
POV FARHAT
Tanggal 25 November, akan ku tandai sebagai hari terna'as dalam hidup ku.
Rencana yang hampir berhasil harus kandas gara-gara Bos ku mendapatkan rekaman pembicaraan ku dengan Mawar .
Entah dari mana dia bisa mendapatkan nya? Aku pikir dia bersikap ramah dan biasa saja, karena dia tidak tahu tentang aku dan Rengganis . Tapi ternyata aku salah, memang sangat mustahil Rengganis tidak cerita. Melihat hubungan mereka yang sangat dekat.
AKHHHHH
Ku banting setir ke bahu jalan, aku benar-benar merasa frustasi. Bagaimana jalan hidupku ke depannya?? Apa aku akan di pecat?? Ataukah aku akan di tuntut atas rencana pembunuhan terhadap Rengganis ??
Ku benamkan wajahku di atas stering mobil. Tapi teriakan ponselku memaksa untuk ku angkat wajahku.
" Hallo.." Sapaku kepada Mawar di seberang sana.
" Sayang, gimana proses sidang nya?? Lancar??" Suara Mawar terdengar pelan dan menggema. Sepertinya dia sedang berada di dalam toilet.
" Kacau, semua kacau " jawab ku sembari bersender ke kursi. Ku picit kening ku agar mengurangi rasa pusing di kepala.
" Kacau?? Kacau kenapa??" tanya Mawar .
" Pak Indra turut hadir dalam sidang ini, Aku pikir dia cuma ikut saja. Ternyata dia membawa bukti rekaman suara kita kemarin yang merencanakan pembunuhan Rengganis"
" Hah?? Kok bisa??" Mawar sepemikiran dengan ku, kok bisa??
" Aku juga nggak tahu, yang jelas sekarang aku dan Rengganis sudah resmi bercerai. Dan yang aku takutkan, Pak Indra akan melakukan sesuatu kepada kita"
" Kita?? Ya kamu lah Mas, aku nggak ikut-ikutan. Kan kamu yang merencanakan semua itu pakai rencana B lah, Aku kan cuma ngikutin kamu aja Mas"
Sontak bantahan Mawar membuat naik darah.
" Oh jadi kamu mau lepas tangan?? kamu pikir Rengganis akan melepaskan kamu??Bukankah kamu tahu kalau dia adalah pemilik RS fashion?? Dimana tempat kamu bekerja sekarang??"
Mawar diam tidak menjawab.
" Sudahlah, aku jadi emosi bicara sama kamu" sambung ku seraya memutuskan talian.
HUFFFFF
Bukannya cari jalan keluar, malah mau lepas dari kesalahan.
Nanti kalau sampai terjadi apa-apa sama aku, akan ku pastikan Mawar juga ikut terseret. Karena semua ini juga kesalahan nya.
Dulu aku sudah enggan untuk menceraikan Rengganis , tapi dia justru menuntut ku agar segera menceraikan Rengganis .
Dan sekarang?? Aku benar-benar menyesal, sungguh sangat menyesal. Nies,,, maafkan aku.
Ku amati suasana di sekeliling, kendaraan banyak yang berlalu lalang. Rasa segan untuk menghadapi semuanya membuat ku terpikir jalan pintas yang aman tanpa masalah.
Ku tekan kunci mobil, lalu ku injak gas dengan kuat.
BRAK BRAK BRAK DUMMM
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV MAWAR
Tidak ada jalan lain, aku pamit sama Melati untuk pulang lebih cepat dengan alasan kurang enak badan. Melati pun mengijinkan tanpa curiga.
Lalu gegas ku sandang tas, berjalan cepat menuju lift. Aku khawatir akan berpapasan dengan Pak Indra , setiap kali pintu lift terbuka jantung ku berpacu cepat.
Tapi Alhamdulillah, sampai aku masuk ke dalam taxi online pesanan ku. Aku tidak bertemu dengan Bos ku itu. Syukurlah...
Setibanya di rumah aku merasa tenggorokan ku kering. Langsung ku buka kulkas dan ku ambil sebotol air mineral lalu ku tenggak hingga habis.
"Loh kok sudah pulang??" Suara Papa menyapa dari belakang.
" Kurang enak badan Pa" Jawab ku pendek, aku bergegas ke kamar agar Papa ku tidak semakin menginterogasi diriku.
Setibanya di kamar, rasa panik dan was-was belum juga hilang. Bagaimana cara ku untuk menghadapi Bos Indra besok atau lusa?? Dan bagaimana kalau ternyata mereka melaporkan Mas Farhat ke polisi lalu menyeret namaku juga?
Aku semakin panik, telapak tangan ku berkeringat banyak.
Tidak! Aku tidak mau masuk penjara, aku harus pergi. Yah!! aku harus pergi dari kota ini, atau ke luar negeri sekalian.
Hem!! Tanganku bergerak cepat mengecek sisa uang di rekening, cukuplah untuk hidup di luar negeri selama beberapa bulan. Dan aku akan mencari pekerjaan disana.
Yah!! Tanpa pikir panjang aku segera memesan tiket lewat aplikasi menuju negeri paman Sam.
Aku akan bilang nanti sama Papa kalau sudah tiba disana. Barang tidak perlu ku bawa banyak-banyak. Toh paspor ku baru saja ku perbarui, jadi tidak perlu butuh waktu lama untuk mengurus visa.
Aku bergerak cepat memasukkan pakaian ku ke koper. Setelah ku kemasi barang kebutuhan pokok ku saja, ku keluar kamar dengan mengendap-endap.
Semoga saja Papa sudah masuk kamar. Dan Alhamdulillah, suasana di rumah sepi hingga aku selamat masuk ke dalam taxi . Sengaja memang aku memakai jasa taxi online, agar kepergian ku tidak mudah di lacak.
Setelah mengurus tiket dan Visa, segera ku masuk ke ruang tunggu untuk menunggu jam keberangkatan pesawat.
Di sana aku masih was-was, setiap melihat polisi lewat, entah itu polisi penjaga atau polisi lalu lintas? Jantung ku berpacu dengan cepat.
Aku merunduk, menyembunyikan wajah ku. Masker ku pakai agar tidak mudah dikenali.
Tiba-tiba ponsel ku berdering, nama Yasmine terpapar di layar ponsel. Tanganku gemetar, apa sudah terjadi sesuatu dengan Mas Farhat ?? Oh tidak, pesawat masih dua jam lagi lepas landas. Rasanya lama sekali.
Telfon dari Yasmin ku abaikan, tapi sekali lagi Yasmin menelpon. Dan kubiarkan lagi, kali ini ponsel ku berdering kembali. Nama Papa terpampang di layar ponsel.
Hah?? Apa Papa sudah tahu?? Papa tiga kali menghubungi ku, tapi tidak ku angkat. Terpaksa ku silent ponsel ku agar bunyinya tidak mengundang curiga.
Tapi tiba-tiba siaran di televisi membuat ku terpaku. Ku lihat sebuah mobil yang sangat ku kenal dengan baik terbalik di tengah jalan raya.
Dan ada sebuah alat berat yang berusaha mendereknya ke tepian.
Itu mobil Mas Farhat , dan tertulis di layar kaca korban dalam keadaan kritis.
Apa?? Jangan-jangan Mas Farhat lari dari kejaran polisi hingga kecelakaan?? Aku semakin ketakutan. Tubuh ku gemetaran panas dingin.
Begitu ada pemberitahuan agar penumpang segera masuk ke kabin pesawat, aku cepat meringsek masuk.
Ingin segera ku pergi sejauh mana asal aku bisa selamat dari kejaran polisi. Aku sudah tidak perduli lagi dengan apa yang aka terjadi dengan Papa dan keluarga ku yang lain.
Toh mereka tidak akan dijebloskan ke penjara hanya karena aku kabur. Dan aku berencana setelah dari negeri paman Sam, aku akan mengubah rute tujuan ku agar polisi tidak bisa menemukan jejak ku.
Yah!! Tidak apa-apa uangku habis, nanti aku bisa mencari kerja di lain tempat. Berapa pun gajinya, yang penting aku tidak masuk ke dalam penjara.