnya terus berdebar. Wajah Gilang kembali terniang di fikiran Maura. Wajahnya yang sangat dekat dengan wajahnya. Tanganya yang menempel di pipinya. Tanpa disadari Maura menyentuh pipinya sendiri saat itu


"Ah.. bodoh." Itulah gerutu Gilang sejak tadi.


Sepanjang jalan Gilang menuduh dirinya bodoh. Bagaimana bisa, ia mentap Maura seperti tadi. Kenapa jari-jarinya harus menyentuh wajah Maura saat itu.


"Seharusnya kau tidur lebih lama." Gilang menggerutu kembali.


Gilang mencoba menenangkan hatinya, begitupula dengan Maura.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Pagi itu, Maura sudah berada di apartemen Gilang kembali. Ini yang pernah diminta Gilang waktu itu, datang ke apartemennya di pagi hari.


"Kau sudah datang, apa yang kau bawa?" Tanya Gilang sambil melirik sebuah kantung yang sedang di genggam Maura pagi itu.


"Sarapan buatmu." Jawab Maura dan menyerahkan kantung itu pada Gilang.


Gilang terkejut akan sikap Maura padanya. Wanita ini cepat belajar dan memahami dengan cepat. Maurapun segera melangkah masuk ke dalam, langsung duduk di sofa milik Gilang.


Gilang mengikutinya, menutup pintu apartemenya terlebih dahulu. Mereka duduk bersama sekarang, saling berhadapan.


Sejujurnya, masih ada rasa canggung yang di rasakan Gilang. Jika mengingat kejadian semalam bersama Maura.


Dengan melihat kedatangan Maura pagi ini. Rasa canggung sedikit berkurang. Maura tampak tenang dan terlihat seperti biasanya. Mungkin hanya dirinya yang merasakan itu. Tapi sebenarnya Maurapun merasakan hal yang sama. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.


"Jam berapa selesainya?"


"Siang, sekitar jam dua."


"Oke.."


"Kau tidak ada jadwal ke manapunkan, aku bebaskan hari ini?" Tanya Maura memastikan.


"Siapa bilang?"


"Jadwal yang kau kirim waktu itu." Ucap Maura dan tampak bingung sekarang.


"Kau asistenku, ada atau tidaknya jadwal, kau harus tetap bekerja."


Maura memandang Gilang saat itu. Matanya membulat mendengar ucapan Gilang. Kesal.., tapi apa yang dikatakan Gilang tak salah juga.


"Aku akan jemput kamu nanti." Lanjut Gilang lagi.


"Temaniku sarapan, aku akan antar kamu setelah ini." Ucapnya lagi.


Gilang bangkit dari duduknya, pergi melangkah menuju dapur apartemenya. Ia membuka bungkusan itu. Semangkuk bubur di belikan Maura untuknya.


Maura membelikannya, karena mengingat kejadian kemaren akan dua buah roti yang menjadi bahan rebutan antara dirinya dan Gilang.


dan.. apa yang barusan Gilang katakan, membuat Maura berfikir keras. Sifat Gilang sulit ditebak, kadang sangat menyebalkan dan sekarang menjadi sangat perhatian.


"Ah.. apa yang ku fikirkan." Bisik Maura sendiri.


Maurapun bangkit dari lamunannya dan beranjak pergi menyusul Gilang. Mencoba membantu apa yang sedang dilakukan Gilang saat itu.


"Kau hanya beli satu." Tanya Gilang saat menyadari hanya ada sebungkus bubur di dalam kantung yang Maura serahkan pada dirinya.


"Ya.. aku sudah sarapan tadi."


"Apa yang kau makan?" Tanyanya.


"Ehmm.. nasi goreng."


"Besok kau harus membuatkan nasi goreng untuk sarapanku."


"Hah.."


Gilangpun hanya tersenyum menatap Maura yang terkejut mendengar permintaannya.


"Gilang kembali menyebalkan." Gerutu Maura dalam hati.


.


.


.


.


Wah.. Gilang mau deket-dekat Maura terus nih๐Ÿ˜™


Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


Mau ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos"


Terima kasih semua๐Ÿ™