
Aku membaca pesan dari Desi ,ia memberi tahu kepada ku tentang Mas Farhat yang ingin bertemu.Aku hanya bisa tersenyum saja menanggapi hal itu.Belum saatnya Mas.
Hari ini aku tidak punya rencana untuk pergi kemana-mana.Usai pergi keluar mencari sarapan dan mandi di Masjid.Aku kembali ke gudang tempat tinggal ku sekarang.
Dari dalam gudang bisa ku dengar ocehan Ibu mertuaku kepada anak gadis satu-satunya yang sangat manja.
"Yas, kalau nggak mau bantuin ibu masak,pergi cuci baju gih,atau nyapu kek..jangan main hp terus"
"Ck iya Bu... bentar nanggung nih"
"Apanya yang nanggung sih Yas? cepat pergi ambil cucian!!"
"Ah ibu... nggak bisa lihat Aku senang ya"
"Ibu baru senang melihat kamu senang mendapatkan suami yang kaya ,ganteng, banyak uang. Ini gimana mau cari suami yang ganteng ,yang banyak uang?? kerjaannya cuma megang HP aja. Masak nggak tahu, nyuci nggak mau, nyapu nggak pernah"
"Ibu sekarang kok jadi bawel banget sih ,dulu juga nggak gini waktu ada Kak Anis"
"Iya dulu kan Anis yang ngerjain semuanya, sekarang Anies sudah nggak ada. Ya kamu dong bantuin ibu"
"Bu...kalau Yasmin nyuci baju tangannya nanti bisa kasar . Gimana mau dapetin cowok ganteng coba,, kalau tangannya kasar. Pasti baru kenalan aja udah ilfil"
"Kamu mau pergi nyuci apa nggak ?hah??"
"Iya ya Bu...aduh...kok jadi main kasar sih"
"Huf.. dasar pemalas!!"
Aku geleng-geleng kepala mendengar perseteruan Ibu dan anak di dapur.Sekarang mereka cenderung membandingkan semua ketika aku masih menjadi menantu mereka.
BRAK!
Pintu gudang dibuka dengan kasar dari luar.Aku tersentak dan cepat menutup buku gambar ku.
"Uh bau sekali "Yasmine datang sambil menutup hidungnya.
"Nih"
Dia melemparkan sesuatu ke hadapan ku.
"Apa itu Yas?"Ibu mertuaku muncul, mungkin dia penasaran.Aku mengutip amplop besar berwarna coklat yang dilemparkan Yasmine.
"Nggak tahu Bu, kalau pengirim nya sih dari pengadilan agama"
"Oh mungkin panggilan sidang perceraian nya, syukurlah.. kalau sudah ketuk palu nanti,Farhat bisa langsung menikah dengan Mawar "
"Iya Bu...Ya udah yuk, disini bau sekali.Heran deh, kenapa dia bisa betah tinggal di gudang yang bau dan pengap seperti ini?"
Ibu dan anak itu pun pergi meninggalkan aku.
Ku buka sampul amplop itu perlahan, seperti dugaan Yasmin.Isinya memang surat panggilan dari pengadilan.Hal ini lebih cepat dari dugaan ku.
Menurut informasi yang ku cari, katanya jika pria yang menggugat istri.Maka proses nya lebih cepat dari pada istri menggugat cerai suami.
Ku ambil ponsel ku,ku dail nomor Desi .
"Hallo..ya say..."sapa Desi dari seberang begitu hangat.
"Aku baru saja dapat surat panggilan dari pengadilan "
"Wuih cepat amat...emang kebelet kawin lagi tuh suamimu.Sampai secepat itu ia memprosesnya "
"Aku sudah tidak sabar untuk muncul ke permukaan,dan kita lihat.Apa dia masih ingin cerai dari aku?"
"Terus?? kalau dia batal kan gimana ??"
"Turun kan pengacara kita,aku yang akan menuntun dia cerai "
"Wuih bakal seru nih...besok sore ada rapat,akan ku umumkan kalau kau akan datang "
"Bagus..."
*
*
Malamnya, sehabis mandi numpang di Masjid.Aku pulang kembali ke rumah Mas Farhat.Lagi-lagi mereka tengah makan malam bersama,dan kali ini ada Mawar di sana.
Tapi aku tidak perduli,ku langkahkan kaki masuk tanpa menoleh sedikitpun.
"Nies!!"
Sebuah seruan menghentikan kakiku melangkah.Ku angkat wajahku, rupanya Mas Farhat bangkit menghampiri.
"Sudah kau terima surat panggilan dari pengadilan ?".
Aku mengiyakan.
"Bagus!!jangan lupa datang ya,tapi ingat!!kau tidak akan mendapatkan apapun dari ku, karena kita berdua belum dikaruniai anak"
"Mau dapat apa dia,wong dia nggak menghasilkan uang"Celutuk Ibu mertuaku .Aku tetap diam!!Mereka tidak tahu,jika diamku adalah bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan mereka semua.
"Dan harus kamu tahu juga ya Nies,aku masih ingat kalau kamu pernah bilang kalau bukan karena kamu?aku tidak akan pernah ada diposisi ku sekarang.Tapi apa buktinya ?Aku dipromosikan untuk menjadi seorang Direktur.Dan itu terjadi saat aku menceraikan mu.Jadi..kamu tidak usah sombong,tanpa kamu..aku malah semakin sukses "
Aku tersenyum saja mendengar ocehan panjang mantan suamiku.
"Senyam-senyum lagi,kenapa?malu karena kalah"IIbu mertuaku menambahkan dengan kalimat yang begitu sengit.
"Dia juga harus tahu Mas, kalau kita berdua yang dipromosikan "Tiba-tiba Mawar muncul semakin menyudutkan diriku"Kau mengerti kan maksud ku?? Bahwa tidak ada kata gagal diantara kami,jika Mas Farhat tidak terpilih ?maka aku yang terpilih.Jadi kami sama-sama diuntungkan "
Mawar melipat tangan di dada nya dengan rengkuhan erat dibahunya dari lengan kekar Mas Farhat .
Aku tetap diam tidak menjawab, biarkan saja mereka menggonggong.Besok...akan ku sumpal mulut mereka semua nya.
"Sudah ngomong nya?"ujarku santai."Kalau belum?? silahkan bicara sepuasnya,aku sudah setel telinga ku untuk mendengar semua cemoohan kalian"
Mawar menarik sebelah bibirnya..
"Kau memang perempuan tidak tahu diri, pantas suami mu melirik ku"
"Aku tidak tahu diri?atau kamu yang tidak sadar diri... ambil barang bekas aja bangga "
Bisa ku lihat wajah Mawar yang merah membara, matanya membulat dengan nyalang.
"Kau.."
PLAK
Ku rasakan bibir ku pecah, sudutnya terasa anyir.Bukan...bukan Mawar yang menamparku,tapi Mas Farhat .Ia menampar ku mewakili Mawar yang ku hina.
"Rasakan!!Gimana? sakit ke dalam lubuk hati yang terdalam kan??"Mawar terlihat senang sekali melihat pipiku yang terdapat bekas tangan.
"Makasih ya sayang, sudah membelaku"
"Tentu sayang aku pasti membela mu"jawab Mas Farhat disertai senyuman manis kepada kekasihnya.
Aku sudah tidak tahan lagi,ku tinggalkan mereka yang tertawa di belakang.AWAS KALIAN BERDUA.BESOK...AKAN KU LIHAT SEPERTI APA WAJAH KALIAN SAAT MELIHAT KU DUDUK DI KURSI PEMIMPIN.
"Ayo..ayo duduk...aduh makanan nya sudah dingin"
Masih ku dengar suara Ibu mertuaku sebelum ku tutup pintu gudang.
"Din..mau kemana ?"suara Bapak terdengar.
"Mau ke kamar Pak,aku sudah selesai makan"
Dino menjawab dengan ketus,suara kakinya ku dengar menjauh.Sepertinya hanya Dino yang berempati padaku.
Akan ku balas kebaikan mu Din,suatu hari nanti.Meskipun kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ku,tapi rasa empati mu sudah cukup bagiku untuk berterima kasih padamu.