AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
TERTUDUH 33


POV TASYI


Pintu terbuka pelan, dan muncul lah seorang wanita separuh baya menggunakan daster serta hijab instan.


" Assalamualaikum" Sapaku ramah.


" Wa'alaikum salam, cari siapa ya?" Balas wanita yang kemungkinan adalah pembantu di rumah ini.


" Emmm Ibu Rengganis ada?" Yach, aku ingat jika Indra pernah mengatakan jika wanita yang ditunggunya bernama Rengganis .


" Oh ada, silahkan masuk" wanita itu membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan aku masuk.


Aku menggerakkan sedikit kepala ku, seraya melangkah masuk.


Wanita itu menunjukkan tempat untuk ku agar duduk, aku mengangguk patuh.


Sementara, si Bibik masuk ke dalam meninggalkan diriku.


Selang beberapa menit, muncul wanita yang ku jumpai di restoran tadi. Yach!! dia lah Rengganis .


Ia sedikit memicingkan matanya , mungkin belum pasti dengan wajah ku.


" Hay..." Sapaku seraya bangkit, ku Salami dia dan dia pun menyambut nya ramah.


" Anda gadis yang tadi di restoran itu kan??"


Ternyata dia berhasil mengingatku.


" Iya.." Jawab ku.


" Silahkan duduk" Dia mempersilahkan, Dan Kami pun duduk hampir bersamaan.


" Ada kepentingan apa ya datang ke rumah saya??" sambung nya.


" Emmm lebih baik kita membahasakan diri dengan aku dan kamu aja, biar terkesan lebih akrab " tanggap ku.


Rengganis diam sejenak, kemudian dia mengiyakan permintaan ku.


" Seperti yang kamu tahu, aku adalah teman nya Indra. Sejak kuliah Kami sudah dekat, Dan jujur aku menyukainya" Ku ambil Jedah waktu untuk melihat ekspresinya. Tapi Rengganis nampak tenang menunggu aku melanjutkan kata-kata ku.


" Tapi dia tidak menyukaiku , Dia menunggu kedatanganmu dan aku sedikit terkejut saat mendengar ternyata kamu sudah menikah dan akan bercerai"


" Aku rasa ini sangat tidak adil bukan untuk Indra. Dia begitu setia kepada seseorang yang belum jelas, Apakah masih hidup atau sudah mati? Tapi kamu sangat egois, ketika kamu akan bercerai Kamu Malah menampakan diri. Seolah-olah kamu menawarkan diri kepadanya "


Bibir Rengganis melengkung tipis, entah apa maksudnya? Kenapa dia justru tersenyum?


" Apa karena kamu tahu bahwa sekarang Indra adalah seorang CEO di pabrik tekstil terbesar di kota ini? Sehingga kamu memilih untuk bercerai dari suamimu??" Aku tak ingin segan lagi , agar wanita ini sadar bahwa dirinya tidak setaraf dengan Indra Lesmana. Sehingga dia semena-mena terhadap perasaan seseorang.


" Cukup cukup.. maaf sebelumnya, aku ingin bertanya kepada kamu. Sebatas apa Indra bercerita tentang seorang Rengganis kepada kamu??" Dia cepat menyela.


Aku mengerutkan kening, apa maksud dari pertanyaan nya itu?? Apa dia menyangkal setiap monolog ku??


" Dia mengatakan bahwa kamu adalah cinta pertama nya, yang tidak akan tergantikan oleh siapapun " cetus ku.


Apa dengan aku menjawab demikian, dia ingin menyurutkan niatku??


" Selebihnya??" imbuh nya.


Aku tidak paham ke arah mana pembicaraan ini.


" Apa dia tidak cerita siapa aku??"


Aku menjawab dengan gelengan kepala. Ia tersenyum dengan memalingkan wajahnya. Seolah-olah mengejekku.


" Sebelum kamu ber filosofi sendiri , akan lebih baik jika kamu tahu siapa aku terlebih dahulu "


" Rasanya tidak etis malam-malam kamu datang ke sini, terus kamu mengatakan sesuatu yang bukan-bukan dan menilaiku terlalu jauh"


" Kalau pun kamu menyukai Indra dan kamu tidak terima dia akan menikahi seorang janda. Is no problem, aku nggak masalah. Toh aku menolak lamaran Indra kan"


Wajahku menyeruap panas, otot-otot ku menegang.


" Dan satu lagi yang perlu kamu tahu, aku ketemu sama Indra itu tidak sengaja. Dan poin utamanya ,perusahaan yang sekarang Ia tangani itu adalah milikku"


Aku terhenyak kaget, pupil mata ku melebar mendengar hal itu. Benarkah???


" Jadi maaf sebelumnya , bukan aku mau sombong . Tapi setidaknya ini sebagai pelajaran sama kamu, sebelum menilai seseorang alangkah lebih baiknya kamu tahu dulu Siapa orang itu. Jangan sembarangan menuduh seperti ini"


Aku tercekat, jadi apa yang aku pikirkan tentang wanita ini semua nya salah.


Kini aku tidak bisa berkata-kata lagi, rasa malu melumuri wajah ku.


Astaga, aku diusir. Yah mau gimana lagi, aku bangkit dari dudukku dan permisi untuk pulang.


Rengganis masih mengantar ku sampai di depan pintu. Aku merasa tak enak hati, tapi aku malu untuk mengucapkan kata MAAF.


" Ihhhhh" aku meronta-ronta di dalam mobil, malu ku tak terbayangkan sama sekali.


" Gimana nanti kalau dia mengadu sama Indra??"


Aduh mau ditaruh di mana mukaku?? Membayangkan saja rasanya mau nyelip di kerak bumi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


AKU SITI RENGGANIS


Baru saja aku mau ganti baju, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.


Terpaksa ku urungkan niatku, lalu aku melangkah mendekati pintu.


KRETEK


"Bibik?? Ada apa??" tidak biasanya Bik Nursih datang ke kamar ku.


" Ada tamu Nyonya " jawabnya.


Aku heran, siapa lagi?? Apa Indra??


" Cowok yang tadi??" ku coba menebak.


" Bukan Nyonya, perempuan, cantik, kayak orang Arab "


Mendengar penjelasan Bik Nursih , aku semakin bertanya-tanya.


" Baiklah, aku akan temui dia "


Ku tutup pintu di belakang punggung ku, lalu ku melangkah menuruni anak tangga.


Eh, itu kan perempuan yang tadi Indra kenalkan sama aku. Ngapain dia datang ke rumah ku?? Dan dari mana dia tahu alamat rumah ku??


Dan rupanya, dia berbicara sok akrab dengan ku, Karena ada udang di balik batu.


Kata-katanya lembut, tapi menusuk. Tuduhan nya terhadapku sangat tidak masuk akal.


Aku tidak bisa diam saja, ku hentikan dia untuk melanjutkan kalimatnya yang pasti akan semakin menyakiti ku.


Aku balas dia dengan cara yang lebih lembut, sehingga ku dapati wajahnya mengeras.


Syukurin!!! Umpatku dalam hati. Dia pikir aku akan diam saja??hemmm tidak akan pernah!!


Ku suruh dia pulang, dan dia pun pulang. Rasanya kasihan juga saat ia menahan malu sampai kulit putih nya memucat.


Tapi salah dia sendiri, seenaknya mengatakan aku menawarkan diri kepada Indra dan sengaja bercerai untuk bisa menikah dengan Indra.


Kalau pun dia menyukai Indra, ya jangan serang aku. Serang Indra nya, gimana caranya agar pria itu menyukainya?


Apa dia pikir dengan menyerang ku, Indra akan suka sama dia?? Hem!! Kalau aku cerita pasti yang ada Indra akan muak dengan nya.


Aku masuk ke kamar, ku dengar handphone yang baru saja ku cas berdering.


Ku dekati, ternyata si Bang Bang yang nelfon.


" Hallo, assalamualaikum" Sapaku.


" Wa'alaikum salam, udah tidur??" jawabnya dari seberang.


" Belum.." aku singkat menjawab.


" Kok lama sekali ngangkat nya?? kamu marah sama aku ya??"


" Nggak!"


" Tapi jawab nya singkat banget??"


Aku jadi tambah kesel, sudah di tuduh yang macam-macam, ini malah makin menyulut emosi ku.


" Maaf aku capek Bang, assalamualaikum "


Ku tutup telfon secara sepihak, tanpa menunggu ia menjawab.


"