
POV FARHAT
"Nies..."
TUUUUUUUUT (Mati) Aku jadi bingung kenapa Rengganis berubah ??Apa dia terlalu malu karena Desi mengatakan apa yang terjadi diantara kami di depan khalayak ramai ?? Seharusnya dia tidak perlu malu,toh aku masih suaminya...Ah..Nies Nies...kamu masih saja wanita pemalu.
Aku tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Ku perhatikan pagar rumah Rengganis yang tinggi menjulang. Bahagia rasanya jika aku kembali pada Rengganis , Dan tinggal di rumah besar ini.
Tentunya... Akan ku boyong semua keluarga ku juga.Pasti Rengganis tidak akan masalah, dari dulu dia bukanlah wanita pembangkang.
Apalagi disini dia punya pembantu, pasti dia tidak akan kerepotan meskipun keluarga ku juga ikut tinggal disini.
Ahhh ku senderkan Kepala ku , rasanya tak sabar untuk rujuk dengan Rengganis . Akan ku utarakan niatku kepada Ibuku dan Bapak. Pasti mereka akan senang sekali.
Dengan semangat aku putar haluan menuju rumah.
Kepulangan ku disambut oleh seluruh keluarga ku yang tengah bersantai di depan tv.
"Farhat...udah pulang Nak??" Tanya Ibu.
"Iya Bu" jawab ku.
"Wah Mas Farhat terlihat berseri-seri,udah ketuk palu Mas" Yasmin turut menyapa.
Aku duduk di kursi kosong diantara mereka, ku raih pisang goreng buatan Ibuku yang masih hangat.
"Bu... kayaknya Farhat bakal rujuk sama Rengganis " ucapku sambil melahap pisang goreng.
"Apa?!!rujuk?" seperti dugaan ku, Ibuku kaget. Begitu pun dengan Yasmin. Sedangkan Dino dan Bapak santai aja.
"Mas udah gila ya... jangan-jangan dia dipelet lagi sama Mbak Anies Bu" tukas Yasmin seenaknya.
" Kamu kok bisa mau rujuk sama Anies?Mawar gimana?" sambung Ibuku.
"Ck... biarin saja Bu, Emang Ibu nggak mau tinggal di rumah mewah??, ada kolam renang, ada supir, ada pembantu.. Ibu tinggal duduk santai tanpa harus repot-repot ngurus apapun. Hidup kita akan terjamin " Ku bagi khayalan indahku jika ku rujuk dengan Rengganis .
Semua keluarga ku saling berpandangan satu sama lain.
"Emang Mbak Anies mau?" Celutuk Dino.
"Ya mau-Lah.. Tadi dia sendiri yang absen sidang terus ngajak Farhat ke rumah nya dan nanyak apa benar Mas mau rujuk, gitu??terus..." Aku tak mampu melanjutkan apa yang terjadi diantara aku dan Rengganis , rasanya malu sekali. Apalagi ada Yasmin dan Dino disini.
"Terus apa??" Ibuku justru tidak peka, ku tunjuk bagian leher ku yang kemerahan.
"Kenapa itu?? kok leher kamu dikerokin Far?" Ibuku pindah tempat duduk agar lebih dekat dengan ku.
"Masak Ibu nggak tahu sih???" ku dekat kan mulut ku ke daun telinga Ibuku "Kami bercinta dengan sangat ganas Bu"
Ibuku membulat kan matanya...
"Aku bahagia sekali hari ini Bu.. pokoknya Farhat akan rujuk sama Rengganis , dan akan kembali ke perusahaan Rengganis . Ibu akan memiliki anak yang akan menjabat sebagai Direktur utama Pabrik tekstil terbesar nomor dua di kota ini" Aku sangat berapi-api mengungkapkan impian ku.
Ibuku tersenyum, ia sepertinya sudah menggambarkan bagaimana hidupnya nanti jika ku boyong ke rumah Rengganis .
"Asal kamu bahagia Farhat , Ibu ngikut aja" jawab nya kemudian.
"Terimakasih Bu..."
TOK TOK TOK TOK TOK
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu depan, keras sekali. Aku dan semuanya saling berpandangan satu sama lain. SIAPA??
Ibu bangkit diikuti oleh aku dan yang lainnya. Begitu pintu di buka, muncul Mawar yang langsung menampar ku.
Semua tersentak kaget,,
"Mawar !! kamu kenapa datang-datang langsung nampar aku?" tanyaku sambil memegang bekas tamparan nya.
"Itu memang Pantas kamu dapatkan Mas, dasar laki-laki mur*Han!! mentang-mentang sekarang Rengganis kaya raya, kamu rela tidur dengan nya.. kenapa nggak sekalian ju*l diri aja??"
"Hey!! Jaga mulutmu ya!!" Tiba-tiba Ibu membentak Mawar " Farhat dan Rengganis belum resmi bercerai, jadi nggak masalah kalau mereka mau tidur bareng"
Aku mengangguk setuju dengan perkataan Ibuku.
"Oh jadi sekarang Ibu mendukung nya" Mawar menunjuk mukaku menggunakan tangan kiri.
"Yah!!! Apapun yang bisa membahagiakan anakku, aku akan mendukung nya"Ibu mengangkat dagu membela ku.
"Kalian memang sekumpulan orang yang mata duitan, saat Rengganis hanya dikenal sebagai menantu miskin. Kalian menghinanya, tapi setelah kalian tahu dia kaya raya. Kalian menjilat kakinya" ucap Mawar penuh amarah.
"Tidak mengapa, yang penting kita bahagia "bantah Ibuku. Ku lihat Mawar mengeraskan geraham nya.
"Awas ya kalian, akan ku buat kalian menyesal karena hal ini. Dan kamu Mas, jangan pernah mencari ku lagi" Mawar menunjuk wajah ku lalu berbalik pergi.
"Farhat nggak pernah mencari mu, kamu yang selalu ngejar-ngejar anakku" Seru Ibuku mengiringi kepergian Mawar . Gadis itu menoleh dengan bringas, kedua matanya seperti menyala penuh kemurkaan.
"Sudah Bu " Aku meminta Ibu agar menyudahi, seraya mengajak masuk ke dalam rumah.
"Enak aja anakku dibilang Mur*Han, nggak sadar kalau dirinya jauh lebih mur*Han. Mau-maunya jadi selingkuhan suami orang..Huuuu" Ibu masih ngedumel sembari menutup pintu.
"Untung kamu nggak jadi nikah sama dia Farhat, kalau nggak... pasti dia selalu menghina keluarga kita. Beda sama Rengganis , meskipun dia kaya raya, selalu tampak bersahaja. Baik dan nggak sombong..."
Aku tersenyum senang Ibuku mulai memuji Rengganis . Jadi akan semakin lancar hubungan kami yang kedua.
" Kok aku jadi ragu Bu" Tiba-tiba Yasmin berpendapat membuat aku dan Ibu menatapnya heran.
" Ragu gimana maksud kamu Yas ?" Tanya Ibu ku.
" Aku ragu Mbak Anis akan benar-benar mau balikan sama Mas Farhat. Secara yang aku tahu kita sekeluarga sudah menyakitinya berkali-kali , menghinanya, rasanya mustahil dia ingin rujuk. Kecuali dia ingin membuat hubungan Mas Farhat dan Mbak mawar porak-poranda "
" Itu aku setuju Mbak" Timpal Dino.
" Hus, kamu masih kecil jangan ikut-ikutan pembicaraan orang dewasa " Celah Ibuku sedikit mengkritik adik bungsu ku.
" Tapi kalau Dino ada diposisi nya Mbak Anies , Dino akan melakukan hal yang serupa. Tidak mungkin Dino biarkan orang yang sudah menyakiti Dino hidup bahagia "
Penjelasan Dino sedikit merungsingkan pikiran ku.
Bagaimana jika itu benar?? Aku jadi malas untuk mendengar apapun lagi?? Ku tinggalkan mereka begitu saja masuk ke dalam kamar.
" Din,,, lihat!! Kamu sudah membuat Mas Farhat mu marah " Suara Ibu menegur Dino masih bisa ku dengar.
Tak ada jawaban yang ku dengar, mungkin Dino ngedumel sendiri seperti biasanya.