
Mana yang harus ku percayai saat ini, disaat aku menanti kabarmu, namun kabar menyakitkan yang datang.
-Maura-
🌿🌿🌿
Maura menggeliat, mengintip sedikit demi sedikit, menatap sekeliling. Langit sudah tampak terlihat gelap saat ini. Udarapun terasa begitu sejuk menjelang malam tiba.
Maura menatap jarum jam di pergelangan tangannya kemudian. Bangkit dari tidurnya, lalu meraih handphonenya dengan cepat, saat itu dirinya teringat dengan Gilang.
"Huft..." Desah Maura.
Keningnya mengkerut, saat menyadari pesan yang dikirim untuk Gilang belum terbaca hingga sekarang, apalagi dibalas oleh Gilang.
Tanpa berfikir panjang, Maurapun segera menghubungi Gilang, sekali tak ada jawaban, dihubungi lagi masih tak ada jawaban. Di coba kembali masih juga tak ada jawaban.
"Ihhhh... sibuk banget." Protes Maura akhirnya.
Meninggalkan handphonenya begitu saja di atas kasur, dan turun segera menuju kamar mandi. Menggerutu sepanjang jalan.
Setelah merasa cukup beristirahat dan membersihkan diri, Maurapun turun ke lantai bawah, menyusuri kembali anak tangga.
Tampak terlihat ayah dan ibunya sudah menunggunya dan menanti kehadiran Maura di sebuah meja makan berbentuk persegi panjang.
"Malam." Sapa Maura sambil menarik kursi dan kemudian duduk di sana.
"Yuk makan dulu." Ajak Ibunya sambil membantu memberikan seporsi nasi untuk Maura saat itu.
"Makasih bu."
"Dihabiskan ya."
Maurapun mulai makan bersama, percakapan kecilpun mulai terjadi.
"Kapan ibu dan ayah mau dikenalkan dengan pacarmu?"
"Hah..." Ucap Maura dan terbatuk kemudian.
"Haduh Ra, pelan-pelan kalau makan." Pinta ibunya dan akhirnya menghentikan makannya saat itu.
"Iya bu, maaf.." Ucap Maura lagi sambil mengambil segelas air mineral yang sudah setia berada di atas meja berdampingan dengan piring miliknya.
"Bahas pacar kok keselak Ra."
"Kaget bu, tiba-tiba saja ibu bahas pacar." Jawab Maura dan tampak malu.
"Hahaha... ibu dapat kiriman bingkisan kue dari pacarmu.
"Serius bu?" Tanya Maura menatap keduanya tak percaya.
"Siapa namanya Ra?" Tanya Ayahnya mulai ikut berbicara.
"Gilang Yah." Jawab Ibunya lagi dan kembali membuat Maura tersedak.
"Haduh Ra.. minum dulu." Pinta ibunya lagi.
"Kok ibu bisa tahu namanya?" Tanya Maura heran, setelah berhasil meneguk kembali air putih.
"Kan tadi ibu sudah bilang, dia kirim bingkisan ke sini, dan ada namanya di situ."
"Oh iya."
"Cepat bawa ke sini, kenalkan ke ayah."
"Iya Yah." Ucap Maura menunduk dan kembali melanjutkan makannya.
Makan malam saat itu, terasa begitu tegang buat Maura. Maura merasa begitu terkejut saat Ayahnya memintanya untuk segera mengenalkan Gilang padanya. Ingin membahas lebih panjang, tapi rasanya Maura tidak siap. Banyak hal yang Maura tak tau, apa saja yang sudah dilakukan Gilang untuk ke dua orangtuanya ini.
Maurapun menyelesaikan makan malam dengan cepat. Kembali ke kamarnya lagi dan mencari handphone miliknya yang sejak tadi ia letakkan di atas kasur.
Di cari nama Gilang dan dihubunginya kembali. Namun Gilang tak mengangkatnya.
"Ayolah Lang, angkat teleponnya" Ucap Maura sendiri dengan berjalan bolak balik, entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu.
Menghela nafasnya kemudian, duduk dan kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur saat itu. Menatap langit-langit kamar.
"Sibuk banget sih Lang." Ucap Maura sendiri.
Tak berapa lama kemudian, suara pesan masuk bersumber dari handphone miliknya. Maura dengan cepat meraihnya kembali. Membuka pesan itu segera. Namun ia terdiam.. terdiam cukup lama dan menatap tak percaya.
.
.
.
.
Gilang tengah sibuk memilih beberapa kue yang akan dikirimkannya ke orang tua Maura. Cukup lama ia berfikir dan akhirnya ia dapat memesannya dan mengirimkannya segera.
Gilang tersenyum sendiri kemudian, saat membayangkan bagaimana reaksi Maura nanti. Gilang melakukannya diam-diam, tanpa sepengetahuan Maura.
"Yuk Lang kita mulai pemotretannya."
"Oh.. oke." Jawab Gilang cepat dan kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan ruang peristirahatannya.
Gilang melangkah dan Ia masih tampak tersenyum bahagia saat itu, hingga akhirnya senyumnya lenyap saat melihat sosok Laras yang sudah berdiri di hadapannya dan tengah tersenyum menatapnya.
"Laras." Ucapnya dan mencoba berfikir keras.
"Hai Lang." Sapa Laras semanis mungkin.
"Kenapa kamu di sini?"
"Kenapa dengan model sebelumnya?"
"Sakit Lang."
Gilang langsung mencoba pergi meninggalkan Laras saat itu. Mencoba meminta penjelasan dengan apa yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Namun Laras berhasil meraih pergelangan tangannya dan menghentikannya.
"Kamu mau kemana Lang?"
"Aku ingin membatalkan sesi foto kali ini."
"Lang, sebegitunya kamu benci aku Lang?, berfoto denganku saja kamu menolak."
"Maaf Ras."
"Aku enggak ada maksud apa-apa Lang, bukan salahku juga kalau model sebelumnya sakit. Aku hanya mencoba membantu di sini."
"Kamu bisa berfoto dengan yang lain."
"Sudah tidak ada waktu lagi Lang, jika harus mencari yang baru. Ku mohon Lang, kali ini saja, Maura pasti paham jika ia memang percaya sama kamu.
Kecewa jelas sangat dirasakan Laras saat itu. Laras pernah menjadi sosok yang berarti buat Gilang. Laras pernah menjadi satu-satunya yang Gilang cintai saat itu. Rasanya memang begitu menyakitkan.
Gilang menghela nafasnya kemudian. Mulai berfikir dan tampak ragu, namun ia harus memutuskannya segera.
.
.
.
.
Gilang memejamkan matanya, dengan wajah menghadap langit-langit. Dilonggarkan sedikit kerah baju yang dikenakannya saat ini. Untuk beberapa saat, Gilang hanya diam menghapus lelah yang menghampirinya.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Laras tampak mengintip di sana dan memanggil nama Gilang perlahan.
"Sory Lang, ganggu." Ucap Laras yang masih berdiri di depan pintu ruang peristirahatan Gilang.
"Laras." Ucap Gilang dan terdengar dingin.
"Aku boleh masuk?"
"Ya." Jawab Gilang dan kemudian Laras masuk perlahan ke dalam. Mendekat ke arah Gilang akhirnya.
"Teman-teman ngajakin makan malam bersama. Mereka memintaku untuk bujuk kamu ikut." Ucap Laras dan tampak berhati-hati.
"Oh.. aku lelah rasanya Ras, sampaikan maafku saja pada mereka."
"Oh gitu, pasti mereka kecewa banget Lang. Kamu enggak bisa gabung sebentar saja." Bujuk Laras lagi.
"Hem.. baiklah, nanti aku gabung. Aku bersiap dulu." Ucap Gilang mengalah akhirnya.
Entah apa yang ada di fikiran Gilang saat itu. Memutuskan hal itu begitu cepat.
"Makasih Lang, aku eh maksudnya kami tunggu kamu di bawah." Ucap Laras lagi dan kali ini wajahnya tampak senang.
"Ya." Jawab Gilang singkat dan kemudian bangkit dari duduknya dan pergi ke toilet untuk bersiap.
Gilang telah pergi, dan tiba-tiba saja handphone milik Gilang berbunyi. Laras yang masih berada di tempat yang sama, merasa penasaran untuk melihat siapa yang tengah menghubungi Gilang saat itu.
Wajahnya yang awalnya tersenyum lalu tampak membenci. Nama Maura tertulis dalam Layar handphone milik Gilang. Laras tak mengangkatnya. Membiarkannya hingga bunyi itu terhenti dengan sendirinya.
Saat suara itu terhenti, terkirim sebuah pesan dari Laras untuk Maura melalui handphone milik Gilang.
Laras tersenyum kemudian setelah berhasil mengirimkannya.
.
.
.
.
Aduhhh apa yang dikirimm😫
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉 (Alhamdulillah udah tamat)
Promo Novel baru boleh ya👉👈
"Sebatas Pacar Sewaan". Minta dukungannya di sana juga🙏. Terima kasih
Berikut ceritas singkatnya ya😉