
" Nies..."
Suara Desi terdengar panik bersamaan dengan terbukanya pintu ruang kerja ku.
Aku dan Indra mendongak serta merta, Desi melangkah panjang mendekati ku.
" Kau sudah lihat berita terkini belum??"
Aku menggeleng, pertanyaan yang membingungkan bagiku. Ada apa memang nya?
" Farhat kecelakaan "
Dua bola mata ku melebar secara bersamaan, begitu pun dengan Indra. Kami sempat bertentangan mata.
" Kapan?" Tanyaku.
" Kemarin, aku liat beritanya baru saja" Desi semakin memperjelas.
" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un " ku usap dadaku pelan.
" Mau jenguk??" Dua patah kata yang diucapkan oleh Indra berhasil membuat ku gugup.
Sebenarnya aku ingin, tapi untuk bertemu keluarga nya Mas Farhat , aku merasa enggan.
" Jenguk yuk" Desi justru mendukung, kenapa dia jadi bersemangat sekali?
" Apa tidak apa-apa?" Tanyaku ragu.
" Ya nggak apa-apa lah, lagian juga pasti seru. Kita akan melihat secara langsung karma dibayar kontan, no kredit ataupun COD" Celutuk nya yang membuat Indra tersenyum menutup mulut.
Aku mendapatkan kebahagiaan dari senyum mereka berdua.
" Ayuk ah buruan" Desi menarik tangan ku agar gegas bangkit. Terpaksa ku ikuti kemauannya. Indra Lesmana juga mengikuti kami berdua.
Setibanya di rumah sakit, Desi hendak bertanya kepada suster penjaga meja resepsionis. Tapi tiba-tiba aku melihat kelibat Dino yang baru saja melewati kami bertiga.
" Din.." Seruan ku berhasil membuat Dino menoleh, dan Desi pun mengurungkan niatnya.
" Mbak Anies?" Ia terlihat kaget melihat ku berada di sana, ku hampiri dia diikuti oleh Desi dan Indra.
" Kamu mau jenguk Mas Farhat ??" Tanyaku, karena ku lihat seragam sekolah nya bersembunyi di balik jaket yang dipakai nya.
Dino mengiyakan
" Mbak Anies sendiri ngapain disini??" Ia balik bertanya.
" Kami mau menjenguk Kakak mu" Desi menjawab mendahului ku. Dino terlihat kurang percaya, tapi ku yakin kan ia dengan anggukan kepala.
" Ya udah, Ayuk Ikut Dino" Ajak Dino , kami pun mengiyakan.
Ternyata Mas Farhat dirawat di kamar kelas ekonomi, yang mana di setiap kamar ada beberapa pasien menjadi satu ruangan.
" Bu..." Dino memanggil Ibunya Mas Farhat. Tapi semua ahli keluarga yang berada di sana turut menoleh.
Ibu yang melihat ku nampak terkejut, begitu juga dengan Yasmine. Hanya Bapak yang tidak ada di sana.
"Bu..." Aku menyalami Ibu dengan penuh takzim. Ku rasakan telapak tangannya dingin sekali.
" Bagaimana kabar Ibu? Sehat??" Tanyaku beramah-tamah.
" Sehat,,, Tapi Farhat ??" Ibu melemparkan pandangan nya ke atas katil pasien. Disana tergeletak Mas Farhat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Ibu menutup wajahnya, punggung nya bergetar. Ku hampiri dia lalu ku peluk pundaknya.
" Yang sabar ya Bu,,, Anies baru denger berita nya hari ini dan langsung meluncur kesini. Kenapa Mas Farhat tidak di rawat di kamar yang lebih baik Bu?" Aku bertanya demikian karena aku tahu Ibu pasti mampu membayar kamar yang lebih baik dari pada kamar kelas ekonomi.
" Mau bayar pakek apa?? Ibu tidak punya uang, ini pun Ibu berusaha agar bisa pakai BPJS. Bapak masih mengurus surat-surat persyaratannya "
Aku sedikit tersentak mendengar pengakuan Ibu, kalau beliau bilang tidak punya uang? Lalu kemana uang gaji pensiunan Bapak. Toh selama ini yang aku tahu semua kebutuhan sudah dicukupi menggunakan gaji Mas Farhat .
" Emmm Ya udah gini aja Bu, biar Anies yang bayar semua pengobatan Mas Farhat . Nanti Anies akan urus kepada Dokter dan pihak rumah sakit agar Mas Farhat dipindahkan ke kelas VIP" Sahut ku yang spontan membuat Ibu terhenyak tak percaya.
" Benarkah Anies akan bantu Farhat ??" tanyanya kurang yakin. Aku mengangguk mantap.
Sedangkan aku justru terkesiap kaget.
" Tante,,, jangan salah paham dulu, Rengganis melakukan ini hanya untuk membantu sesama manusia saja. Bukan karena dia masih sayang atau gimana sama Farhat" Desi cepat bertindak untuk menjelaskan.
" Lagian kan Farhat sudah punya Mawar " Imbuh si Desi .
" Mawar??? Cih... perempuan durjana itu justru kabur ke luar negeri saat Farhat mengalami kecelakaan " Ibu Farhat berdecih kesal.
" Nies.... maafin Ibu Ya... selama ini Ibu sudah banyak menyusahkanmu, dan selalu menyakiti hatimu. Ibu sangat menyesal Nak" Ibu Mas Farhat menggenggam kedua tanganku dengan erat.
" Iya Bu, nggak apa-apa... Anies sudah memaafkan Ibu Kok" Jawab ku lembut.
" Makasih ya makasih banyak, Ibu sangat menyesal dulu merestui hubungan Farhat dan Mawar . Kalau saja Ibu tahu Mawar akan begini sikap nya disaat Farhat mengalami musibah, tidak akan Sudi ibu mengijinkan dia menginjakkan kakinya di rumah kita"
Ku lirik Desi mencebikkan bibirnya mendekati penuturan Ibunya Mas Farhat .
" Sekarang Ibu sudah tidak mau tahu lagi tentang Mawar , toh kamu dan Farhat kan bisa rujuk "
Kata terakhir yang Ibu ucapkan berhasil membuat ku tak nyaman.
" Tante,,,, tolong hargai Bos Indra dong, dia ini calon suami Rengganis loh" Timpal Desi .
Raut wajah Ibu Mas Farhat spontan berubah, ia menatap ku dan Indra bergilir.
" Benarkah Itu Nies??" genggaman di tangan nya mengendur.
Aku bingung harus menjawab apa? Jika aku jawab tidak, pasti beliau tetap dengan pedenya menganggap aku masih mencintai Mas Farhat. Tapi jika ku iyakan?? ceritanya akan lain dengan dampak yang lain juga.
" Maafkan Rengganis Bu" hanya kata itu yang mampu keluar dari kerongkongan ku.
Ibu Mas Farhat mencampakkan tanganku.
" Kalau begitu ngapain kamu datang ke sini?? pergi sana!! Farhat tidak butuh bantuan dari perempuan yang tega mempermainkan perasaan nya" cetus Ibu Mas Farhat .
" Alah Bu,,, orang mau jenguk Mas Farhat aja harus balikan toh. Justru Mbak Anies itu mau berhubungan baik nggak mau musuhan meskipun Mas Farhat dan Ibu sudah menyakiti hati nya" tiba-tiba Dino yang semula diam menyelutuk.
" Diam kau Dino" Sergah Yasmin dengan mata mendelik.
" Wuih aku nggak nyangka loh Nies, dalam keluarga mantan suami mu ini? Ada bocil pemberani" Desi merangkul bahu Dino dengan erat. Aku tersenyum hambar.
" Ya udah yuk sayang, katanya mau mengurus kepindahan Farhat ke ruangan VIP" Indra juga dengan berani memanggil ku sayang di depan semua orang.
" Nggak usah ya anda sok baik " Cetus Ibu Mas Farhat , wajahnya begitu dingin dan sadis.
" Tante, yang sopan dong. Entar Farhat di pecat dari pekerjaannya gimana??" Lagi-lagi Desi menyahut.
" Emang apa hubungannya dengan pria ini?" Yasmin turut ikut bicara.
" Loh, jadi kalian belum tahu?? Pria ini adalah Bos di tempat Farhat bekerja " Desi menepuk bahu Indra dengan bangga.
Refleks Ibu Mas Farhat dan Yasmin melongo.
" Kami dari PT RS FASHION akan menanggung semua biaya rumah sakit saudara Farhat sampai beliau sembuh total. Gaji setiap bulan akan tetap kami bayar 75% meskipun saudara Farhat tidak bekerja. Nanti setelah dia sembuh, saudara Farhat bisa bekerja kembali "
Indra Lesmana berhasil menghipnotis kamu semua, begitu pun dengan diriku.
" Wih enak betul, seumur-umur belum ada perusahaan yang menggaji karyawan nya yang sedang sakit. Malah membayar semua tagihan rumah sakit, Daebak Daebak " Desi bertepuk tangan, Dino ikut-ikutan bertepuk tangan.
" Tante, nanti Dino kalau sudah lulus bisa kerja di perusahaan Om ini nggak?" Celutuk Dino kemudian.
" Bisa dong" Yang menjawab justru Indra sendiri.
" Asyiiik " Dino begitu girang sekali.
" Janji loh Bang" Sahutku, karena aku merasa berhutang budi dengan Dino yang selama ini selalu berempati kepada ku.
" Pasti sayang" belaian lembut mendarat mulus di pipi ku.
" Cieeeeeee" Desi menyoraki kami, dibantu oleh Dino. Aku jadi tersipu malu.
Tapi Ibu Mas Farhat justru melengos sinis.