AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
KEPUTUSAN AKHIR


Hari ini adalah hari pernikahan Desi, aku ditunjuk oleh nya agar menjadi pengapit pengantin. Mengantarnya ke altar untuk janji pernikahan di sebuah gereja.


Aku datang bersama dengan seorang pria, yang selalu setia mendampingi ku. Meskipun perasaannya ku gantung tak bertali.


Ia tetap dengan sabar menunggu ku, memantapkan hati ku agar yakin dengan perasaan nya.


Meskipun banyak wanita cantik diluar sana yang begitu mendambakan dirinya, termasuk di Tasyi. Ia tetap mengatakan jika dia ingin menunggu ku.


Ohya, kalian pasti ingin tahu bagaimana nasib Mas Farhat sekarang?? Dia masih di rumah sakit, tapi Alhamdulillah sudah sedikit membaik.


Mawar sendiri , tidak tahu sekarang ada dimana? Kabar terakhir yang aku dengar dari Desi, dia kabur ke luar negeri tanpa sepengetahuan siapapun.


Entah aku tidak tahu apa alasan dia kabur, apa karena kondisi Mas Farhat . Atau karena masalah lainnya, aku tidak tahu.


Aku tersenyum memperhatikan Desi di atas altar yang melakukan adegan ciuman bersama suaminya. Ia nampak sangat bahagia sekali.


Bunga buket yang digenggamnya, ia lempar dengan membelakangi pengunjung.


Sorak Sorai para tamu saat bunga itu berhasil di dapatkan oleh seseorang. Dan tak disangka, ternyata Indra yang mendapatkan nya.


Eh... Bukankah dia dari tadi duduk di samping ku? Sejak kapan dia maju ke depan?


Pria itu sumringah sekali mendatangi ku dengan sebuket bunga di tangan. Dan hal yang tidak ku duga terjadi, ia duduk berjongkok di depan ku sambil mengangkat bunganya.


Suara tepukan tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Aku jadi malu, ini pernikahan siapa? Dan siapa yang mendapatkan kejutan?


" Bersedia kah kau menikah dengan ku?" ucapan nan lembut mampu menghipnotis seluruh tamu. Mereka lebih bersemangat lagi bertepuk tangan untuk kami.


" Bang, malu" Ucapku dengan suara berbisik.


" Kenapa harus malu?" jawab nya.


" Terimalah bunga ini, aku capek duduk kayak gini" Sambung nya, aku tidak dapat menahan senyum.


Mau tidak mau ku terima juga bunga itu, sorak Sorai para undangan semakin keras terdengar.


Rasanya aku ingin kabur saja dari tempat itu.


" Kamu apa-apaan sih Bang, malah bikin aku malu di resepsi pernikahan Desi" Gerutu ku saat kami sudah dalam perjalanan pulang.


" Ya nggak apa-apa, sekalian gitu" Jawab nya tanpa dosa.


" Kamu kan tahu sendiri Bang, aku masih belum siap?" Tukas ku.


" Ies... berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak akan menjadi seorang Farhat . Tidak cukup kah penantian ku selama bertahun-tahun?" Ia menatap ku sesekali dengan wajah memelas.


Aku diam, ku buang pandangan ku jauh ke luar.


Yah... Aku akui tidak mudah melakukan apa yang Indra lakukan untuk ku. Aku saja memilih menikah tanpa berpikir panjang tentang janji yang kami ucapkan waktu kecil dulu.


" Ies... "


Aku tersentak kaget, sedari tadi aku diam dengan berbagai macam pikiran di otakku.


" Udah nyampe " imbuh nya yang langsung membuat ku sadar bahwa sekarang aku sudah di depan rumah.


" Oh ya... Maaf Bang" aku segera menekan tuas pintu.


" Ies.." Tapi suara Indra menahan ku keluar.


" Jangan terlalu dipikirkan, aku akan tetap menunggu mu. Dan rasa sabar ku masih banyak stok " Ucap nya yang memancing ku untuk tersenyum.


" Assalamualaikum " pamitku.


" Wa'alaikum salam " jawab nya.


Aku keluar dan masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tangan ke arah nya.


Ku hempaskan tubuh ku ke atas sofa, aku merasa otakku lelah sekali. Ku picit kening ku perlahan.


" Sudah pulang Nyonya..." sapa Bik Nursih seraya menghampiri ku.


" Iya Bik... Bik tolong buat kan susu madu jahe dong... " Pinta ku kepada nya.


" Baik Nyonya "


Tak berapa lama, Bik Nursih sudah datang kembali dengan membawa pesanan ku.


" Nyonya kenapa?? Sepertinya lagi banyak pikiran ya" Bik Nursih duduk di lantai sambil memijit kakiku. Itulah yang selalu ia lakukan jika aku duduk bersantai.


Ku tarik nafas ku dalam-dalam, lalu ku hembuskan perlahan.


" Bik, aku tidak memiliki orang tua yang bisa ku ajak berdiskusi. Bisakah Bibik menjadi orang tua ku sekarang??" ucapku kepada Bik Nursih .


" Dengan senang hati Nyonya " jawab nya yang membuat ku senang.


" Tadi,,, Di acara pernikahan Desi. Indra melamar ku Bik" ku awali cerita ku.


" Bagus dong Nyonya " Timpalnya cepat.


" Loh?? Belum apa-apa kok sudah bagus" cetus ku.


" Lah iya, kurang apa coba Tuan Indra kepada Nyonya. Dia baik, sopan, kaya, sabar, dan pastinya cakep banget orang nya"


Wuih... begitu tinggi Bik Nursih memuji si Indra Lesmana.


" Ini bukan masalah itu Bik" Sergah ku.


" Iya, Bibik paham... Nyonya trauma??"


Aku membenarkan.


" Kan tinggal Nyonya nilai sendiri gimana keluarga Pak Indra, katanya Nyonya kenal sudah sejak kecil?"


Sekali lagi aku membenarkan.


" Nah, kan itu bukan perkara sulit toh?" imbuhnya.


Itu benar, dan tidak salah. Keluarga Indra memang baik kepada ku, terutama Tante Shella. Tidak seperti Ibunya Mas Farhat yang sama sekali tidak menyayangi ku.


Percakapan ku dengan Bik Nursih berhenti sampai disini saja. Di perpanjang pun dia akan tetap mendukung Indra Lesmana.


*


*


Esok paginya, seperti biasa. Indra Lesmana datang menjemput ku ke rumah. Ia akan mengantarkan aku ke kantor, barulah dia akan berangkat ke kantor nya sendiri.


Padahal jarak dari kantor ku ke kantor nya sangat lah jauh. Ditambah lagi dengan kemacetan lalu lintas. Untung dia Bos di sana .


" Bang..." aku ingin membicarakan sesuatu yang telah ku pikirkan semalaman.


" Hem?" ia hanya menjawab dengan dengungan saja.


" Kalau kita terus-terusan begini, pasti akan menimbulkan fitnah"


Ia refleks langsung menoleh.


" Apa maksud mu?" wajahnya sedikit terlihat mengeras.


" Yah, kita kan bukan muhrim Bang" jawabku.


Ia memutar kemudi untuk menepi di bahu jalan.


" Kenapa kamu bicara seperti ini?"


Aku menangkap pancaran mata kekhawatiran.


" Emmmm lebih baik kita halalkan saja hubungan kita Bang"


Sontak wajah yang mengeras berubah semu merah.


" Kau serius?" ia ingin kepastian kembali ucapan ku, aku mengangguk malu.


" Alhamdulillah..." ia meraup wajahnya penuh rasa syukur, dan tiba-tiba saja ia menarik ku lalu Mencium Pipi ku.


Aku tersentak kaget, sampai tubuh ku membeku di tempat.


" Oh maaf, maaf sayang.. Aku refleks " Ucap nya , tapi senyuman di wajahnya menampakkan bahwa ia tidak menyesal melakukan nya. Tapi justru sebaliknya.


Sebulan kemudian, kami melaksanakan ijab Kabul di sebuah masjid agung. Bukan acara besar, hanya akad nikah saja. Yang penting sah, itu sudah lebih dari cukup.


Tasyi juga datang ke acara itu, aku tidak tahu siapa yang memberitahu. Tapi ia cukup sportif memberikan selamat kepada kami berdua .


Dan tak disangka, Mas Farhat juga hadir dengan menggunakan kursi roda yang ditemani oleh Dino.


Dia mengucapkan selamat atas pernikahan ku dengan Indra. Tak lupa ia meminta maaf kepada ku berulangkali. Dan mengungkapkan rasa penyesalan nya.


Aku katakan jika aku sudah memaafkan semua nya. Tanpa terkecuali.


Saat ini, dan disini, di tempat suci ini. Aku dan Indra sudah menjadi pasangan suami istri yang semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Amiin.


TAMAT