
POV MAWAR
Pagi-pagi sekali, aku mendatangi rumah Mas Farhat .
Semalam kami sudah mempunyai rencana yang matang untuk bisa menyadarkan Bos Indra, agar tidak terpengaruh oleh Rengganis lagi.
Ibunya Mas Farhat berjanji akan pergi menemui seorang dukun dan meminta obat penawar.
Karena kami sangat yakin sekali, Rengganis pasti memakai guna-guna untuk menaklukkan hati Pak Indra Lesmana.
Setibanya di rumah Mas Farhat, Ibu Mas Farhat menyambut ku. Katanya Mas Farhat masih ganti baju.
" Nak Mawar duduk dulu gih, kalau belum sarapan ,Ibu buat nasi goreng di dapur " ujar Ibunya Mas Farhat ramah.
Aku tersenyum, tidak mungkin aku makan masakan Ibunya Mas Farhat yang memang sangat tidak enak. Bisa-bisa aku diare .
" Makasih Bu, emmm Ibu udah melakukan apa yang kita rencanakan semalam?" Aku sudah tidak sabar ingin tahu usahanya.
" Beres!!".Ibu Mas Farhat mengangkat ibu jarinya, hal itu membuat ku tersenyum senang.
Mas Farhat Keluar sambil menenteng sebuah kresek hitam.
" Bu , Farhat berangkat dulu ya" pamit nya, tak lupa ia mencium tangan sang Ibu.
" Iya, kamu ingat semua yang Ibu pesankan ?"
Mas Farhat menjawab dengan anggukan.
" Yuk, kita harus cepat " Dia mengajak ku untuk segera berangkat .
Aku mengangguk setuju, kami berjalan beriringan menuju mobil ku.
" Apa aja itu Mas?" Tanyaku sambil lalu mengemudi.
" Bunga tujuh rupa, dan juga gula" jawab nya.
" Nanti kamu sediakan cepat minuman untuk Pak Indra, dengan air rendaman bunga ini. Lakukan tanpa ada siapapun yang tahu" imbuh nya.
Aku mengangguk mengerti, semoga saja semuanya berhasil.
Kami tiba di kantor dengan situasi yang masih sepi. Yah, karena ini masih sangat terlalu pagi sekali.
Aku bertindak cepat seperti apa yang disuruh oleh Mas Farhat .
Sedangkan Mas Farhat sendiri bertugas melihat situasi, takut ada yang datang.
Aku selesaikan semua nya sesegera mungkin. Teh yang sudah siap ku letakkan di meja kerja Pak Indra.
" Mas, aku sudah selesai" Aku memberi tahu Mas Farhat melalui voice.
Setelah itu aku duduk di meja kerja ku , berusaha setenang mungkin agar tidak dicurigai oleh siapapun.
Beberapa menit kemudian, para staf kantor mulai berdatangan. Terakhir, ku lihat Pak Indra turut datang.
Aku tersenyum , mataku mengikuti langkah nya sampai punggungnya tak terlihat.
"Rengganis , guna-guna yang kau pasang akan tumpul tak berguna sebentar lagi"Ucap ku dalam hati.
Entah aku sangat yakin sekali, Pak Indra pasti akan terlepas dari jeratan guna-guna yang dikirim oleh Rengganis . Dan keadaan akan kembali seperti semula.
Mas Farhat datang ke meja kerjaku.
" Kau dengar barusan Pak Indra bilang apa?" ia bertanya sesuatu yang tidak aku ketahui. Otomatis kepala ku menggeleng pelan.
" Emang Pak Indra bilang apa Mas?"
" Sebentar lagi ada rapat eksklusif , semua staf tanpa terkecuali diminta untuk berkumpul di Aula"
Penjelasan Mas Farhat mengagetkan sekali. Ada apa ini?? Biasanya akan ada pengumuman penting jika ada rapat eksklusif.
" Eh Mawar " tiba-tiba Melati menghampiri kami " Kalian sudah dengar kalau sebentar lagi akan ada rapat eksklusif??"
" Emang ada apaan sih Mbak Mel??" Tanyaku, biasanya dia akan mencari tahu lebih cepat dari pada yang lainnya.
" Entahlah, Mbak Riri juga nggak tahu ada apa? Kok tiba-tiba gitu" rupanya Melati juga nggak tahu.
" Ya udah yuk, kita cepat-cepat ngumpul" Ajaknya kemungkinan.
Aku pun meninggalkan meja kerja ku mengikutinya.
Mas Farhat melakukan hal yang sama, dan beberapa staf yang lain berjalan di belakang kami menuju aula.
Percakapan riuh rendah membahas hal yang tidak jauh berbeda. Ada apa ini sebenarnya?? Apakah ada pergantian stimulasi gaji?? Ataukah PHK massal??
Hal ini benar-benar sangat tidak bisa ditebak, kepala ku sampai berdenyut-denyut karena membayangkan hal yang takut terjadi.
Masalah guna-guna seperti terusir dari otakku karena rapat eksklusif yang mendadak seperti ini.
Pak Indra Lesmana muncul dari balik pintu, yang serta merta meredam keriuhan para pekerjanya.
Ia menaiki podium dan berdiri di depan mikrofon.
" Assalamualaikum" suaranya menggema memenuhi ruangan.
" Wa'alaikum salam" jawab semua nya kompak.
" Maaf kalau saya mengadakan rapat mendadak seperti ini, pasti kalian bertanya-tanya ada apa ini?? Apa yang terjadi?? Bukankah begitu??"
Beberapa diantara kami tergelak lirih.
" Sebelum nya saya ingin menyampaikan bahwa mungkin masa jabatan saya tidak akan lama lagi "
Hah?? Aku terkejut mendengar ini, begitu juga dengan yang lainnya.
" Kenapa Pak?" Seru seseorang lantang, aku menoleh ke arah datangnya suara. Entah siapa dia yang berani mewakili perasaan kami?
Pak Indra Lesmana tersenyum simpul.
" Karena pemilik sah Pabrik ini sudah kembali, jadi sudah seharusnya saya memberikan pabrik ini kepada si empunya"
" Hah?? Si empunya?? Maksud nya perusahaan RS ini bukan milik Pak Indra Lesmana??"
" Kami tidak mengerti maksud Bapak?? Bukankah pabrik ini milik Anda?? Dan sejak kami bekerja disini, Bapak lah yang kami kenal sebagai Bos kami" seru seorang pria diantara kerumunan para pekerja.
" Benar, tapi saya hanya menjalankan amanah. Sebenarnya saya sudah suka bekerja disini, jika saya pergi pun dan menjalankan bisnis yang lain. Semua akan terasa berbeda. Tapi masalah nya, pemilik sah pabrik ini menolak untuk menikah dengan saya. Jadi kalau dia menolak, berarti saya harus pergi "
Hah?? Siapa sebenarnya wanita yang Pak Indra maksud?? Dan siapa wanita yang bo-doh itu ,berani menolak cinta dari seorang pria seperti Pak Indra.
"INDRA!!"
Sebuah suara terdengar lantang dan tidak asing. Kepala ku berputar ke arah datangnya suara, kedua mataku membulat melihat sosok yang berdiri menatap Pak Indra.
Ia berjalan ke atas podium menghampiri Pak Indra.
Mas Farhat yang duduk di samping ku menyentuh tangan ku, aku sampai kaget dibuat nya.
" Itu Rengganis " Bisiknya, aku sudah tahu tanpa ia beri tahu.
" Apa yang kamu lakukan??" Rengganis bertanya kepada Pak Indra, suaranya terdengar jelas karena masuk ke mikrofon.
" Aku,, harus melakukan hal yang sepatutnya. Perusahaan ini milik mu, jadi wajar kalau aku mengembalikannya kepada mu"
Hah?? wajahku terasa memanas mendengar penuturan Pak Indra. Jadi yang dimaksud oleh Pak Indra adalah Rengganis ?? Mas Farhat menatap ku dengan wajah sepucat mayat.
" Tidak perduli siapa pun pemilik nya, tapi kamu tetap Bos disini. Aku punya pabrik sendiri yang harus ku tangani. Jadi ,,, semua tidak akan berubah" Rengganis menjawab.
Keduanya bertatapan begitu intens, dan kami semua seolah-olah melihat sebuah dialog sepasang kekasih di atas altar.
Mas Farhat meremas tangan ku erat, entah dia kenapa?? Marah atau kah cemburu?? Tapi yang aku rasakan sekarang, semuanya seperti sangat tidak adil bagiku.
Rengganis telah memiliki semua nya.