
Aku berniat pamit dan meminta Komang untuk mengantar ku ke rumah Mas Farhat sepulang dari kantor.
Namun yang ku dapatkan adalah tuduhan-tuduhan Ibu mertuaku yang sebenarnya membingungkan ku.
Apa yang telah aku lakukan, sehingga membuat dia mengatakan aku sudah mempermalukan keluarga nya??
Aku disebut Ja- Lang Daj-jal.. Sungguh sangat-sangat menyakitkan sekali. Tapi Mas Farhat ?? dia membelaku?? hemmmm kenapa Mas?? Apa karena sekarang kamu tahu siapa aku?? jadi kamu berubah menjadi baik??
Beberapa kali ku Hela nafas panjang, jalanan yang ku lewati membuat anganku melayang.
"Ada apa Nyonya ?? Sepertinya tadi saya dengar anda dicaci maki oleh mantan mertua anda?"
Aku tersenyum tipis...
"Biasalah Mang,,," Jawab ku hampir tak terdengar.
"Istirahat lah sebentar Nyonya, Anda terlihat sangat lelah "
Aku mengiyakan, memang aku sangat lelah. Pikiran serta tenaga ku... Cinta yang ku pikir akan sampai ke Jannah, rupanya hanya seumur jagung.
Entah kenapa aku jadi bersyukur karena belum memiliki keturunan?? Kalau aku sampai punya anak, pasti akan lain ceritanya.
Sesampainya di rumah, Bik Nursih sudah menunggu. Ia menyuguhkan susu jahe kesukaan ku saat menjelang malam.
"Bibik masih ingat kebiasaan ku, makasih Ya bik" Ku senderkan punggung ku di sofa empuk. Sudah tiga tahun lamanya aku tak pernah dilayani, Aku masak, Nyapu, Ngepel, Nyuci sendiri. Dan malah aku yang melayani seluruh keluarga suamiku. Tak ubahnya seorang babu yang tak bergaji.
Sebelum nya aku sangat ikhlas dan tak pernah mengeluh. Tapi sekarang, Hatiku sakit sangat sakit. Pengorbananku tak dianggap sama sekali.
"Nyonya" Bik Nursih memanggil lembut, Aku tersenyum menutupi kepedihan yang aku rasakan.
"Apa yang anda pikirkan ??"
Aku tetap tersenyum meskipun ku rasakan air mata ku siap tumpah.
"Bik ... tolong peluk aku" Pintaku, Bik Nursih bangkit dan lebih memelukku. Disanalah ku tumpahkan kesedihan ku yang selama ini ku tahan dalam-dalam.
"Menangis lah Nyonya, menangis lah sepuasnya... setelah itu, Nyonya tidak boleh bersedih lagi. Nyonya berhak untuk bahagia"
Aku menangis sejadi-jadinya, hingga tiada lagi kepedihan yang ku rasakan. Ini ujian yang sangat berat bagiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV FARHAT
Sepulangnya Mawar dari rumah ku, Ibu langsung mendekati ku.
"Farhat... benar Anies adalah Bos kamu??".
Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Apa?? kok bisa ya?" Raut wajah Ibuku masih tidak percaya pada kenyataan.
"Mangkanya tadi aku minta Ibu untuk diam, karena apa yang Ibu tuduh kan itu salah. Pria bermobil mewah itu adalah supirnya Bu"
Ibuku tercengang.
"Ibu malah ngomel terus, makin malu Farhat jadinya sama Anies"
"Jadi sebenarnya Rengganis itu kaya ya Farhat"
"Iya Bu..."
"Kok dia nipu kita? Ini penipuan Farhat , Kita bisa laporkan dia ke Polisi"
"Idih Ibu ini... emangnya Anies merugikan kita? nggak kan, malah kita memperlakukan dia sudah kayak pembantu gratisan di rumah ini, Tapi Anies tetap baik. Ia menaikan pangkat ku yang cuma buruh di pabriknya, sekarang menjadi jenderal manager"Entah kenapa, Aku jadi tidak terima jika Anies disalahkan.
Ibu merengut, mungkin ia masih dongkol aku membela mantan istri ku .
"Ya udah, Kamu balikan aja sama dia Far" Celutuk Ibuku.
"Nggak segampang itu Bu.. meskipun sebenarnya itu yang aku mau, Farhat sudah menyakiti hati Rengganis " Aku menjawab pilu.
Ibu menghela nafas kasar.
"Terus.. Apa rencanamu ?"
"Mungkin, Farhat akan mengikuti ide dari Mawar "
"Kamu mau pindah kerja??"
Aku mengiyakan.
"Ya nggak tahu Bu, Aku pindah di tempat kan sebagai apa masih belum jelas "
Lagi-lagi Ibuku menghela nafas saja.
"Ya udah Bu, Farhat mau mandi dulu "Aku pamit dan langsung masuk kamar tanpa menunggu jawaban dari Ibuku.
*
Aku setuju dengan ide Mawar , kalau kami akan resign dan pindah kerja. Tapi aku tidak mau ambil resiko, Aku akan coba melamar dulu,kalau diterima ? baru lah kami berhenti kerja.
Mawar sudah mengirim kan CV lamaran kerja ke Perusahaan yang dimaksud melalui bantuan Papanya. Kami tinggal menunggu panggilan interview saja.
Selama menunggu itu, Aku masih bekerja seperti biasa. Kami sengaja tidak memberi tahu kan kepada siapapun tentang rencana ini, Agar langkah kami tidak disabotase oleh Rengganis ataupun orang-orang disekitarnya.
Interkom di sampingku berdering, Aku cepat mengangkat nya.
"Pak Farhat!! bisa tolong datang ke ruangan saya"
DEG
Ini suara Rengganis , sudah dua hari ini aku tidak bertemu dengan nya. Di kantor atau pun di rumah. Karena dia sudah tidak tinggal di rumah ku.
Rasanya kok lain ya?? jantung ku jadi jedag-jedug.
"Pak Farhat"
"Ah iya Bu" Aku terkejut hingga membuat ku semakin gugup." Bisa anda datang sekarang ??"
"Ba-ba-baik"
KLEK
Sambungan terputus. Aku menarik nafas dalam-dalam, rasanya getaran cinta tumbuh kembali di hati ku. Karena begini lah perasaan ku dulu waktu pertama kali bertemu dengan Rengganis .
TOK TOK TOK TOK
"Masuk!" Seru suara dari dalam, Aku menarik handel pintu lalu melangkah masuk.
"Anda memanggil saya Bu" Sapaku hormat.
"Iya Pak... saya ingin anda dan tim anda datang menemui seorang designer dari Paris yang kebetulan datang ke Indonesia untuk mengumpulkan para designer kecil seperti saya. Agar ikut acara ajang pemasaran baju untuk hari raya idul Fitri di Turki. Saya ingin anda presentasi kan hasil karya baju baru kita kepada beliau, sehingga kita bisa terpilih untuk ikut ke perlombaan di Turki "
Aku terkesiap kaget mendengar permintaan Rengganis . Ia masih percaya dengan ku??.
"Pak..."
"Ah iya" Aku jadi gelagapan karena ketahuan sedang melamun menatapnya.
"Anda kenapa ??"
Aku tertunduk,
"Maafkan aku Nies... Aku nggak nyangka kamu masih percaya sama aku" Dadaku bergemuruh hebat.
"Kesalahan kamu cuma tidak setia sama aku sebagai pasangan, bukan sebagai Atasan kepada bawahan"
Aku tercekat, bagaimana jika aku berhenti dari pekerjaan ini?? Pasti Rengganis akan merasa terkhianati untuk kedua kalinya.
"Kenapa masih diam Mas? Kalau ada yang ingin disampaikan ? katakanlah!!"
Ku tatap anak mata wanita yang sebenarnya masih ku cintai. Dan bertambah cinta setelah peristiwa ini.
"Emmmm bi-bisakah... kamu... me-maafkanku" Ku kumpulkan semua keberanian yang ada untuk bisa mengatakan maaf kepada Rengganis .
Dia diam, matanya memperhatikan ujung jemarinya yang tersimpul.
"Jujur.... Aku sangat kecewa padamu Mas"
"Maaf kan aku" Aku semakin merasa bersalah.
"Tapi ya sudahlah... perlahan tapi pasti, kekecewaan ini akan sembuh dengan sendirinya"
"Tidak bisa kah... kau memberi ku kesempatan kedua" entah kenapa aku mampu meminta nya begitu? Rengganis melayang kan pandangan yang sulit ku arti kan. Namun hatiku seakan runtuh saat ia menggeleng kan kepalanya pelan.
"Kau lupa jika kau menamparku demi perempuan itu ?"
Akh iya... Oh Tuhan... kenapa tangan ini begitu ringan sekali ??