AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
ANCAMAN BALIK 16


Sejak ku lihat Mas Farhat Keluar siang tadi bersama Mawar . Sampai sore, kelibat nya tak kunjung nampak. Saat aku akan ambil wudhu dan kebetulan, Jika akan ke toilet harus melewati ruang kerja Mas Farhat. Pria itu tidak ada di ruangan nya, Mawar pun tidak ada di mejanya. Kemana mereka??


Usai sholat, ku dengar suara ribut-ribut. Gegas ku buka mukena ku dan ku pasang hijab ku. Dan aku keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi ?


Rupa-rupanya Desi sedang cekcok dengan Mawar . Apa lagi ini??


"Ada apa ini ??" Ku tatap kedua biang kerok itu bergantian.


"Dia yang mulai duluan" jawab Desi lebih dulu.


"Kau yang duluan " bantah Mawar tak mau mengalah.


"Eh pelakor sombong.. semua staf disini nggak budeg ya kalau kamu mengatai pabrik disini, gaji kecillah, ngasih bonus pelit, mentang-mentang mau resign terus bisa sombong gitu"


"Lah emang bener Kok" si Mawar merasa ia tidak salah.


"Oh begitu rupanya, Jadi Bu Mawar mau resign ??" tanggap ku.


"Iya... Farhat juga" ketusnya. Ku angkat wajahku menatap Mas Farhat , Ia mengelak dari sorotan mataku.


"Kalau itu memang sudah keputusan kalian, saya bisa apa? saya tunggu surat pengunduran diri di meja saya sekarang " Aku berbalik kembali ke ruang kerja ku, Desi tanpa ku sadari mengekor di belakang ku.


"Ketahuan sekarang sifat si Mawar itu, belagu sekali dia" Desi masih ngedumel seraya duduk di sofa.


Ku acuhkan saja, Tatapan ku fokus pada daun pintu.Tak sabar rasanya menunggu surat pengajuan pengunduran diri dari mereka berdua.


Selang dua puluh menit, ada orang yang mengetuk pintu dari arah luar.


"Masuk!" seru ku lantang, Desi melipat tangan di dada nya seperti bersiap untuk mengahadapi si Mawar .


Mas Farhat mendorong pintu lalu ia masuk, di susul oleh Mawar di belakangnya. Dengan sok Mawar meletakkan amplop putih, berbeda dengan Mas Farhat . Ia terlihat ragu ..


Ku raih dua amplop itu lalu ku keluarkan isinya. Ku baca satu persatu isi dari surat pengajuan itu.


"Baiklah... berarti sekarang kalian bukan karyawan di perusahaan ku"


Mas Farhat mengangkat wajahnya, Ia menatap ku mendalam. Sedangkan Mawar tersenyum sinis saja.


"Nggak apa-apa dong kalau sekarang aku bicara dengan bahasa yang non formal" sambung ku, Tak ada jawaban. Hanya Tatapan Mas Farhat yang lurus padaku.


"Mas..."


"Ha??" Ia menjawab gugup.


"Lusa ... adalah sidang perceraian kita"


"Ah..." Ia tertunduk, sembari mengangguk lemah.


"Andai saja kau tidak melakukan kesalahan Mas, Atau setidaknya minta maaf serta mengakui kesalahan mu. Pastinya ... perusahaan ini akan menjadi milik mu"


"Eh apa maksud mu mengatakan demikian ??hah?? Kau ingin merayu Mas Farhat untuk rujuk ?" Mawar menunjuk-nunjuk wajahku penuh emosi.


Aku tersenyum saja..


"Emang kalau rujuk kenapa ??" tiba-tiba Desi menyahut, Ia bangkit dari duduknya menghampiri Mawar .


"Jangan ikut campur ya.." balas Mawar sengit.


"Kau juga jangan ikut campur, rumah tangga mereka ya urusan mereka. Kamu siapa??hah??"


Ku simak wajah Mawar berubah merah padam.


"Dia perempuan gatal yang menginginkan suami ku" tukas ku tak tahan, gatal rasanya kalau tidak mempermalukan si Mawar .


"Apa?? Aku gatal?? Asal kamu tahu ya, Mas Farhat yang datang menggoda ku. Dia bilang kamu sudah membosankan, bau dan sudah tidak menggairahkan. Tapi kalau sama aku, Mas Farhat bilang burung nya selalu tegang. Iya kan Mas?" Mawar memeluk lengan Mas Farhat manja.


"Ya nggak mungkin lah.. Aku kan pinter jaga diri, perawatan... nggak bau asap kayak kamu. Mas Farhat pasti tidak akan pernah melirik wanita lain, apalagi kami akan masuk dalam satu jabatan kerja"


Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Yakin sekali kamu?"


"Iyalah.." Mawar berjumawa dengan melipat tangan di dada.


Ku lirik Mas Farhat yang diam membisu, Aku bangkit lalu mendekati nya.


"Mas .." Ku sentuh lengan nya, dia sedikit terkejut melihat sikap intens ku" Benar kamu ingin kesempatan kedua ?"


Dua bola matanya melebar, ku lihat Mawar langsung menoleh ke arah nya.


"Apa?- Kamu minta kesempatan kedua Mas??" reaksi Mawar cukup membuat ku puas.


"Yah... Tapi aku tidak mau, karena dia pernah menampar ku hanya demi kamu"


Mawar menarik kasar lengan Mas Farhat .


"Jawab Mas!! Itu bohong kan?? Apa yang dikatakan oleh Anies hanya intimidasi untuk ku bukan?? kau tidak pernah menginginkan dia kembali kan? kamu hanya mencintai ku kan??"


"Ck... pemaksaan sekali " Celutuk Desi ,ia terlihat lebih puas dari pada diri ku.


"Diam kau!!" bentak Mawar tersulut emosi.


"Duh marah , belum apa-apa sudah marah .. Eh mereka tidak masalah kalau rujuk, Jadi jangan dihalang-halangi " Desi justru semakin memanaskan suasana.


"Ih kau ya" Mawar benar-benar tidak bisa terkawal, Ia mendorong Desi hingga terjungkal ke lantai.


"Des..." Aku meluruh menolong nya dan membantu nya bangun. Sedangkan Mas Farhat sendiri menahan Mawar agar tidak menyerang lagi.


"Kau memang minta ku hajar ya" Desi menjulurkan tangannya dan berhasil mencakar wajah Mawar .


"Auw" Mawar menjerit, Ia menyentuh wajahnya dan melihat telapak tangannya.


"Mas... dia melukai wajah ku"


"Rasain... huh,,, wajah kamu sudah jelek"


"Des... sudah " Aku mencoba menengahi.


"Awas kau ya .. Akan ku laporkan ke polisi atas tindakan kekerasan "


Aku terkesiap mendengar ancaman Mawar .


"Laporin aja, Aku nggak takut... Aku juga bakal laporin kamu atas merebut suami temanku "Desi mengancam balik.


"Merebut apanya, toh mereka sudah cerai " Mawar tetap tidak mau mengalah.


"Eh kau pikir aku tidak punya bukti perselingkuhan kalian hah??? Aku punya video kalian ******* di lift dan itu terjadi sebelum Rengganis dicerai. Dan saat ini pun Rengganis masih istri Farhat , kau tahu itukan?"


Mawar nampak bingung,


"Mas kamu kok diam aja sih? belain aku dong Ah" Mas Farhat justru yang menjadi pelampiasan kekesalan Mawar . Tapi pria itu hanya kebingungan saja.


"Hem,,, Kalau sampai aku tahu dimana kamu kerja yah? Akan ku tunjukan video mesum itu kepada Bos kalian, Dan akan aku ceritakan kenapa kalian resign" Desi tidak berhenti mengancam, Dan Alhasil Mawar semakin panik. Kakinya mundur beberapa langkah.


"Eh kenapa ?? takut ?? kok takut sih?? tadinya bukan sombong sekali karena dapat kerjaan baru dengan gaji yang fantastis ?? hah??"


"Sudahlah Des... biarkan mereka pergi" Aku menyela karena hal ini tidak akan selesai jika salah satu dari mereka tidak ada yang keluar dari ruangan ku.


"Ayo... kita pergi " Mas Farhat menarik lengan Mawar dan keluar dari ruangan ku. Tatapan Mawar penuh dendam, Ia keluar dengan mata nyalang memperhatikan aku dan Desi .