AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
DEBAT 27


POV DESI


Alhamdulillah di pagi ini aku mendapatkan kabar gembira dari tim pemasaran.


Produk baru kami sudah di pasarkan dan banyak orderan.


Aku sangat puas sekali dengan kinerja mereka, Ternyata tanpa Farhat dan Mawar pun mereka bisa bekerja dengan baik, syukurlah.


Hal ini juga pasti karena kerja keras Rengganis , ia tidak berhenti mempromosikan produk terbaru nya. Dan menghubungi media iklan dalam proses pemasaran.


Dalam waktu tiga hari, orderan sudah masuk. Hal ini adalah pencapaian yang fantastis untuk ukuran produk yang baru kami rilis.


Aku baru saja keluar dari toilet saat Tia datang menghampiri ku. Ia terlihat panik sekali.


" Bu.."


"Ya ada apa Tia??"


"Ada Polisi"


"Polisi ?? Dimana??"


" Di Lobby, mau ketemu Ibu dan Ibu Rengganis "


Ku teguk Saliva, tanganku gemetar karena seumur-umur aku tidak pernah berurusan dengan polisi.


" Cepat panggil Ibu Rengganis " perintah ku kepada Tia .


" Baik Bu"


Tia langsung naik ke lantai di atas ku, aku gugup sekali. Ku ambil air minum sebelum aku turun ke bawah.


Tiga orang polisi duduk tegap di gazebo Lobby, membuat ku semakin gemetaran.


"Des..."


Aku menoleh saat seseorang memanggil, syukurlah Rengganis juga sudah datang.


"Ada apa ini Nies?? Kok ada polisi?" Tanya ku.


Rengganis diam memperhatikan polisi yang menunggu kami.


"Jangan takut, kita tidak salah.. Yuk" Rengganis menggenggam tangan ku lalu menggandeng ku mendekati tiga polisi itu.


" Selamat pagi!! Apa anda Ibu Rengganis dan Ibu Desi " tiga polisi itu berdiri menyapa.


" Iya Pak saya Rengganis , dan ini partner saya Ibu Desi " Rengganis dengan santainya memperkenalkan diri.


"Baik... Maaf mengganggu, kami diberikan surat perintah untuk mengharapkan kedatangan Ibu berdua ke kantor polisi atas pengajuan Somasi dari PT RS FASHION. Jadi kami harap Ibu-ibu mau bekerja sama dengan pihak polisi guna mengusut tuntas kasus plagiarisme " Salah satu dari ketiga polisi itu menjelaskan.


" Plagiarisme ???" Rengganis mungkin sama terkejutnya dengan aku.


"Iya Bu"


Rengganis bergulir menatap ku, aku hanya mengedikkan bahuku.


" Baiklah kami akan datang" jawab Rengganis kemudian.


"Terimakasih atas kerjasamanya Bu" Polisi itu menyalami Rengganis dan aku secara bergantian. Kemudian mereka pamit pergi.


"Kau serius mau memenuhi panggilan somasi itu?" Tanyaku.


" Lalu?? Harus bagaimana lagi ?? Mau tidak mau kita harus datang"


"Tapi ini sangat tidak masuk akal, kita punya desain sendiri. Kenapa di tuduh plagiat?" Aku masih tidak mengerti kenapa mereka mengajukan somasi.


" Ini pasti ada hubungannya dengan Mawar , tempo hari dia datang mengancam ku bahwa dia akan menghancurkan perusahaan ini"


Aku terbelalak kaget mendengarnya.


"Kapan?? Apa waktu kau mau pulang itu??" Aku hanya melihat Mawar datang saat itu saja, ternyata Rengganis membenarkan.


"Ya udah ayo kita ke kantor polisi sekarang, kita harus selesai kan masalah ini"


Aku setuju.


"Aku akan telfon pengacara kita dulu"


Rengganis mengiyakan.


*


*


Rengganis duduk dengan dagu terangkat, ia tidak terlihat gentar sama sekali. Berbeda dengan diriku, telapak tangan ku membeku. Aku duduk di sisi Rengganis , sedang kan pengacara kami belum juga tiba.


" Apa anda IBu Rengganis , pemilik pabrik RDA FASHION?" sama perempuan itu.


"Yah saya Rengganis , ini Direktur saya Ibu Desi " Rengganis turut memperkenalkan diriku.


Kami berempat saling berjabat tangan bergantian. Ternyata wanita itu bernama Riri.


" Ibu Rengganis tahukah Anda , Apa alasan kami mengajukan somasi kepada pabrik Anda?" tukas Riri.


" Yah tadi polisi sudah memberitahukan bahwa anda menuduh kami telah melakukan plagiarisme " jawab Rengganis .


"Betul ibu dan itu bukan hanya tuduhan semata, Kami membawa bukti-buktinya" Riri menyodorkan sebuah berkas ke hadapan Rengganis .


Rengganis pun mengambil nya, ia memeriksa lembar demi lembar bukti yang di ajukan.


"Dan kami harap , Ibu mau menarik kembali produk yang sudah launching itu sebelum kami gugat" Imbuh Riri.


Rengganis tersenyum miring.


" Saya tegaskan di sini , bahwa saya tidak melakukan plagiat atas desain saya. Itu murni hasil karya saya sendiri" Rengganis sangat tegas menjawab.


" Bu, desain yang Ibu buat sekarang. Itu adalah produk kami sedari dulu. Dan saya sudah memeriksa secara detail bahwa itu memang sama persis" Riri tidak mau mengalah.


" Kalau begitu, saya ingin bertemu dengan desainer kalian " Rengganis menantang.


"Itu tidak bisa Bu"


" Kenapa ??Biar jelas semua, bahwa desain saya bukan milik nya"


" Karena desainer yang membuat baju itu sudah meninggal, beliau adalah pemilik perusahaan kami yang pertama "


Rengganis nampak terkejut, ia diam seribu bahasa. Rengganis melirik ku, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.


" Kapan beliau meninggal ?" Tiba-tiba Rengganis ingin tahu.


" Sudah lama Bu"Riri menjawab.


"Kau sempat bertemu dengan nya?"


Aku heran kenapa Rengganis bertanya seperti itu.


Riri pun nampak kurang suka, ia melemparkan pandangan nya kepada sang pengacara. Pria itu mengangguk memberi kode.


" Tidak, saya tidak pernah bertemu "


"Kalau begitu kenapa kamu sangat yakin sekali bahwa desain saya sangat mirip dengan desain beliau? Sedangkan anda belum pernah bertemu dengan penciptanya "


Rengganis berhasil membuat Riri tak bisa menjawab.


" Maaf, saya sebagai pengacara dari pihak PT RS FASHION ingin mengatakan jika dilihat secara detail. Rancangan Ibu Rengganis memang sangat mirip dengan desain legendaris pabrik kami" Pria yang duduk di samping Riri menimpali.


" Kalau begitu saya ingin bertemu langsung dengan CEO kalian, agar saya yakin bahwa desain kami sama persis " Rengganis melipat tangan di dada dengan angkuhnya.


" Sertakan juga gambar desain yang asli, buka fotocopy seperti ini " Rengganis menunjuk berkas di atas meja.


"Jadi anda tidak akan menarik produk anda dari pasar ?" Riri menyahut.


" Kalau memang saya terbukti melakukan plagiat, saya bukan hanya akan menarik nya, tapi saya akan bayar pinalti kepada perusahaan kalian "


Waowww Rengganis begitu mantap dan yakin, diam-diam aku sangat mengagumi sahabat sekaligus bos ku itu.


Riri melakukan diskusi dengan pengacaranya, tiba-tiba ia berdiri dan keluar sebentar.


Setelah itu dia masuk lagi dan duduk di tempat semula.


"Maaf, Bos kami tidak berkenan untuk bertemu. Jika Anda enggan menarik produk anda? Maka tunggu kami di meja hijau " Riri berdiri kembali, lalu memutar tubuhnya untuk pergi.


Ia sama sekali tidak memberi waktu kepada kami untuk negosiasi kembali.


"Nies...Gimana ini??" Tanya ku bimbang.


"Tidak ada jalan lain, kita akan mendatangi perusahaan nya"


"Sampai harus melakukan itu??" aku terhenyak tak percaya.


" Mau gimana lagi??? Kalau tidak,,, kita akan berdebat di meja hijau, produk kita akan di pending. Aku tidak mau menunggu untuk itu"


Rengganis bangkit lalu melangkah keluar, aku mengikutinya dari belakang.