AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
IES??? 28


RS


Huruf besar itu terukir indah di bagian tengah gedung.


Pabrik ini memang besar, dan disini lah Mas Farhat dan juga Mawar bekerja.


" Gimana ??? Apa kamu ragu?"


Ku layangkan pandangan ku kepada Desi yang berdiri di sampingku.


" Apa yang harus diragukan?? Nasib semua karyawan ku sekarang sedang dipertaruhkan.. Ayo!" Aku melangkah mantap masuk ke dalam, Dengan di ikuti oleh Desi .


" Permisi Mbak.. Maaf saya ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan ini" Sapaku kepada perempuan manis yang bertugas menjaga meja resepsionis.


" Ibu dengan siapa?"


" Saya Rengganis , pemilik pabrik RDA, tolong sampaikan kepada Bos mu, kalau saya ingin bertemu!"


" Oh baik Ibu... Tolong tunggu sebentar" Pintanya ramah, aku mengiyakan. Sementara wanita itu berbicara di ujung interkom, aku memperhatikan ke sekeliling.


Tiba-tiba aku melihat Mawar yang berjalan beriringan dengan Mas Farhat . Mereka nampak sibuk mendiskusikan sesuatu.


" Bu.. Maaf anda diminta untuk naik ke lantai atas, Bos menunggu anda disana"


Suara pemberitahuan sang resepsionis memancing perhatian dua orang yang ku kenal itu.


" Terimakasih" ucapku.


Saat aku berbalik, Mas Farhat dan Mawar rupanya sudah berdiri di belakang kami.


Mawar tersenyum miring, Sirat matanya menyiratkan Tatapan sinis pada diriku dan Desi .


"Ngapain kalian kesini??" Tanya nya ketus.


" Bukan urusanmu" kini aku yang menjawab.


"Hemm nasib sudah di ujung tanduk, masih saja sombong"


" Apa urusannya dengan mu?? Aku mau bangkrut, mau miskin, atau pun hidup di jalanan ? Tidak ada urusan nya dengan mu. Selama ini aku tidak makan nasi di rumah mu"


Mawar nampak terkejut mendengar jawaban ku, Mungkin karena selama ini aku lebih banyak diam.


Reaksi Mas Farhat pun tidak jauh berbeda, ia menatap ku dengan heran.


Aku tidak ingin berdebat terlalu panjang, tujuan ku datang ke sini bukan untuk bersitegang dengan mereka.


Ku ayunkan langkah ku pergi tanpa perduli umpatan-umpatan Mawar di belakang ku.


"Nies.." suara Desi terdengar ragu, kini kami sudah berada di dalam lift menuju ruang kerja pemilik pabrik ini.


" Ada apa ?? Kamu tidak usah takut, aku akan menghadapi nya" Aku berusaha menenangkan Desi yang nampak tegang.


" Bu-bukan itu"


" Lalu??" Alisku bertaut heran.


" Aku cuma tidak menyangka kau akan membuat Mawar langsung kincep begitu"


Tak dapat tertahan senyum ku tersungging.


" Kalau aku tidak segera membungkam mulutnya, kalian akan bertengkar lagi disini. Dan itu akan semakin memperburuk keadaan "Jawabku menjabarkan alasan.


Desi mengangguk kan kepalanya, ia mungkin mengerti apa maksud ku.


Kami keluar dari dalam Lift, tak berapa lama lift yang sebelah terbuka juga.


Mawar dan Mas Farhat keluar dari dalam, Oh rupanya mereka mengejar ku tadi.


Tapi aneh nya Mawar tidak mengatakan apapun, aku kira dia akan mencaci maki aku??.


Aku pun melanjutkan langkah ku menuju ruang kerja si pemilik perusahaan.


Sebelum kami masuk, rupanya wanita yang tadi berdebat dengan ku di kantor polisi ada disini.


Ia melihat ku, lalu gegas meraih interkom. Rupanya ia sangat peka, bagus lah.


" Silahkan masuk Bu, Pak Indra sudah menunggu di dalam" ucapnya santun,


"Terimakasih..." Balas ku.


Ia membukakan pintu untuk ku, sekali lagi ku ucapkan terimakasih.


Seorang pria menoleh begitu aku dan Desi masuk. Ia pun bangkit dari duduknya menyambut kamu berdua.


" Silahkan duduk Ibu Rengganis "


"Terimakasih..." Ku takupkan kedua tanganku di dada, sebagai tanda bahwa aku tidak bisa bersentuhan dengan nya. Hanya Desi yang berjabat tangan dengan nya.


" Saya sudah mendengar tentang anda yang ingin bertemu dengan saya, sekarang anda sudah bertemu dengan saya. Apa yang akan anda katakan ??" Ternyata pria ini ketus juga.


Aku mengatur nafas sebelum berdebat panjang dengan pria ini.


" Sebelumnya saya minta maaf kepada Pak Indra,, jika hasil karya pabrik kami begitu sangat mengganggu Anda . Tapi saya yakinkan, bahwa saya sama sekali tidak menjiplak hasil karya pabrik Anda. Saya selaku pemilik pabrik RDA fashion, bertanggungjawab penuh dengan hal itu " Ku tegas kan setiap kalimat yang aku ucapkan.


Tapi apa? pria itu justru tersenyum devil.


" Saya sudah tahu bahwa anda akan mengatakan demikian Ibu Rengganis, tapi pada kenyataannya. Anda sudah meniru hampir seratus persen karya legendaris kami"


Aku tidak segera menyahut, aku harus berhati-hati dengan pria ini.


" Kalau begitu saya ingin melihat desain asli nya, Untuk meyakinkan saya bahwa desain rancangan saya sama persis dengan desain milik pabrik ini "


" Ohhoh... Itu tidak mungkin, karena desain itu adalah bagian dari sejarah pabrik ini " Pak Indra menolak tegas permintaan ku.


" Kalau begitu anda tidak bisa membuktikan lebih jelas kasus ini. Dan saya bisa menuntut anda balik dengan kasus pencemaran nama baik " Ku ancam balik pria itu.


Pak Indra diam , Tatapan mata nya tajam sekali terhadap ku. Seakan-akan diri ku akan di telannya hidup-hidup.


" Saya rasa, saya paham apa maksud diam nya anda Pak Indra. Ayo Des, kita kembali ke kantor polisi" Aku bangkit dengan niat menggertak, Desi mematuhi perintah ku. Ia bangkit dan kami melangkah pergi.


" Tunggu!!!"


Mendengar seruan nya, aku tersenyum diam-diam.


Saat aku menoleh, pria itu tetap duduk di posisi semula.


" Boleh kah saya bertanya, kenapa anda bisa membuat desain anak-anak ?? Padahal saya tahu pabrik Anda fokus dengan baju orang dewasa "


Ternyata aku salah menduga, Ku kira ia akan mengijinkan aku melihat desain asli. Tapi malah pertanyaan yang ia lemparkan.


" Karena, saya merindukan Ibu" Ku jawab saja dengan jujur.


Pria itu melirik ku dengan ekor matanya, jujur sepasang mata itu seperti pernah aku lihat, Tapi dimana? Aku lupa.


" Mendiang Ibu saya selalu membuat kan baju untuk sata semasa saya masih kanak-kanak. Dan Desain yang saya buat, adalah baju semasa saya kecil" Imbuh ku.


" Jadi, baju-baju karya anda saat ini adalah sebuah kenangan ??"


Aku menundukkan wajahku, sebak rasanya dadaku bila mengingat Ibu.


Tiba-tiba pria itu bangkit, dan berdiri di depan ku. Aku mendongak, ku dapati sepasang matanya menatap ku lekat.


Apa-apaan ini?


Ku tarik langkah ku ke belakang, namun dia justru mencekal lengan ku.


" Pak Indra,,,, Apa yang anda lakukan ??" Desi berusaha melerai tangan nya, tapi dia justru bersikap semakin agresif.


Ia menyingkap lengan baju ku hingga ke siku.


AKH


Aku mendorong tubuh nya, bagiku ini sebuah pelecehan.


" Ies???" Serunya, Aku terkesiap kaget. Dia menyebut nama kecil ku.


Pak Indra mengguratkan senyuman manis, dan semakin membuatku bertambah bingung.


Desi pun tidak jauh berbeda dengan ku, ia menatap kami bergiliran.