AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
KESAL 30


POV MAWAR


Kaget juga aku begitu melihat Rengganis dan Desi datang ke perusahaan tempat aku bekerja.


Berani juga mereka menentang perusahaan yang jauh lebih besar dari pabrik mereka sendiri.


Tapi aku sangat yakin itu semua hanyalah percuma saja.


Karena kami tahu sendiri bagaimana Bos Kami. Dingin dan tegas, apalagi ini menyangkut karya legendaris perusahaan.


Hem!! Aku jadi tidak sabar menunggu, bagaimana ekspresi wajah mereka yang terpaksa menelan kekecewaan.


Tapi????


Apa-apaan ini ??


Aku melihat Pak Indra keluar dari ruangan nya dengan menggandeng tangan Rengganis ??


Dan senyuman yang tidak pernah ku lihat terpancar indah dari wajah Bos tampan ku itu.


Semua terlihat tidak percaya, begitu juga dengan diri ku.


" Barusan itu Pak Indra kan?" Aku tanya sama Melati untuk memastikan penglihatan ku tidak lah salah.


" Lah terus siapa?Jin??" Celutuk Melati.


" Kok bisa gandengan tangan sama Rengganis ??"


" Mungkin pacar nya??"


" Ya nggak mungkin lah , Rengganis itu kan pemilik pabrik yang memplagiat desain legendaris perusahaan ini" bantahku tegas.


" Kamu kenal ??" tanya Melati membuat ku tersadar.


" Emmm Ya ..Aku...Aku tahu dari Mbak Riri " Untung otakku bekerja cepat.


" Oh jadi maksud kamu si plagiat datang ke mari, dan sekarang jadi mesra dengan bos kita gitu??" Akhirnya Melati paham maksud ku.


" Waaaaahhh tidak bisa dibiarkan ini" Melati bangkit dari duduknya, Aku mengikuti nya dari belakang.


Ternyata Aku berpapasan dengan Mas Farhat .


" Kamu mau kemana ?" tanyanya.


" Itu ikut Mbak Melati, kenapa?"


" Kau lihat Rengganis barusan nggak ?"


Oh rupanya Mas Farhat juga melihat mereka.


" Iya ini aku ikut Mbak Melati karena hal itu "


" Emm aku ikut"


Kami berdua pun berlari mengejar karena sudah keteteran dengan langkah kaki Mbak Melati yang lumayan cepat.


Mbak Melati menghampiri meja kerja Mbak Riri.


" RI, itu kenapa Bos Kita mesra banget sama si plagiat ?" Tegurnya to the points.


" Enggak tahu lah Mel, aku juga nggak ngerti. Tiba-tiba Bos meminta aku untuk mencabut laporan kasus ini " Jawab Mbak Riri yang spontan membuat aku terkejut.


" Kok bisa Mbak??" tanyaku.


Mbak Riri hanya mengedikkan bahunya.


" Apa Rengganis pakai guna-guna ??" Celutuk Mas Farhat yang membuat kami bertiga membeliak lebar.


" Kamu ingat tadi kan Mawar, pas kita ketemu mereka berdua di Lobby ? Rengganis terlihat sangat percaya diri, seolah-olah dirinya bukanlah seorang tersangka "imbuh Mas Farhat .


" Iya sih" jawab ku.


" Waduh Bahaya ini, kita harus menolong Bos kita dari jeratan perempuan munafik itu" Tukas Mbak Melati bersemangat.


" Tadi juga pas Di Kantor Polisi, dia sangat pintar bersilat lidah" Mbak Riri menambahkan.


Aku dan Mas Farhat saling melemparkan pandangan, dalam otak kami seperti tersirat pemikiran yang sama.


*


*


Dan ketika kami baru akan kembali bekerja, di Lobby kami melihat kedatangan Pak Indra. Wajahnya berseri-seri sekali, dan hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya membuat aku dan para staf yang lain tercengang.


Pak Indra Lesmana menggerakkan kepalanya menyapa kami disertai senyuman manis.


Kami para staf karyawan nya jadi gugup melihat perubahan sikap Pak Indra. Sungguh hal ini amat sangat mendebarkan.


" Sehebat apa guna-guna yang dipakai Rengganis , sehingga bisa merubah sikap Bos kita ?" Gumam Mbak Melati.


Perasaan ku tak tenang, Ini sangat membahayakan untuk ku yang nyata berseteru dengan Rengganis .


Mas Farhat hanya diam, matanya mengekori langkah Pak Indra yang masuk ke dalam lift.


*


*


Sore harinya, saat pulang kerja. Seperti biasa aku pulang menaiki mobil yang sama dengan Mas Farhat .


Yaps!! kami sudah resmi balikan.


" Mas, kita ke pabrik yuk" Ajakku.


" Mau ngapain ?? Sudahlah Mawar , untuk saat ini jangan buat masalah apapun. Kita akan fokus ke Pernikahan kita saja" Mas Farhat menolak.


" Aku nggak bisa biarin Rengganis melancarkan aksinya Mas, ini sangat berbahaya" Bantahku.


Mas Farhat tak menjawab.


" Coba Mas bayangin, gimana kalau Rengganis menguasai Pak Indra ? Ini lebih berbahaya dari pada Desi menunjuk kan video kita kepada Pak Indra Mas" sambung ku.


Mas Farhat nampak gusar, ia mungkin bimbang.


" Sudah cepat kita ke Pabrik Mas, sebelum Rengganis pulang "


Akhirnya Mas Farhat menuruti kemauan ku .


Saat kami baru tiba, Rengganis terlihat berjalan beriringan dengan Desi menuju ke mobil yang terparkir.


Aku gegas keluar dan berlari menghampiri mereka.


" Hay Nies!!!" Seruku yang berhasil" menghentikan langkahnya dan Desi .


" Kau ternyata licik juga ya, beraninya bermain ilmu hitam untuk menggaet Bos kami. Apa gunanya kau berhijab jika hati mu seperti Iblis ?!!" Ku tunjukkan jari ku tepat di depan wajahnya.


" Eh eh apa-apaan ini?? Datang-datang main maki-maki orang " Desi menyela, seperti biasa dia akan bertindak seperti super Hero.


" Jangan ikut campur" Aku pun menunjuk wajah nya dengan tajam.


Desi justru menepis tangan ku secara kasar.


" Kau yang jangan ikut campur, kalau tidak tahu apa yang terjadi jangan asal menuduh orang. Bisa-bisa kami laporkan kamu ke polisi atas sikap kurang menyenangkan, lumayanlah seminggu mendekam di penjara"


Mendengar ancaman Desi aku jadi berpikir dua kali. Disini aku tidak punya bukti kalau Rengganis memakai guna-guna.


" Hem takut juga ternyata " Desi mencemooh,tangannya terlipat rapi di dada.


" Mas,,, sebaiknya lusa kau tidak perlu datang ke pengadilan. Biar proses nya cepat selesai, kalau kamu datang?? Proses nya akan lambat" Tiba-tiba Rengganis menyelutuk.


Aku menoleh ke Mas Farhat yang berdiri di sisi ku. Ia nampak mengangguk ragu.


" Yuk Des, nanti aku terlambat " sambung nya.


" Oh iya.. kan malam ini kamu akan pergi makan malam dengan Indra Lesmana beserta Ibunya "


Apa yang dikatakan oleh Desi membuat ku terbelalak tak percaya. Si licik Desi tersenyum miring melirik ku, ia masuk ke dalam mobil hampir bersamaan dengan Rengganis .


TIT TIIIIT


Ia membunyikan klakson mobil dengan keras, karena aku dan Mas Farhat menghalangi jalannya.


Aku di tarik oleh Mas Farhat untuk menyingkir, rasanya kesal sekali melihat kesombongan mereka. Tapi disini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.