
POV FARHAT
Ini hari kedua aku bekerja di tempat baru, Ibuku sangat antusias setelah tahu gaji nya lebih besar dari pabrik milik Rengganis . Ia pun mendoakan aku agar bisa lebih sukses dari tempat kerja lamaku.
"Hari ini kamu sidang perdana mu ya FARHAT?" Tanya Ibuku sambil menyeduh kopi untuk ku.
"Iya Bu.."
"Bagaimana dengan pekerjaan mu? Kau baru dua hari kerja sudah mau ambil cuti "
"Nanti Mawar yang urus semuanya Bu" jawab ku.
"Ohhh begitu... ya udah... setelah itu kalian segera lah menikah, jangan buang-buang waktu lagi. Mawar mau kan tinggal disini ??"
Aku menggelengkan kepalaku,
"Entahlah Bu... kami belum membicarakan hal tersebut "
"Loh kok gitu ??"
Ibuku duduk di kursi samping tempat duduk ku.
"Pokoknya Mawar harus tinggal disini Farhat, Jangan mau kamu ikut dia"
Aku hanya bisa tersenyum saja, rasanya malas sekali untuk membahas pernikahan ku dengan Mawar .
"Ya udah, Farhat berangkat dulu Bu"ku sesap kopi yang masih panas, Lalu ku cium tangan Ibuku.
"Kopinya masih panas Far..."
"Nggak apa-apa Bu... nanti pulang kantor Farhat minum lagi" Aku hanya memberi alasan. Ibuku percaya saja, gegas ku langkahkan kaki keluar dari rumah. Perasaanku sangat tak menentu bila mengingat akan sidang perceraian ku dengan Rengganis .
*
*
Jam delapan lewat sepuluh menit, Mawar memberi kode agar aku segera pergi. Aku pun bangkit dan keluar dari ruang kerjaku.
Ku lajukan mobil ku secepat yang aku bisa. Setibanya di pengadilan agama, ku berlari kecil masuk ke dalam. Dan disana aku langsung menghampiri petugas dan menanyakan sidang ku apa sudah dimulai atau masih belum.
Dan jawaban yang aku dapat sangat membuat ku terkejut. Sidang di tunda karena pihak yang dituntut sedang kurang sehat.
Rengganis sakit??
Entah aku pun tak mengerti dengan perasaan ku, ada rasa lega karena sidang ditunda.Tapi ada rasa cemas karena Rengganis sakit.
"Sakit apa dia?" tanyaku sembari melangkah keluar dari gedung pengadilan agama.
"Mas..."
Aku refleks menoleh saat mendengar seseorang memanggil.
"Nies..." tubuhku seperti memiliki kekuatan yang super cepat menghampiri wanita itu" Katanya kamu sakit ?? sakit apa??"
"Bisa kita bicara Mas?"
"Bicara ?? bisa-bisa...dimana?"
"Di rumah ku"
"Rumah mu???" ku terkejut mendengar jawaban Rengganis , selama ini aku belum tahu Rengganis punya rumah.
"Baiklah..."
"Tapi .. apa Mas tidak sibuk ??"
"Tidak... Tidak tenang saja... Ayo..."
"Aku ikut kamu ya Mas"
Suara lembut Rengganis membuat ku mendadak gugup.
"Ba-baik lah"
Segera ku hampiri mobil ku dan ku buka pintu di kursi penumpang di sebelah tempat duduk ku.
Ku persilahkan Rengganis masuk, Lalu aku melangkah mengitari mobil masuk di pintu sebelah.
"Kamu arahkan jalan ya, Aku belum tahu rumah mu" ucapku sebelum ku injak pedal gas. Rengganis mengiyakan... senyuman nya ya Ampun Tuhan.. Dia manis sekali.
Hatiku berdebar kencang saat Rengganis memberi arahan untuk masuk ke sebuah komplek perumahan mewah di Jakarta Pusat. Ini setahuku harga rumah nya bisa miliyaran.
Dan benar saja, Rengganis meminta ku untuk berhenti di depan sebuah gerbang setinggi tiga meter.
Ia menekan sendiri klakson mobil ku berkali-kali, tak lama kemudian pintu gerbang yang memakai remote control itu terbuka perlahan.
"Ini rumah mu-?"
Rengganis tersenyum, Ia keluar lebih dulu dari mobil ku. Seorang perempuan paruh baya mendekati Rengganis , Ia bicara pelan dan dijawab dengan gerakan tangan oleh Rengganis . Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, Tapi sepertinya perempuan itu tidak suka melihat ku datang.
"Ayo Mas...masuk" Rengganis melambaikan tangan, Aku pun mengikuti langkah nya.
"Silahkan duduk Mas"
Aku mengambil tempat duduk di kursi tunggal, begitu pun juga Rengganis .
"Maaf ya Mas, aku terpaksa mengajakmu ke sini. Karena aku kan masih masa iddah , Jadi aku nggak bisa ke mana-mana selain ke kantor"
"Ya nggak apa-apa Nies, disini lebih nyaman "jawabku agar Rengganis tidak merasa sungkan.
"Maaf ya Mas sebelumnya , Karena aku terpaksa menunda perceraian kita"
"Iya... emang kamu kenapa ??" Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Rengganis .
"Aku nggak apa-apa, Hanya saja... Aku kepikiran tentang permintaan mu Mas. Bukankah kamu ingin kesempatan kedua ?"
Aku terbelalak kaget, apakah pendengaran ku tidak salah ??
"Gimana Mas?"
"Ah...emmm... Apa ...apa..kamu serius ??" Gemetar rasanya tubuh ku, darahku terasa hangat.
"Loh?? kok malah nanya balik, sepertinya kamu hanya mempermainkan aku Mas" Rengganis membuang muka.
"Ah tidak Nies... Tidak... Aku tidak mempermainkan mu, Aku serius... Tapi... Aku hanya tidak percaya... karena... Karena aku... Aku sudah.. sudah sangat menyakiti mu"
Rengganis memasang wajah ditekuk, Aku jadi serba salah. Tak ada jalan lain, segera ku jatuh kan tubuh untuk berlutut di depan nya.
"Nies..."
Rengganis terperanjat melihat reaksi ku.
"Kamu apa-apaan Mas? cepat bangun.."
"Nggak... Aku tidak mau bangun , kalau perlu aku akan mencium kakimu. Aku sungguh menyesal Nies... Aku... Aku tidak pantas mendapatkan pengampunan dari mu"
Rengganis kebingungan, Ia seperti mencari seseorang.
"Nies"ku sentuh tangan yang bertumpu di atas lutut nya. Dia cepat menarik tangan nya itu.
"Cepat bangun Mas, Dan pergilah "
Aku tercengang, pergi???
"Tapi kamu belum memaafkan aku Nies"
"Aku sudah memaafkan mu Mas" Rengganis menjawab seperti orang yang was-was.
"Tapi...tapi..."
"Sudah jangan tapi-tapian lagi, cepat lah pergi!!"
"Nies.... Aku ingin kita rujuk" Aku tetap berkeras hati tidak ingin bangun ataupun pergi tanpa kepastian.
Rengganis diam menatap ku mendalam.Ku balas Tatapan nya dengan penuh iba.
"Baiklah...tapi tolong... bangun lah Mas"akhirnya Rengganis kembali berlembut dengan ku.
Aku tersenyum senang, Dan mengikuti keinginan nya untuk bangun.
Tiba-tiba pada saat itu datang lah perempuan paruh baya tadi dengan membawa minuman dan beberapa camilan.
Ia meletakkan di atas meja, Lalu pergi.
"Di minum dulu Mas teh nya, ini teh jahe yang sering aku buat untuk mu"
Aku tersenyum senang, yah... itulah kebiasaan Rengganis saat aku baru pulang kerja. Teh jahe sangat berkhasiat untuk mengembalikan metabolisme tubuh. Aku suka!
Setelah ku sesap teh itu sedikit, Rengganis menyodorkan camilan yang disediakan. Aku pun mengambil nya satu dan ku makan.
Selepas itu, ku minum lagi teh jahenya. Benar-benar diriku serasa dilayani kembali oleh Rengganis .
Tetiba aku merasa kepala ku sedikit pusing, Dan mataku ngantuk sekali.
"Kenapa Mas??"
"Nggak tahu nih?? Aku merasa sangat mengantuk"
"Ya udah istirahat dulu ya Mas" Rengganis menyodorkan bantal kecil padaku, setelah itu aku tidak bisa mengingat apapun lagi.