
Dalam beberapa detik kemudian suasana sidang jadi panas. Mas Farhat panik, ia nampak gelisah dengan sesekali menggeser-geser tubuhnya.
" Maaf Tuan Hakim, bukankah sekarang sudah jelas motif dari Tuan Farhat ingin rujuk dengan klien saya " seru pengacara ku yang semula tidak bisa berbuat banyak.
Tuan Hakim hanya manggut-manggut mendengar pembelaan dari pengacara ku.
Aku menoleh ke belakang, di sana Indra Lesmana melemparkan senyuman kepada ku.
" Dan demi keamanan klien kami, saya harap Tuan Hakim segera membuat keputusan"
Pengacara ku menambahkan, Tuan Hakim berbisik kepada jaksa pendamping. Keduanya saling mengangguk dan mengemukakan pendapat.
" Baiklah, setelah menimbang dan seterusnya, saya putuskan bahwa mulai detik ini Saudari Siti Rengganis dan Saudara Muhammad Farhat dinyatakan sudah bukan suami istri lagi"
TOK TOK TOK
Alhamdulillah,,,, aku mengusap wajah ku sebagai rasa syukur. Pengacara ku datang menghampiri dan kami saling bersalaman.
"Terimakasih Pak sudah membantu saya" ucapku.
" Nyonya seharusnya berterima kasih kepada saudara Nyonya yang sudah membawa bukti penting ini ke pengadilan " tanggap pengacara.
Ku lempar kan pandangan ku kepada Indra Lesmana yang menghampiri kami. Ia juga berjabat tangan dengan pengacara ku.
Sesaat ku lihat Mas Farhat sudah keluar dari ruang sidang.
" Ayo..."
Suara ajakan Indra Lesmana mengalihkan perhatian ku. Aku mengangguk menyambut ajakan nya keluar dari ruang sidang.
" Dari mana Bang Bang dapet rekaman itu?" tanyaku saat kami sudah dalam perjalanan pulang.
" Ada deh" ia menjawab disertai kerlingan mata.
" Ihhh apa-an sih? kok main rahasia-rahasian segala " ku pukul bahunya pelan.
" Kamu kan yang main rahasia-rahasian duluan " Ia menyindir ku.
" Bukan gitu Bang, aku hanya tidak ingin menyangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Jadi aku akan anggap tidak mengenal mereka saja" jawab ku.
" Ya tapi ternyata mereka justru ingin mencelakakan mu kan??"
Aku membuang pandangan ku jauh, rasanya sebak sekali mengingat kata-kata Mas Farhat dalam rekaman tadi. Aku tidak menyangka dia bisa punya rencana sekeji itu.
" Jangan nangis, kau harus bersyukur karena aku bisa tahu lebih cepat"
Suara Indra Lesmana membuat ku menghapus air mata yang meleleh pelan. Ku pasang senyum disertai tarikan nafas mendalam.
" Makasih ya Bang... Kalau nggak ada kamu, kemungkinan besar Hakim akan menunda sidang"
Indra Lesmana menanggapi dengan senyuman.
" Ohya, ini kita mau kemana?" pertanyaan nya mengalihkan percakapan.
" Aku mau langsung ke kantor aja Bang" jawab ku.
"Nggak mau mampir ke kantorku? sekalian kita makan siang bareng" Indra Lesmana memberikan rencana cadangan. Ku lirik arloji di tangan.
" Masih lama Bang waktu makan siangnya, tinggal 2 jam lagi " Tolak ku memberikan alasan yang masuk akal.
" Ya nggak apa-apa kita nunggu di kantorku aja , sambil ngobrol" Indra tetap kekeuh ingin mengajak ku.
" Emang Abang nggak bosan lihat muka aku terus-terusan " candaku
" Ya enggaklah, kalau perlu selamanya Aku hanya ingin melihat wajah kamu" Aduh dia justru menjawab dengan rayuan. Aku memalingkan wajah menutupi rasa malu.
Entah apa yang ia pikirkan setelah itu, tapi ternyata dia justru mengantar ku ke kantor.
Seperti biasa dia membuka kan pintu untuk ku, dan mempersilahkan aku untuk keluar.
Bak seorang putri saja, membuat ku malu karena dilihat oleh para karyawan pabrik yang tengah lalu lalang.
"Terimakasih Bang" ucap ku, ia mengangkat kedua alisnya.
Bunyi alarm kunci mobil berbunyi, membuat ku heran. Karena aku pikir dia akan pergi, eh ternyata malah ikut aku.
" Bu..." Seorang staf penjaga meja resepsionis menghampiri ku " Ada seorang perempuan mencari Ibu" Ucap nya sopan.
" Siapa??"
" Saya kurang tahu Bu, dia sekarang sedang ada di Lobby"
Aku pandangi Indra yang juga menatap ku. Mungkin dia juga penasaran siapakah gerangan orang yang mencari ku?
" Tasyi??" Indra menyebut sebuah nama saat kami melihat punggung seorang wanita. Yang di sebut menoleh, ternyata benar itu adalah Tasyi.
Indra sangat kenal betul bentuk tubuh wanita itu meskipun tanpa melihat wajahnya.
" Hey... Kau ada disini?" Sapanya lembut, ia bangkit lalu cipika cipiki dengan Indra.
Tapi dengan ku yang sesama wanita, dia justru hanya bersalaman saja.
" Ngapain kamu ada disini?? Mencari Ies lagi??" Pertanyaan Indra mewakili rasa penasaran ku.
" Yah apa salah nya, dia kan juga seorang pemilik pabrik tekstil" Jawab nya santai, tapi aku kok jadi ragu dengan apa yang ia katakan.
" Oh, jadi kamu mau kerjasama dengan dia?? Hemmm mau menduakan RS nih" Indra menggoda, mengakibatkan sebuah tepukan hangat mendarat bebas di bahu nya.
" Ya nggak lah Say, kan beda produksi. RS FASHION bagian baju anak-anak, tapi RDA kan baju dewasa"
" Hemmm Ok ok...no problem, ya udah lebih baik kamu berdiskusi langsung dengan CEO RDA saja. Atau sekalian kalau ingin berdiskusi mengenai RS FASHION juga nggak apa-apa. Karena dia juga CEO disana"
Aku mendelik membuat Indra Lesmana tertawa lepas.
" Mari keruangan saya saja Nyonya Tasyi, kalau bicara disini seperti nya sangat tidak etis " Ajakku sopan.
" Ok"
" Bang, lebih baik kamu balik aja ke kantor" Aku sengaja ingin bicara dengan Tasyi tanpa Indra.
" Kenapa??"
" Ini pembicaraan antara RDA loh " jelas ku. Tapi Indra justru tersenyum.
" Kau tahu itu tidak akan bisa membuat ku pergi, jika memang kamu ingin bicara berdua tanpa aku? Aku akan menunggu sambil melihat-lihat pabrik kecil mu ini" Lagi-lagi aku kalah, pria ini terlalu sulit untuk ku kelabui.
*
Ku persilahkan Tasyi untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjaku. Gadis cantik itu pun mendudukkan tubuhnya sembari menyilang kan kaki.
" Ok, Nona Tasyi.. Silahkan anda katakan apa yang ingin anda bicarakan dengan saya? Dan saya yakin ini bukan hanya sekedar masalah kerja sama " Aku memang malas untuk berbasa-basi, apalagi dengan seseorang yang pernah menyinggung perasaan ku.
Tasyi tersenyum tipis, senyum yang terlihat sangat percaya diri sekali.
" Anda memang punya insting yang sangat tajam "
Pujian nya sama sekali tidak menyenangkan bagiku.
" Baiklah, saya to the points saja . Seperti yang anda tahu, saya menyukai Indra Lesmana. Dan seperti yang saya tahu, dia menyukai anda. Tapi is ok, no problem.. Itu bukan masalah buat saya. Dengan secara terbuka saya akan mengatakan kepada anda Nyonya Rengganis , bahwa saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan Indra Lesmana"
Tutur kata nya sangat mantap dan yakin, aku tidak bisa menahan senyum ku.
" Hanya itu??"
Ia mengernyitkan keningnya mendengar tanggapan singkat ku.
" Kalau hanya itu yang ingin anda sampaikan kepada saya? Anda seharusnya tidak perlu repot-repot datang dan mengatakan nya kepada saya Nona Tasyi. Lakukanlah apa yang anda inginkan, saya tidak perduli"
" Baiklah, tapi agar semuanya terlihat jelas. Saya ingin bekerja sama dengan pabrik Anda sebagai konsumen dan produsen "
Ku tatap anak matanya dengan tajam.
" Anda tidak perlu khawatir, saya orang yang profesional. Bisnis adalah bisnis, cinta adalah cinta " ia menambahkan agar aku yakin dengan ajakannya.
Tapi justru aku merasa ini seperti sebuah jebakan yang ingin menjatuhkan mental ku.
" Baiklah..." Ku ulurkan tangan ku sebagai tanda jadi kerja sama kami. Tidak mungkin ku tolak, karena aku tidak ingin terlihat takut ataupun lemah dengan tantangannya.
Bibir manisnya melengkung sempurna, ia pun menyambut uluran tanganku.