
POV FARHAT
"Pak Farhat .. tidak usah berlebihan, sampai berdiri menyambut CEO kita"seru Bu Desi yang membuat semua mata mengarah padaku.Aku jadi malu, segera ku duduk kembali.Tubuhku gemetaran, hingga tungkai kakiku bergetar.
Ku lihat Rengganis tersenyum menatap ku, senyuman yang anggun.Senyuman itulah yang membuat ku jatuh cinta kepada nya saat pertama kali bertemu.
Aku sama sekali tidak menyangka,jika gadis kucel yang ku temui saat itu adalah pemilik pabrik tempat ku bekerja.
Aku pikir dia hanya buruh biasa saja.Uhhhh bodoh nya aku ini..Kenapa tidak ku tinjau lebih dulu tentang siapa Rengganis?
Kembali ku terngiang-ngiang kata-katanya beberapa hari yang lalu.Rupanya itu sebuah sinyal,dan pola itu???yah!! ternyata itu benar,Rengganis yang membuat nya.Bagaimana ini??Aku harus bagaimana ?? Pikiran ku sungguh kacau, hingga aku tidak menyimak dengan baik apa yang dibahas oleh Rengganis dan yang lainnya.Tahu-tahu rapat sudah selesai saja.
Aku keluar seperti mayat hidup, sampai akhirnya sebuah tangan menarik ku.Mawar membawa ku ke tempat sepi.Wajahnya penuh kekhawatiran.
"Mas... Gimana ini??"
Aku bungkam..
"Mas..kok diam aja sih?"
"Aku harus gimana ??aku juga tidak tahu harus bagaimana ??"
"Ih kamu ni,tadi pas Bu Desi nyebut nama kita yang ditunjuk sebagai calon Direktur.Anies lihatin kita?dia diam saja...aku jadi takut dengan Tatapan nya itu Mas"
"Aku tidak tahu "aku menjawab tanpa semangat.
"Kok tidak tahu sih?"
"Ya memang aku tidak tahu..aku bingung harus gimana ?"
"Uh kamu nih Mas,aku baru menyadari jika sebenarnya kamu ini Bo-doh.Masak status istrinya aja tidak tahu,jadi benar kata Rengganis .Kamu naik jabatan itu semua karena dia,dan sekarang...kamu bisa hancur juga karena dia.Aku pun??juga bisa terseret dan kehilangan semua pekerjaan ku..Iiihhhh kok malah jadi runyam gini sih"Mawar menghentakkan kakinya,ia bertingkah seperti anak kecil seperti biasanya.
"Semalam...kamu menampar nya lagi??"Mawar menatap ku simpati.Aku hanya bisa memejamkan mataku.Aku harap ini hanya mimpi.
Tapi saat ku buka mata, seorang staf yang bekerja di kelompok ku datang menghampiri.
"Pak...Bu... dicari Bu Desi , diminta datang ke ruangan nya sekarang"
Jantung ku langsung berdegup kencang,ku tatap Mawar yang juga menatap ku.
"Mati kita Mas"
Aku sudah tak kuasa untuk melangkah,namun Mawar justru menarik ku pergi.
"Aku tidak mau...aku tidak mau Mawar ! lepas kan aku"aku berontak seperti anak kecil yang tidak mau disuntik.
"Mas...diam..malu di lihat orang"Mawar memarahi ku,aku menundukkan kepalaku.Aku bingung dengan diri ku sendiri, kenapa aku jadi takut begini ?
Yah...aku takut,aku takut Rengganis akan memecatku.Aku takut Rengganis akan mempermalukan aku,dan membalas semua perbuatan ku padanya.
"Ayo Mas...kita hadapi sama-sama"Mawar menarik lenganku lagi.
"Tidak!!Aku mau pulang Mawar "aku menegakkan tubuhku.
"Pulang ??"
"Yah !!Aku takut,aku juga malu untuk menghadapi Rengganis . Daripada aku dipermalukan, lebih baik aku pulang.Dan aku akan resign dari tempat ini"
Aku tertunduk lebih mendalam lagi,jiwaku benar-benar terpuruk.
"Ayo Mas,kamu tidak boleh seperti ini.Kalau kamu bersikap pecundang,Rengganis akan semakin mentertawakan kita.Meskipun kita kalah,tapi kita harus bisa melawan "
Aku diam, ucapan Mawar masuk ke dalam otak ku.
"Kamu dan Rengganis belum ketuk palu Mas,kamu bisa tuntut harta gono-gini"
Kepala ku seperti mendapatkan dorongan untuk mendongak.
"Sekarang hadapi dia dengan dagu terangkat,buat dia kalah Mas.Kamu seorang laki-laki,jadi tidak boleh lemah"Mawar semakin menyemangati ku.
"Ayo Mas"
Aku mengangguk yakin,lalu kami pun melangkah menuju ruangan Bu Desi .
TOK TOK TOK
Masuk!!!
Suara yang tidak asing menyahut,aku menarik nafas dalam-dalam sebelum ku langkahkan kaki untuk masuk.
"Silahkan duduk Pak Farhat ..Bu mawar..."Bu Desi mempersilahkan kami untuk duduk di sofa tempat biasa kami melakukan miting.Saat itu ku lihat Rengganis berdiri menghadap jendela, memunggungi kami.
"Bu Rengganis ...mereka sudah datang"
"Keluar lah!!"Rengganis sekali pun tidak menoleh.
"Baik Bu"Bu Desi mengangguk patuh, ia tersenyum kepada kami lalu melangkah keluar ruangan.
Rengganis memutar tubuhnya, sudut bibirnya terangkat.
"Senang bisa bertemu kalian dalam keadaan formal seperti ini"Wanita yang kini sudah menjadi mantan istri ku duduk di hadapan kami dengan kaki menyilang dan tangan terlipat.
"Kenapa kalian diam?? perasaan baru semalam kalian mencak-mencak di hadapan ku?"
Ku lirik Mawar ,gadis itu sama sekali tidak berani menatap Rengganis .Padahal tadi bukan main dia memberi semangat dan malah menyuruhku untuk menuntut harta gono-gini.
"Tapi...aku tidak ingin mencampur adukkan hal bisnis dengan urusan pribadi.Kalau kalian masih ingin bekerja disini, bekerja lah dengan baik.Dan masalah promosi kenaikan jabatan kalian,sedang ku pertimbangkan"
Aku terkesiap mendengar ucapan Rengganis , ternyata dia sama sekali tidak mengambil kesempatan untuk membalas dendam kepada ku dan Mawar .
"Nies"ku panggil namanya.
"Maaf...kita harus profesional,aku sekarang atasan mu"kata-kata Rengganis seperti tamparan keras bagiku.Aku malu sekali...
"Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, silahkan kalian kembali ke tempat kerja kalian "
Aku dan Mawar sama-sama bangkit.
"Tapi ingat satu hal, tidak ada yang tahu tentang masalah kita bertiga.Dan bersikap lah seperti itu selama nya"
"Ba-ba-baik "Mawar mengangguk gugup.
"Bagus... pergilah "ia mengibaskan tangannya seperti mengusir kami.Aku dan Mawar pun gegas keluar dari ruangan Bu Desi .