
" Kau sudah banyak berubah"
Senyuman Pak Indra tak dapat ku artikan karena berbeda dengan sebelumnya.
" Dia Kesambet kali ya" Bisik Desi padaku, aku tak menjawab.
" Ies,,, Apa kamu lupa panggilan itu?"
Desi komat Kamit entah apa yang dibacanya.
" Siapa anda ?" Tanya ku.
Pak Indra tersenyum sembari ditutup oleh telapak tangannya.
" Kau benar-benar melupakan aku?? Padahal, sedetik pun aku tidak pernah melupakan mu"
Alisku berkedut, semakin tidak mengerti apa yang dimaksud pria ini.
" Nies.. Kita keluar aja yuk " Bisik Desi "Aku takut nih, udah dibaca in doa-doa masih nggak ngaruh"
Senyuman Pak Indra semakin lebar, mungkin dia merasa lucu dengan ulah Desi .
" Maaf Bu Desi ,saya baik-baik saja. Mari silahkan duduk" Sekali lagi Pak Indra Lesmana meminta kami untuk duduk kembali.
Aku pun menuruti kemauannya, Dan Desi terlihat ragu. Ia menarik ujung kain di lengan ku.
" RI, tolong tarik kembali laporan kita"
Aku dan Desi saling berpandangan satu sama lain mendengar ucapan Pak Indra di ujung interkom.
Usai mengatakan demikian, ia tersenyum padaku dan meletakkan kembali ganggang telfon ke induknya.
" Kau mungkin tidak familiar dengan nama Indra Lesmana tapi Kau pasti ingat dengan nama bang bang Dul"
Dua bola mata ku membulat sempurna, Bang Bang Dul adalah nama sahabat ku.
" Kau Bang Bang "
Sulit untuk dipercaya, pria itu mengangguk, senyuman lebar tak lekang dari bibir nya.
" Astaghfirullah Bang Bang" Tak dapat ku kendalikan diri ku untuk berdiri dan berhambur memeluk nya.
Rasanya sebak sekali dadaku mendapati seseorang bagian dari masa lalu ku.
Indra Lesmana atau yang ku kenal sebagai Bang Bang itu pun membalas pelukan ku. Pelukan yang hangat dan erat.
Ketika kami melerai pelukan, aku melihat ada anak sungai kecil di matanya.
" Aku mencari mu kemana-mana Ies, Mama, Papa, semuanya"
Aku mengangguk paham.
" Tapi kami tidak menemukan mu, Om dan Tante mu bilang kamu hilang saat terjadinya kecelakaan"
Aku refleks menggeleng.
" Aku nggak hilang, mereka yang mengantar ku ke panti asuhan"
" Sudah ku duga, tapi mereka menutupi nya dari Papa dan Mama. Akhirnya, Papa berusaha untuk mengambil alih perusahaan. Meskipun harus melewati jalur hukum melawan Om dan Tante mu. Tapi Alhamdulillah, Papa berhasil. Sebelum Papa meninggal, ia mengamanahkan pabrik ini agar kelak jika bertemu dengan mu. Aku bisa menyerahkan nya padamu"
" Hah??? Jadi ini???" Aku benar-benar tidak percaya jika lantai yang ku injak adalah pabrik milik orang tua ku.
Indra Lesmana mengangguk yakin, tangan nya mencengkram bahuku dengan kuat.
Aku memalingkan wajah ku ke arah Desi , ia nampak tersenyum menahan haru.
" Pantas kau bisa membuat desain yang sama persis dengan milik perusahaan ini. Karena kau adalah anak Tante Novita"
Aku tersenyum senang,
" Kita harus merayakan ini semua, bagaimana kalau kita makan siang bareng"
Aku menyetujui nya, begitu pula dengan Desi .
Kami keluar beriringan, Indra menggandeng tanganku seperti waktu kami kecil dulu. Ia seperti tidak ingin melepaskan ku lagi.
Desi sendiri terlihat tak nyaman berada di antara kami.
Dan hal ini menjadi pemandangan gratis bagi para staf karyawan, termasuk Mawar dan Mas Farhat .
Aku tidak tahu apa penilaian mereka terhadap ku, Dan sudah tentu aku tidak perduli.
" Mama pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan mu lagi Ies" ucap Indra saat kami sedang menunggu pesanan datang.
" Aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tante Shella" balas ku.
" Bagaimana kalau nanti malam aku jemput kamu?"
Aku langsung setuju. Tak lama kemudian, pesanan kami datang.
Aku menggeleng lemah.
" Aku tidak mau masuk ke dalam lubang neraka, lebih nyaman aku tinggal di panti. Dan aku juga meminta kepada Ibu panti untuk memindahkan ku ke tempat lain tanpa sepengetahuan Om dan Tante ku. Karena selama aku di sana, aku seperti selalu diawasi oleh seseorang "
Indra Lesmana mengangguk mengerti.
" Aku juga tidak menyangka, kalau kamu dan kedua orang tua mu akan datang ke Indonesia"
" Seingat ku, Papa saat itu mencoba menghubungi Papamu. Tapi nggak tersambung, akhirnya Papa menelfon kenalan Papa yang juga mengenal Papamu. Disitulah kami tahu jika Papa dan Mamamu kecelakaan dan sudah meninggal dunia"
" Kami langsung melakukan penerbangan saat itu juga untuk menindaklanjuti hal ini, Dan yang kami temukan adalah, Kamu sudah hilang"
Aku diam , Indra Lesmana menyentuh tangan ku yang berada di atas meja. Desi yang melihat hal itu langsung membuang muka.
" Sekarang, gimana tentang hidup mu??"
Aku melebar kan mataku.
" Maksud nya??"
" Yah... Kehidupan kamu yang sekarang, kalau aku ...." Indra tersenyum tak mampu melanjutkan kata-katanya.
" Kenapa kalau kamu?" aku jadi penasaran.
" Kalau aku yah gini,,,, masih melajang, karena aku setia menunggu seseorang yang katanya kalau sudah lulus SMA akan menyusul ku ke Paris"
Aku tersenyum malu, itu adalah janji yang ku ucapkan saat mengantar Indra dan keluarga nya ke Bandara.
" Sudahlah,,, itu hanya janji seorang gadis kecil saja "
" Tapi aku tetap menunggu mu" Indra menatap ku lekat, membuat ku jadi salting. Ku tarik tangan ku yang di bungkus oleh tangan kekarnya.
Agar ia tidak bisa merasakan bagaimana dinginnya tangan ku.
" Tapi,,, Aku sudah janda" Ku akui status ku.
Indra nampak terkejut, ia mengernyitkan keningnya.
" Jadi kamu sudah menikah ??"
Aku mengiyakan.
" Kok bisa?"
" Ya bisa dong" jawab ku enteng.
" Kamu mengingkari janjimu sama Aku??"
Aku tersenyum, karena itu terasa lucu.
" Ya... maaf,,, aku nggak berniat mengingkari, cuma... Kalau aku mencari mu, bagaimana caranya ??"
Indra terdiam sejenak, setelah itu ia manggut-manggut seolah-olah mengerti.
" Ya nggak apa-apa lah, asal bukan istri orang"
" Apa-apaan sih... Tapi aku masih belum ketuk palu "
" What's ??" Indra terkejut bukan main " jadi masih janda fresh nih "
Hahahahahaha aku tergelak mendengar kata-kata janda fresh.
Aku dan Desi pamit untuk kembali ke kantor setelah kami makan siang. Dan Indra Lesmana berjanji, nanti malam akan menjemput ku untuk bertemu Ibunya.
KHEM KHEM KHEM
Aku menoleh ke arah Desi yang sibuk menyetir.
" Kenapa ??" tanyaku, karena ia berdehem.
" Kayaknya setelah pernikahan ku ,kau akan menikah lagi"
Aku tersenyum mendengar celotehan nya.
" Kau ada-ada saja"
" Aku yakin itu, terlihat jelas jika Pak Indra sangat mencintaimu"
" Sudahlah, aku masih belum siap untuk hidup berumah tangga lagi"
" Kasian loh say, dia rela ngejomblo hanya untuk menunggu mu"
" Itu belum pasti" bantah ku.
" Belum pasti apa-an, tadi dengar sendiri kan apa yang dia katakan ?"
" Iya Iya tahu,,, tapi jangan terlalu percaya kalau belum kita tahu kenyataannya " ucapku mantap.