
Indra Lesmana kembali duduk di tempat semula. Kini bagiku suasananya jadi canggung, aku merasa malu berada di dekat pria yang telah lama tidak ku temui itu.
Namun Indra nampak biasa saja, bibirnya melengkung mengukir senyum. Menambah ketampanan yang terpancar dari wajah nya.
" Emmm berhubung kalian sudah dipertemukan kembali, alangkah baiknya kalau Tante melanjutkan apa yang dulu direncanakan oleh Papamu dan Papanya Indra"
Mataku membulat mendengar ucapan Tante Shella. Kemudian bergulir menatap Indra Lesmana yang senyam-senyum saja.
" Tapi Tante.." Aku tak mampu mengeluarkan suara yang ingin ku utarakan.
" Kenapa?" Tanya Tante Shella.
" Emmhh Apa Bang Bang belum cerita tentang saya Tante?"
Tante Shella melemparkan pandangan kepada putra nya, Indra Lesmana hanya mengangkat kedua bahunya.
" Tidak,,, Dia tidak cerita apapun??"
Aku bingung, Bang Bang hanya senyum-senyum. Entah apa yang diinginkan oleh pria ini? Aku juga tidak mengerti.
" Emmhh Anu Tante, Ies... Masih belum ketuk palu "
Tante Shella mengernyitkan keningnya.
" Kau sudah menikah??"
Aku mengiyakan, Sirat mata wanita paruh baya ini membuat sikapku jadi canggung.
" Oh my Good, kok bisa Ies?? Apa kamu memang lupa kalau kamu udah dijodohkan dengan Indra??" Tante Shella mungkin sangat kecewa dengan nasib ku.
" Ma, jangan emosi dulu..." Indra sangat lembut menenangkan hati sang Ibu.
" Tadi Ies bilang kan belum ketuk palu, berarti dia akan segera bercerai. Indra tidak masalah Ma, yang penting bukan istri orang "
Aku diam memperhatikan dua ibu dan anak itu secara bergantian.
Perlahan Tante Shella menghembuskan nafasnya. Ia terlihat mengatur nafas dengan baik.
" Ok... Kapan kau akan resmi bercerai??"
Pertanyaan Tante Shella seperti menuntut diriku. Meskipun aku ingin secepatnya bercerai resmi dengan Mas Farhat . Tapi rasanya bimbang jika di paksa melakukannya.
" Emmm saya ingin secepatnya Tante, tapi saya juga tidak ingin cepat-cepat menikah"
Aku mengatakan yang sejujurnya, meskipun ku tahu itu akan mengejutkan mereka.
Indra Lesmana beserta Ibunya menatap ku lekat. Seperti ada kekecewaan yang tergurat.
" Maaf.." Aku merundukkan kepala ku, rasanya enggan untuk bersitatap dengan mereka.
" Ok!! No problem, mungkin Ies masih butuh waktu Ma" Indra sekali lagi mencoba memahami diriku.
" Tapi kalian sudah cukup lama membuang waktu, dan sekarang masih butuh waktu?? Butuh berapa lama lagi?? Apa sampai Mama mati??"
" Sttttt" jari telunjuk Indra menyentuh permukaan bibir nya " Mama tidak boleh bicara begitu, Mama akan berumur panjang, sampai melihat cucu-cucu Mama dewasa dan menikah"
Aku tergamak Tante Shella berkata demikian. Begitu putus asa kah beliau hingga merasa akan segera meninggal.
" Maafkan Mama ya.." Indra nampak merasa bersalah, aku meliriknya sepintas lalu kembali menatap jalanan lepas yang kami lalui.
" Nggak apa-apa, justru aku yang seharusnya minta maaf. Karena tidak bisa memenuhi permintaan nya" Ucapku.
" Mama memang sangat mengkhawatirkan aku, karena aku si bontot yang belum menikah. Kedua kakakku sudah memiliki anak, ada yang dua , ada yang tiga. Aku sendiri yang masih lajang" Indra bercerita tentang dirinya, aku manggut-manggut saja.
" Karena aku yakin, gadis kecil yang petakilan itu akan datang padaku kembali"
Aku tersenyum, si petakilan adalah julukan untuk ku yang selalu saja ngerjain Indra Lesmana.
" Btw,,, kemana mantan suami mu sekarang?? Apa dia sudah menikah lagi??"
Aku mengiyakan.
" Hampir, mungkin dalam waktu dekat mereka akan menikah"
" Mereka?? Apa kamu mengenal calon istri nya yang baru??" Indra terus mengulik hidupku sembari sibuk mengemudi kuda besinya.
" Apa kalian masih saling bertemu??"
Aku membenarkan..
" Ahhh hubungan seperti apa itu?? Kau masih mencintai mantanmu??"
Rasanya Indra Lesmana salah paham dengan jawaban ku.
" Tidak,, aku sudah tidak punya perasaan apapun dengan nya"
" Serius ??" Indra Lesmana meragukan jawaban ku, matanya sering kali melirik ku mencari apakah ada kebohongan di wajah ku.
" Serius lah" jawab ku singkat. Ia geleng-geleng kepala disertai decihan. Entahlah,,, apapun penilaian nya terhadap ku, aku tidak perduli.
Aku turun dari mobil Indra, pria itu menutup pintu di belakang punggung ku.
" Ayo kita menikah"
Langkah ku terhenti mendengar seruannya, ku putar tubuh ku menghadap nya.
" Ayo kita menikah, dan kita pindah dari kota ini" Ia mengulang kalimat yang baru saja membuat ku terkejut, dengan suara yang sangat meyakinkan.
" Kenapa harus pindah???" tanyaku.
" Agar kau terlepas dari masa lalu mu"
Bibir ku tak tahan untuk tidak tersenyum.
" Kau pikir aku akan tetap mencintai pria yang sudah berkhianat?? Ck CK CK .. Itu jauh dari prinsip ku"
" Tapi aku tidak mau ambil resiko" bantahnya , sepasang anak matanya begitu tajam menatap ku.
Ku angkat kakiku dua langkah ke depan, dan pas berhenti di depannya.
" Kalau begitu, jangan pernah berhubungan dengan seseorang yang punya masa lalu"
Mata kami beradu, pupil matanya ku lihat mengecil. Ia mungkin kecewa dengan jawaban ku yang seolah-olah tidak menerima kehadirannya.
Tapi aku tidak perduli, ku balikan badan ku dan pergi tanpa ku menoleh lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV TASYI
Aku Tasyi Nur Fatah, gadis keturunan Arab yang masih lajang. Usia ku sudah hampir berkepala tiga.
Bukan aku tidak laku Atau pun pemilih, aku menyukai seorang pria teman kuliahku dulu. Namanya Indra Lesmana, dia tampan, pintar, cerdas dan berwibawa.
Tidak pernah ku temui dia dekat dengan wanita, menurut nya, dia menunggu seseorang.
Dan itu yang membuat ku kagum hingga aku jatuh cinta. Sampai saat ini, kami tetap berteman. Malah menjadi partner kerja, Aku yang memiliki butik bekerjasama dengan nya yang merupakan pemilik pabrik tekstil terbesar di kota ini.
Tapi malam ini, aku tidak sengaja bertemu dengan nya di sebuah restoran. Ia duduk bertiga dengan dua wanita beda usia.
Rupanya itu adalah Ibunya, dan satu lagi gadis yang selalu di nanti-nanti olehnya.
Wajahnya bersahaja, ayu, memiliki senyuman yang cukup manis.
Hati ku kini merasa putus asa, harapan ku untuk bisa bersamanya pupus sudah.
Akan tetapi, saat diam-diam aku mendengar percakapan nya. Sebuah pintu harapan seperti terbuka untuk ku.
Wanita itu menolak untuk segera menikah dengan Indra Lesmana. Alasannya, dia baru saja akan bercerai.
What's?? Dia sudah menikah, ini sungguh tidak adil untuk seorang Indra Lesmana. Kesetiaan nya menunggu wanita itu sangat tidak dihargai.
Aku mengikuti mereka secara diam-diam saat mereka pulang. Di sinilah aku tahu tempat tinggal wanita itu.
Setelah mobil Indra pergi menjauh, ku rapat kan mobil ku di depan pintu gerbang rumah wanita itu.
Lumayan tajir dia, mungkin hasil dari pernikahan nya. Ku ketuk daun pintu yang baru saja di tutup.