
Pagi-pagi aku mendapatkan telfon dari Tante Shella, katanya Indra Lesmana akan mengundurkan diri dari perusahaan.
" Kok bisa Tante??" Hal itu lah yang ingin aku tahu.
" Karena kamu menolak untuk menikah dengan nya, jadi dia merasa tidak pantas berlama-lama di perusahaan itu"
Aku tak percaya jika Indra akan berpikiran sempit seperti ini.
Apa yang dia inginkan sebenarnya??
" Baiklah Tante, Ies akan segera datang kesana" Ku matikan telepon, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Setibanya di PT RS FASHION , aku berjalan dengan sedikit berlari. Karena aku baru dapat tahu , Jika Indra tengah berada di Aula karena ia mengadakan rapat eksklusif.
Dan aku yakin, ini pasti masalah pengunduran dirinya.
"INDRA!!"
Suaraku menggema membuat semua orang yang berada di dalam Aula menatap ku.
Ku hampiri Indra dan kamu sedikit berdebat disana.
" Apa yang kamu inginkan sebenarnya??" Tanyaku.
Indra hanya menatap ku,
" Apa kamu memperjuangkan pabrik ini sampai berada di tahap sekarang, hanya untuk menikah dengan ku??" ku lontarkan pertanyaan selanjutnya yang sangat ingin aku ketahui.
Indra tetap bungkam.
" Jujur,,,, aku kecewa Bang, dan semua karyawan yang setia padamu pasti merasakan hal yang sama" Aku berharap Indra akan mengerti.
Dia menatap ke sekeliling, karyawan nya banyak. Mungkin tiga kali lipat dari karyawan di pabrik ku.
" Jodoh di tangan Tuhan Bang, tapi nasib mereka ada di tangan mu. Ku harap Bang Bang mengerti apa maksud ku"
Tak ada alasan lagi aku tetap berdiri di podium, segera ku balikkan tubuhku dan turun.
" Maafkan aku"
Aku mendengar suara Indra dibelakang punggung ku, aku menoleh untuk memastikan dia minta maaf kepada siapa?
Eh baru saja menoleh, pria itu sudah berlari menghampiri ku.
Gerakannya cepat, sampai aku tidak bisa mengelak saat ia menarik tangan ku berlari keluar Aula.
Ia membawa ku ke dalam ruang kerjanya, tidak lupa ia mengunci pintu dari dalam dan memastikan tidak ada yang mengikuti kami.
Indra menghela nafas panjang dan cepat. Ia ngos-ngosan begitu juga dengan diriku.
Aku tersenyum lucu, sikapnya sungguh kekanak-kanakan. Ia juga membalas senyumanku yang perlahan berubah menjadi tawa berderai.
" Sumpah!! Aku malu" ucapnya.
" Salah sendiri" aku membalasnya.
" Kau tidak tahu apa yang aku rasakan Ies" ia melangkah dan mendudukkan dirinya di sebuah sofa panjang.
Aku pun duduk berhadapan dengan nya.
" Aku mencintaimu, dan aku sangat kecewa kau mengabaikan aku. Aku merasa penantian ku sia-sia. Sudah ku putuskan, aku akan serahkan pabrik ini padamu. Dan aku pergi kembali ke luar negeri"
Kini aku mengerti jika inilah tujuan nya.
" Lalu apa kamu pikir semua masalah selesai???" tanggap ku.
" I don't know, aku hanya ingin menyembunyikan diri darimu" jawab nya.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu ku hembuskan perlahan.
" Maafkan aku bang , Tidak mudah bagiku untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki lagi. Karena pernikahan aku yang sebelumnya sangat amat menyakitkan. Padahal aku sudah berekspektasi tinggi dengan pernikahanku ini, Mantan suamiku mengenal aku bukan sebagai seorang pemilik pabrik. Tapi dia mengenalku sebagai seorang gadis biasa dan dia mau menikahiku. Aku pikir itu hal yang luar biasa Bang, karena aku diterima bukan karena aku seorang bos. Melainkan hanya sebagai seorang wanita biasa saja dan yatim piatu. Tapi ternyata perkiraanku salah ,dia selingkuh dariku, dia mengatakan di depanku bahwa aku hanya seorang wanita yang tidak berguna dan tidak bisa memiliki anak"
kalau kamu ada di posisi aku? sakit..... sampai sekarang aku masih merasakan sakit itu. Jadi maafkan aku jika untuk saat ini aku menolak keinginanmu menikah denganku"
Aku jelaskan semua, namun aku berusaha menjaga nama siapakah orang yang ku maksud itu.
Indra manggut-manggut, mungkin dia mengerti apa yang aku sampaikan.
" Boleh aku tahu, siapa pria kejam itu??"
Pertanyaan yang tidak mungkin ku jawab, aku hanya menggeleng pelan.
" Tak perlu Bang Bang tahu siapa dia, karena hal itu tidak lah penting "
Indra Lesmana mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan dua siku menopang di atas kedua pahanya.
" Jika aku tidak bisa menjadi suamimu, maka aku bisa menjadi Abang mu" suaranya pelan tapi bijak.
Kami bertentangan mata dalam waktu sekian detik, tapi aku tidak kuat. Mata itu berhasil membuat ku gugup dan membuang pandangan ku jauh.
" Suatu hari nanti aku akan memberi tahu mu Bang, tapi bukan sekarang"
Ia mengernyitkan dahi, helaan nafasnya sangat berat.
" Ok!! Kalau itu akan menjadi rahasia mu. Tapi jangan kau pikir, aku tidak punya cara untuk tahu siapa mantan suami mu. Itu perkara mudah"
Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja kerja, mengambil secangkir teh. Tapi Indra tidak jadi meminumnya. Ia meletakkan kembali cangkir tersebut, dan sekali lagi ku dengar ia membuang nafas dengan kasar.
" Kenapa??" tanya ku.
" Ck, teh ku ada semut nya. Menji-jikkan... Bagaimana Ob itu bekerja membersihkan ruangan ku? Sampai banyak semut di dalam teh ku" Ia ngedumel sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa kembali.
" Tidak perlu marah-marah, nanti tensi darah nya naik. Cuma masalah itu aja tidak perlu di persulit" jawab ku enteng.
" Masalah nya aku malu mau ketemu stafku"
Aku menutup mulut ku menahan tawa, ia jujur sekali.
" Lihat!! Kau justru mentertawakan aku" ia semakin kesal.
" Ok ok... biar aku yang buat kan teh untuk Bang Bang" jawab ku kemudian.
" Kau serius??"
Ia menatap ku tak percaya, ku balas dengan kerlingan sebelah mata.
Dari kejauhan terlihat di dalam pantry seperti nya banyak orang. Aku jadi gugup juga, karena pasti nya hal yang terjadi di Aula akan menjadi trending topik pembicaraan.
Dan benar saja, sayup-sayup ku dengar mereka tengah membahas Indra dan aku.
" Jadi ini alasannya kenapa Pak Indra menarik kembali laporan nya? ternyata Ibu Rengganis adalah pemilik perusahaan ini. Pantes dia merasa tidak menjiplak karya legendaris perusahaan kita. Karena dia hanya mendesain ulang Karya yang dibuat oleh Ibunya "
" Betul banget, hebat ya dia. Bisa mengingat secara rinci desain sang Ibu. Aku jadi merasa bersalah karena telah mencurigai nya memakai guna-guna untuk menaklukkan hati Pak Indra "
" Nanti kau harus minta maaf kepada dia Mel"
"He-em"
Aku berjalan perlahan masuk ke dalam pantry, dan seperti dugaan ku. Mereka kelabakan melihat ku sudah berada di sana.
Aku juga melihat Mawar diantara mereka, tapi rasanya dia tidak bicara sepatah kata pun dari tadi.
" Eh Ibu.. emmm bisa bantu" wanita yang bicara di kantor polisi dengan ku tempo hari menawarkan bantuan.
" Iya, emmm Pak Indra minta dibuatkan teh lagi. Karena teh yang sebelumnya banyak semutnya" jawab ku.
" Oh baiklah Bu, biar saya buatkan" wanita itu pun cepat bertindak.
Tak sengaja pandangan ku bertembung dengan Mawar , ia terlihat salah tingkah. Lalu pamit kepada yang lain untuk pergi.