AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
KEKACAUAN 15


POV FARHAT


Aku ragu untuk melangkahkan kaki masuk ke sebuah bangunan besar tinggi menjulang. Pikiranku masih gamang akan Rengganis . Namun Mawar menarik ku masuk, yang tak mampu ku tolak.


Kami menjumpai petugas resepsionis dan mengutarakan maksud kedatangan kami. Lalu petugas resepsionis itu menunjukkan lantai berapa yang harus kami datangi.


"Terimakasih " ucap Mawar santun,ia menarik ku lagi menuju lift. Dan di dalam lift itu kami hanya berdua saja, tidak ada yang lain.


Mawar menekan nomor 7 sesuai instruksi dari petugas resepsionis tadi.


"Kamu kenapa sih Mas? kayak ogah-ogahan mau datang kesini ??" gerutu Mawar . Aku hanya diam , malas rasanya untuk berdebat.


"Kalau kamu masih mau jadi jongos nya si Anies? Ya udah pulang sana.. Kalau aku sih nggak " Mawar memalingkan wajahnya seraya melipat tangan di dada.


"Kamu tuh ya, kalau ngomong suka sembarangan. Aku tu nervous" sebisaku, ku membela diri.


"Ngapain nervous ? Toh ini bukan hal yang pertama bagimu"


"Aku takut kalau ternyata kita malah dikasih jabatan yang rendah dengan gaji yang jauh dari kata cukup. Itu berarti aku mulai lagi dari Nol"


Mawar terdiam seolah memikirkan apa yang baru saja aku ucapkan.


"Kamu tahu kan? seluruh keluarga ku hidup dari gajiku"


"Kamu tenang aja Mas, Papaku sudah mengkonfirmasi kan sebelumnya tentang kita . Jadi nggak mungkin deh kita dikasih jabatan yang rendah" tukas Mawar .


"Baguslah kalau begitu " ku desahkan nafas dengan kasar. Entah kenapa ?? Ada sesuatu yang membebani jiwaku.


TING


Pintu lift terbuka, Kami keluar hampir bersamaan. Mawar toleh kanan toleh kiri, mencari ruangan yang kami tuju.


"Kesana!"Serunya, Aku ikuti saja kemana arah yang dia tuju.


*


Sekitar jam setengah dua, kami baru selesai interview. Kepala direksi meminta kami menunggu sebentar. Karena akan langsung diberi tahukan jabatan apa yang akan diberikan.


Syukurlah kalau begitu, Jadi kami tidak cemas menunggu jika langsung seperti ini proses nya.


Menunggu dan menunggu,sudah hampir jam tiga belum juga ada panggilan.


Aku semakin gelisah, bagaimana tidak ?? kami pergi meninggalkan kantor dengan waktu yang lumayan lama.


"Sayang..." ku colek lengan Mawar yang tengah sibuk dengan ponsel nya.


"Hem??"


"Kita sudah lama nih nunggu nya, Gimana dong??"


"Ck.. sebentar lagi lah Mas"


"Aku takut nanti kita kena marah karena meninggalkan ruangan cukup lama"


"Alah, biarin aja.. Kalau kita sudah bisa kerja mulai besok disini. Hari Ini kita langsung resign "Mawar berucap dengan entengnya. Aku tidak bisa menyanggah lagi, Tapi beban hatiku terasa semakin berat. Rasa bersalah ku kepada Rengganis jadi semakin bertambah.


Sepuluh menit kemudian, orang yang menginterview kami datang menghampiri. Aku tersenyum lega, akhirnya yang ditunggu-tunggu. Mawar dan Aku berdiri menyambut.


"Selamat Pak Farhat dan Bu Mawar , kalian berdua kami terima bekerja disini dengan jabatan sebagai Admin pemasaran dan ketua marketing"


"Siapa yang jadi ketua marketing Mbak?" timpal Mawar cepat.


"Pak Farhat "


Mawar langsung menoleh padaku.


"Ini prosedurnya, disini sudah lengkap dengan gaji maksimum dan juga bonus tahunan jika mencapai target penjualan"


Ku raih map putih yang disodorkan padaku, ku simak isinya lembar demi lembar. Sungguh menggiurkan, gajiku hampir dua kali lipat dari gaji yang ku dapat sebelum nya.


"Kapan kita mulai kerja Mbak?"


Mawar rupanya sangat antusias sekali.


"Besok kalian sudah bisa kerja" jawab Mbak direksi sangat ramah.


"Baik Mbak... terimakasih banyak ya"Mawar menyalami nya, Aku pun melakukan hal yang sama. Setelah itu kami pamitan untuk pulang.


"Mas... ternyata gaji nya lumayan yah, Itu lain bonus loh"Mawar berbinar bahagia.


"Iya sayang..." jawab ku, beban yang ku rasakan sebelumnya perlahan hilang.


"Nggak nyesel kan kita datang kesini "


Aku mengiyakan saja sambil sibuk mengemudi.


"Hem... setelah ini, Kita urus pernikahan kita Ya Mas. Kapan sidang mu Mas?"


UPS.. hampir aku lupa!


"Lusa ,,, gimana ini?? Aku kan masih orang baru, masak sudah libur"tanyaku cemas.


"Nggak apa-apa Mas, Kamu absen aja dulu. Nanti biar aku yang urus sisanya, kan sidangnya juga nggak lama kan?"


Aku mengiyakan..


"Terimakasih ya sayang " Ku genggam tangan Mawar dengan lembut. Ia tersenyum tipis, menunjukkan lesung Pipitnya.


Kedatangan kami rupanya sudah ditunggu oleh Bu Desi , beliau duduk di atas meja kerja Mawar yang otomatis menjadi pusat perhatian bagi yang lain.


"Kemana saja kalian ?" tanyanya dengan nada sinis. Aku bingung harus menjawab apa ??


"Keluar... Emang kenapa ?"


Aku terhenyak melihat Mawar maju dengan dagu terangkat.


"Wah... Kau??"Bu Desi nampak shock dengan sikap Mawar menarik sok.


"Iya Bu... kenapa ?? Apa Ibu mau pecat kami?? silahkan... Kami tidak masalah "


"Mawar .. jangan begitu " Aku mengecilkan suara ku untuk memperingatkan nya.


"Alah Mas... Kamu nggak usah takut, Toh kita emang mau resign dari pabrik ini. Sudah gajinya kecil, pergi sebentar saja sampai ditungguin di atas meja "Mawar bukannya berhenti, justru semakin menjadi.


"Ohhh jadi kalian mau resign ??? ya udah silahkan, kenapa harus kembali ?" balas Bu Desi.


"Kami kembali karena mau mengambil barang-barang kami, sekalian.. bilangin tuh sama Bos kamu. Tanpa dia juga Mas Farhat bisa mendapatkan posisi yang layak dan gaji yang fantastis. Tidak kayak disini,ngasih bonus saja pelit "


"Hey Mawar !! jaga ya bicara mu,kami ngasih bonus bukan hanya buat kamu. Tapi semua buruh disini kami bagi juga. Karena tanpa mereka semua tidak akan menjadi, Kalau kamu mau berhenti ? ya sudah berhenti saja, tidak usah perhitungan uang yang sudah jadi taik" Bu Desi benar-benar dibuat emosi oleh sikap Mawar .


"Ok!!tapi liat aja ya, Akan ku buat pabrik ini bangkrut setelah kami pergi.. Karena kalian tidak akan mendapatkan orang yang bisa lebih baik dari kita" Mawar semakin menantang.


"Uh lama-lama ku remek mul-utmu" Bu Desi geregetan, Ia mengulurkan tangannya hendak merenggut bibir Mawar . Namun berhasil ku hadang.


Keributan pun tak terelakan, karena Mawar juga menyerang Bu Desi.


"Ada apa ini ?"


Sebuah seruan yang sangat ku kenal, Aku melongo mencari si punya suara diantara keramaian.


Sosok ayu nan cantik rupawan, berhasil mendebarkan hati ku untuk kesekian kalinya.


Rengganis ... kenapa kau begitu anggun ?? pesona mu sangat indah bagai bintang kejora yang tetap terang Meskipun mentari telah menjelma.


Aku tersenyum memperhatikan Rengganis yang melangkah membelah keramaian. Bu Desi dan Mawar sudah bisa diamankan. Rengganis berdiri ditengah-tengah mereka dengan Tatapan bergantian antara Mawar dan Bu Desi .


"Ada apa ini ?" tanyanya.