
Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya aku menjaga jarak dengan Indra Lesmana. Meskipun aku tahu dia mengatakan jika ia ingin menjadi sebatas seorang Kakak. Tapi aku merasa segan dengan perhatian yang berlebihan menurut ku.
Seperti pagi ini, dia datang menjemput ku untuk pergi ke pengadilan agama. Entah aku heran dari mana dia tahu mengenai jadwal sidang ku?
Dia membuka kan pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk .
" Jam berapa datang?" Tanyaku setelah ia duduk di samping ku tepat di belakang kemudi.
" Seperti yang ku janjikan, jam enam aku sudah disini " jawab nya, aku mengangguk pelan.
" Ok , sekarang kita kemana? Langsung ke pengadilan apa kita breakfast dulu?" sambung nya.
" Langsung aja, nanti kita bisa sarapan disana" Aku menjawab.
" Ok!"
Indra Lesmana mengemudi kan mobil nya perlahan meninggalkan area komplek perumahan ku.
Ketika aku dan Indra Lesmana duduk di emperan Alfamart menikmati breakfast kami, ku lihat Mas Farhat keluar dari mobil.
Bukankah aku sudah meminta nya untuk tidak datang agar proses sidang cepat selesai? Aduh, ada Indra lagi disini. Apa yang harus aku lakukan??
" Kenapa??" tiba-tiba dia melemparkan pertanyaan membuat aku gelagapan.
" Ah nggak apa-apa, emmm kamu nggak mau pulang?" tanyaku, ia menggeleng dengan santainya.
" Emang kamu nggak mau kerja?"
" Libur satu hari kan nggak masalah" jawab nya enteng.
" Ya jangan gitu dong, kamu tu kan orang penting di perusahaan. Lagian ini masih antri, jadi mungkin agak lama. Bang Bang pulang aja dulu yah" aku berusaha membujuk.
" Nggak apa-apa, aku tunggu " dia tersenyum tipis membuat ku mati akal.
" Mantan mu Sepertinya sudah datang "
Aku terkejut mendengar ucapan nya, ia memandang lurus ke area pengadilan agama. Apa dia tahu kalau Mas Farhat???
Indra Lesmana memalingkan wajahnya padaku, ia tersenyum tipis. Matanya terlihat memicing di balik kaca mata hitam nya.
" Bang Bang tahu dari mana??" tanya ku.
" Aku kan sudah bilang, itu bukan perkara sulit " Dia mengulang lagi kalimat yang diucapkan kemarin kepada ku, dan aku pikir itu hanya pancingan belaka.
" Dan aku tahu sesuatu yang belum kamu ketahui " Sambung nya, membuat aku mengernyit heran.
" Maksud Bang Bang??"
" Nanti aku kasih tahu, kalau sekarang nggak seru. Yuk selesaikan sarapan mu, kita masuk ke ruang sidang sebentar lagi "
Aku mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Indra Lesmana.
Tapi senyuman pria itu berhasil membuat otak ku buntu.
Tidak ada jalan lain, kecuali ku ikuti arahan nya untuk segera masuk ke ruang tunggu di kantor pengadilan agama.
Mas Farhat cukup terkejut melihat kehadiran Bos nya, ia jadi salah tingkah saat mereka beradu pandang.
Namun Indra justru melemparkan senyuman manis menyapa Mas Farhat .
Mas Farhat Pun membalas dengan canggung.
Tak lama kemudian, nama ku dan nama Mas Farhat di panggil. Aku refleks bangkit, si Indra pun sama. Dan hal itu membuat ku heran.
" Bang, tunggu disini aja ya'' Pinta ku.
" Aku harus ikut, karena aku adalah saksi untuk mu" Jawab nya yang membuat ku semakin tak mengerti.
" Tapi..."
" Sudahlah, ayo cepat masuk " ia memotong kalimat ku dan menarik lenganku. Untuk kesekian kalinya aku terpaksa menuruti nya.
Mas Farhat memperhatikan kami yang masuk dengan bergandengan tangan.
Aku jadi salah tingkah, tapi tak berdaya. Ku duduk di sebuah kursi yang bersebelahan dengan Mas Farhat.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kita mulai sidang ini dengan bacaan basmalah! bismillahirohmanirohim" Suara Tuan Hakim memimpin proses berjalannya sidang.
" Saudara Muhammad Farhat benarkah Anda sudah menjatuhkan talak kepada saudari Siti Rengganis?" pertanyaan dimulai dari Mas Farhat.
" Iya Tuhan Hakim , itu benar tapi saya sekarang menyesal Tuan Hakim dan ingin rujuk Kembali"
Aku terkejut mendengar jawaban Mas Farhat , rujuk?? Apa maksud semua ini?? Apa karena dia sudah tahu tentang siapa aku yang sebenarnya??
" Saudari Siti Rengganis, Apakah anda menerima permintaan saudara Muhammad Farhat ?" Tuan Hakim melemparkan pertanyaan kepada ku.
" Boleh anda memberikan penjelasan tentang penolakan anda" pinta seorang jaksa yang duduk di samping Tuan Hakim.
" Karena dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal ,dia berselingkuh di depan mata saya Tuan Hakim" aku menjawab permintaan Jaksa dengan tegas.
" Maaf Tuan Hakim, Ijin kan saya bicara " pengacara Mas Farhat mengangkat tangan nya, aku melemparkan pandangan kepada pria paruh baya itu.
Tuan Hakim mempersilahkan pengacara Mas Farhat untuk bicara. Pria itu pun berdiri dan maju di depan ku.
" Maaf Nyonya, jika saya boleh tahu? anda tadi mengatakan jika Tuan Farhat berselingkuh di depan mata anda??"
Aku mengiyakan pertanyaan nya.
" Berselingkuh seperti apa yang anda maksud kan?? Apa dia bersetubuh?? ataukah dia berciuman?? Atau hanya ada tamu teman kerjanya??"
Aku langsung meradang mendengar pertanyaan itu,
" Apa maksud anda Tuan pengacara?? Apa anda menuduh saya berbohong??" Balasku.
" Tidak?? dimana ada kalimat saya mengatakan anda berbohong?? Saya hanya ingin bukti bukan hanya ucapan omong kosong "
Geraham ku mengeras, tanganku mengepal kuat. Ku jeling Mas Farhat yang tersenyum penuh arti kepada sang pengacara.
" Tuan Hakim, saudari Siti Rengganis tidak bisa membuktikan ucapan nya bahwa klien saya berselingkuh di depan mata nya"
" Tapi dia sudah menjatuhkan talak!" Hardikku memotong kalimat nya.
" Itu benar, dan hal itu sudah diakui oleh klien saya. Tapi anda yang memaksa nya untuk menjatuhkan talak. Karena anda bersikeras dengan tuduhan anda bahwa klien saya sudah berselingkuh "
Aku semakin emosi dengan pernyataan pengacara Mas Farhat . Tapi aku tidak bisa membuktikan perselingkuhan yang dilakukan oleh Mas Farhat.
Salahku sendiri, kenapa aku tidak mengumpulkan bukti-bukti kebersamaan Mas Farhat dan Mawar sebelumnya?
Aku sudah terlanjur percaya diri bahwa cukup dengan kata talak yang diucapkan oleh Mas Farhat semua akan selesai.
" Dan saya harap Tuan Hakim mau mempertimbangkan permohonan klien saya untuk rujuk dengan saudari Siti Rengganis, terimakasih" Si pengacara mundur dan kembali ke tempat duduknya.
Ku lempar kan pandangan ku kepada pengacara ku, dia menggeleng perlahan seperti tidak menemukan bantahan. Karena kami tidak memegang bukti yang diminta.
Tuan Hakim dan Jaksa pendamping seperti saling mengemukakan pendapat dengan suara rendah.
" Maaf Tuan Hakim"
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang punggung ku, aku menoleh begitu juga dengan semua yang ada di ruang sidang.
Indra?? kenapa dia berdiri.
" Maaf kalau saya terpaksa ikut campur, saya akan memberikan sebuah bukti yang diminta"
Aku mengerutkan kening, bukti?? Bukti apa?? Ohya?? aku lupa, Desi pernah bilang kalau dia punya video rekaman kemesraan Mas Farhat dan Mawar di kantor. Dan dia sempat mengancam Mawar akan memberikan nya pada Indra Lesmana. Apakah Desi benar-benar memberikan nya kepada Indra?? Apa karena itu Indra tahu siapa mantan suami ku??
" Anda siapa?" Tanya Tuan Hakim.
" Saya satu-satunya ahli keluarga dari saudari Siti Rengganis " Indra menjawab dengan mantap.
" Mohon Tuan Hakim menerima bukti yang diberikan oleh Pak Indra " Sambung ku.
" Baiklah, silahkan " jawab Tuan Hakim,
Indra Lesmana maju sembari menyerah sebuah flash disk. Lalu ia kembali duduk di tempat semula.
Mas Farhat nampak pucat pasi, aku tersenyum senang melihat perubahan wajah nya.
(Besok, aku akan datang ke sidang perceraian ku dengan Rengganis . Aku akan meminta rujuk )
(Oh jadi ini rencana mu?"
" Ssttttt jangan keras-keras, dengarkan dulu kelanjutan nya"
" Aku hanya ingin menunda Hakim mengetuk palu, jadi aku bisa punya waktu untuk membu-nuh Rengganis. Kalau belum ketuk palu, meskipun aku sudah mengucapkan kata talak , aku tetap suami secara hukum"
" Kau mengerti maksud ku bukan??"
" Artinya,, jika Rengganis meninggal, akulah pewaris atas semua hartanya. Pabrik RDA dan RS akan jatuh ke tangan ku"
" Kau pintar sekali Mas?? Dapat ide dari mana??"
" Kalau otakku sudah bekerja, semua akan jadi mudah ")
Aku terkesiap kaget mendengar rekaman suara yang diputar dengan sangat jelas sekali.
Ku putar kepala ku ke arah Mas Farhat , wajahnya sudah seputih mayat