AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
MALU 22


Aku terkejut dan hampir sakit jantung mendengar ucapan Desi , dengan lantang ia mengatakan aku habis bercinta dengan Mas Farhat .


Mawar pun segera angkat kaki dengan raut wajah merah, sudah pasti dia akan sangat marah sekali.


"Des!! Kamu apa-apaan sih ?!" tak dapat ku tahan rasa kesalku padanya.


"Emmm.. Aku" Desi nampak gugup,


"Apa maksud kamu bilang aku habis bercinta dengan Mas Farhat ?? Kalau kamu ingin membalas Mawar , Terserah !! Tapi jangan permalukan aku" Ucapku dengan nada tegas.


Lebih baik aku pergi saja dari tempat itu, Mas Farhat terus berusaha mengejar.


"Nies...kamu mau kemana ??" ia menghalangi jalanku.


"Aku mau pulang Mas!"


"Ya udah ayo aku anter"


"Nggak perlu, Dan juga jangan pernah berhubungan apapun lagi dengan ku. Karena kita akan bercerai secepatnya"


Ku lawan Tatapan matanya sesaat, lalu ku tinggalkan dia tanpa ku hiraukan. Ia terus berusaha menahan ku meskipun aku sudah masuk ke dalam taxi.


Aku masih sempat melihat Desi yang masih berdiri di tempatnya dengan raut wajah bersalah.


*


*


Setibanya di rumah, Dua pembantu ku kaget melihat ku datang tanpa mengucapkan salam. Mereka segera berdiri dan menutup layar tv.


"Nyonya... Nyonya pulang dengan siapa??" tanya Bik Nursih .


"Sendiri Bik" jawab ku.


"Loh?? katanya mau pulang dianter seseorang" ujar Komang.


"Seseorang siapa? Dan siapa yang bilang sama Mamang kalau akan ada yang nganter aku ?" aku jadi merasa curiga.


"Mbak Desi , dia yang nelpon Mamang agar nggak usah jemput Nyonya. Saya pikir seseorang itu mantan suami Nyonya" jawab Komang.


Ku picingkan mataku , sepertinya ada yang tidak beres.


"Mang... tadi... Mamang lihat waktu Mas Farhat pulang itu lehernya kenapa ya??"


"Emmm" Komang terlihat ragu untuk menjawab, ia menatap sang istri. Bik Nursih ngasih satu kode kepada suaminya yang tidak aku mengerti.


"Jawab Mang!!" gertakku.


"Ah iya Nyonya... emmm saya yang membuat leher Pak Farhat merah-merah "


"Apa???"Aku tak bisa percaya ini"Kenapa Mamang lakukan itu ?"


"Disuruh Mbak Desi Nyonya "


Ku tarik nafas dalam-dalam karena mendadak dadaku terasa nyeri. Desi lagi Desi lagi... Aku tidak akan membiarkan Desi bertindak sesuka nya. Aku tidak mau dia merusak seluruh hidupku dengan membuat Mas Farhat membatalkan perceraian kami.


Tak lama kemudian ponsel ku berdering, Tapi aku biarkan saja. Setelah dadaku sakit, sekarang justru kepala ku yang pusing.


Ku duduk kan tubuhku di atas sofa, Bik Nursih sigap duduk di bawah kakiku memijitnya.


Mungkin dia merasa bersalah karena tidak melarang Komang saat mengerjai Mas Farhat .


Ponselku berdering lagi, dengan terpaksa aku pun mengambil benda pipih itu di dalam tas ku .


MAS Farhat


Ku tarik tombol hijau dengan malas.


"Hallo"


"Di rumah"


"Emmm aku datang ya"


"Ngapain Mas"


"Emmm kita kita perlu bicara"


"Apalagi yang harus kita bicarakan Mas?? Sudah tidak ada lagi hal yang harus kita bicarakan" Aku tegaskan agar Mas Farhat sadar.


"Tapi .."


"Mas" Ku potong cepat kalimat nya" Kejadian tadi siang, tidak terjadi apa-apa diantara kita. Kamu hanya salah paham.. Dan tolong jangan ganggu hidup aku lagi. Kau mengerti Mas"


"Nies"


Tak ku beri kesempatan dia mengatakan apapun lagi, Aku mematikan sambungan secara sepihak.


Dua pembantu ku menatap ku dengan rasa bersalah. Aku sebenarnya kesel banget, kenapa mereka justru patuh sama Desi ?


"Mang... kenapa Komang bisa mengikuti permintaan Desi begitu saja? apa Komang nggak mikir bahwa hal itu justru akan mempermalukan aku Mang? Apa Komang menginginkan aku balikan lagi sama Mas Farhat?"


Komang menggeleng cepat.


"Komang tahu nggak dampak dari perbuatan Komang ini apa?"


"Maafkan saya Nyonya " Komang tertunduk malu.


"Alah... malas aku Mang..." Ku tepis tangan pasutri itu dari kaki ku" Cepat masuk ke dalam, Aku lagi nggak mood melihat kalian berdua " Cetusku


"Nyonya... maafkan kami" Bik Nursih memohon dengan wajah memelas.


"Lain kali kalian harus mikir gimana dampaknya gitu?? aku malu Mang... Bik... aku malu"


Keduanya menundukkan wajahnya.Tetiba ponsel ku berdering kembali. Karena aku masih menggenggamnya, Jadi aku bisa lihat siapa yang menelepon.Ternyata Desi ! Ku reject saja, Tapi Desi menelfon lagi. Ku reject lagi, nelfon lagi. Sampai berkali-kali, dan akhirnya terpaksa aku angkat.


"Hallo Beb..."


Aku diam


"Beb... Say... Maafin aku"


Aku tetap diam


"Aku sadar aku sudah keterlaluan sama kamu, Aku cuma ingin membalas Mawar "


"Dengan mempermalukan aku??"Akhirnya ku tak tahan lagi.


"Maaf..."


"Kamu sudah kayak ngasih aku tai ke mukaku Des,di depan karyawan ku lagi... Apa kata mereka nanti ?? sebagian dari mereka nggak tahu lho Des kalau aku tuh adalah istri dari Mas Farhat. Tapi setelah aku akan bercerai dengan dia mereka Jadi tahu semuanya Des. Dan malah tahu kejadian yang tak pernah aku lakukan , mau ditaruh di mana mukaku Des"


Senyap... Desi tak mengatakan apapun, Hanya ku dengar suara sesenggukan disana.


"Pokoknya aku tidak mau tahu ya Des, mulai sekarang kamu tidak perlu mengusik hubungan Mas Farhat dan Mawar dengan alasan apapun, Itu pun kalau kamu masih mau berteman dengan ku.. Paham!!"


Ku matikan telepon tanpa persetujuan dari pihak seberang. Hatiku sudah amat sangat kesal.


Ingin rasanya aku lenyap dari muka bumi ini, agar aku bisa menghindar dari pandangan orang-orang.


Kepercayaan ku kepada orang-orang terdekat ku seperti terkhianati. Desi, Komang, Bik Nursih, mereka adalah orang yang dulu mengutuk perselingkuhan yang dilakukan oleh Mas Farhat .


Tapi sekarang, mereka semua justru menjebak ku dalam situasi yang rumit dengan Mas Farhat .


Aku harus mengambil tindakan tegas dalam hal ini, apa yang aku inginkan mereka perlu tahu!! Tidak penting bagaimana nantinya, yang paling utama aku tidak ingin dekat lagi dengan Mas Farhat dan keluarga nya dalam hal apapun.