Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Kembali


Aku menatap Shin dengan wajah cemberut. Aku benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk hal-hal seperti ini karena aku sadar bahwa aku tidak cukup pintar. Untuk melawan orang-orang licik seperti ini, aku mungkin akan kalah telak hanya dalam satu ronde!


"Aku akan mengurus nya" Shin berkata lagi, berusaha meyakinkan Nana.


Akhirnya Nana mengangguk pelan, menyerah.


Shin mulai menatap pria di depannya. Pria itu sangat gugup saat melihat Shin menjadikannya target. Dia merasa tatapan Shin membuat nya tenggelam.


"Aku sama sekali tidak tahu apapun. Gadis itu mungkin sudah gila karena menghilang seharian" kata pria itu dengan wajah pucat.


"Aku tidak menanyakan hal itu" kata Shin kemudian. "Kenapa kau begitu panik?"


Pria itu langsung membeku. "Karena kalian...me...menuduhku...tentu saja aku panik!"


Shin mengernyit kan keningnya. Awalnya dia sedikit mempercayai pria ini dan mengira bahwa Nana berhalusinasi dan butuh istirahat. Tapi saat melihat ekspresi pria itu sekarang. Shin merasa sikapnya sangat janggal dan dia semakin mempercayai Nana.


"Aku perlu menyelidiki mu lebih lanjut. Saat kita kembali ke kota. Kau ikut aku" kata Shin dingin. Sangat sulit untuk membuat seseorang mengaku di tempat ini. Tapi dia bisa mengintrogasi nya kalau mereka kembali. Sejak pria itu bersikap sangat mencurigakan.


Hanya seperti itu? Aku menatap Shin tidak senang. Dia sama sekali tidak membantuku! Dia hanya membiarkan pelaku itu melarikan diri kalau seperti ini.


"Percaya padaku" kata Shin sungguh-sungguh saat melihat tatapan mengancamku.


Aku bingung sekarang. Aku mempercayai Shin. "Tapi aku takut orang itu tidak dihukum secara setimpal." kataku ragu.


"Aku tidak akan melakukannya" Shin mengusap kepalaku tiba-tiba. "Aku akan memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal" Shin menatap pria itu dengan serius.


Pria itu bergetar ketakutan. Tapi dia masih membuka mulutnya dengan suara bergetar "Shin...itu sama sekali tidak adil. Aku tidak bersalah..." dia masih membela dirinya dengan ekspresi yang sama sekali tidak mendukung.


Shin tidak ingin mendengar perkataannya lagi. Dia langsung membawa Nana keluar dari kamarnya. Lalu dia memerintahkan kepala pelayan untuk menjaga pria itu. Dia takut dia akan melarikan diri saat mereka kembali besok.


Saat Shin mengantarku keluar, aku masih sesekali melihat ke belakang. Aku cemas. Bagaimana aku bisa membiarkan seseorang yang ingin membunuhku tidak mendapatkan hukuman apapun? Bukankah itu tidak adil.


"Kembali ke kamarmu. Istirahat lah" kata Shin.


"Jangan cemas. Aku akan memberimu kabar bagus besok. Tenang saja" Shin menghela napas dan berkata lagi.


Melihat wajah Shin yang lelah, aku sedikit melunak. Dia benar-benar terlihat kelelahan. Aku tidak mau menjadi bebannya lagi karena terlalu keras kepala. Jadi aku menyerah memikirkan pelaku itu. Aku yakin Shin akan berlaku adil untuk itu.


"Baiklah, aku akan kembali" kataku kemudian. Aku menatap Shin dan Darwin. "Kalian juga harus berisitirahat. Jangan terlalu memaksakan diri"


Kedua pria itu mengangguk.


Aku pun kembali ke kamarku. Walaupun sebelumnya aku tertidur saat di hutan, entah kenapa saat melihat kasur aku langsung merasa kelelahan. Aku pun tertidur.


Aku tidak keluar sampai makan malam tiba. Aku mengira Shin akan mengadakan pesta barbeque lagi, tapi ternyata tidak. Shin menyuruh setiap orang untuk tetap di kamar mereka masing-masing tanpa berkeliaran. Jadi para pelayan secara otomatis mengantarkan makan malam itu sendiri ke dalam kamar.


Makanannya enak tapi terasa hambar. Apa karena aku memakannya sendirian dan tidak seseru saat makan bersama yang lain?


Tanpa sadar hari berlalu dalam sekejap mata. Keesokan harinya kami kembali pagi-pagi sekali. Aku mengira kami akan kembali dengan kapal. Tapi ternyata kami kembali dengan helikopter.


Saat itu, tiga helikopter asing tiba di depan Vila. Shin yang memanggil mereka semua. Satu helikopter bisa memuat tiga sampai empat orang. Aku satu helikopter dengan Darwin. Sementara Shin di helikopter lainnya bersama dengan si pelaku.


Saat melihat para pelayan mengawasi si pelaku itu, aku jujur merasa kagum bahwa dia tidak melarikan diri. Apa dia seyakin itu bahwa dia pasti selamat? Apa karena Lista mendukung nya? Aku sama sekali tidak bisa melepas kekhawatiran ku walaupun aku percaya pada Shin.


Tidak seperti sebelumnya, kami harus menempuh perjalanan satu hari untuk sampai ke pulau ini. Kami kembali sangat cepat. Hanya satu jam. Pulau ini memang dekat. Karena kami menggunakan kapal, waktu tempuhnya menjadi lebih lama.


Saat kami sampai di kota, Shin sudah menyewa beberapa supir untuk mengantar kami pulang. Sementara dia dan Darwin membawa pelaku itu entah kemana.


Saat aku ingin mengikuti mereka untuk melihat perkembangan kasusnya, Shin langsung menyelaku. "Aku akan memberitahu mu info selanjutnya. Jangan khawatir" Dan pergi dengan cepat bersama Darwin.


Aku tidak senang dengan sikapnya yang seperti itu. Ini dari awal adalah masalah ku karena aku korbannya di sini. Tapi kenapa dia yang terlibat lebih dalam?


Cih! Walaupun aku terus mengomel, Shin juga tidak akan kembali. Jadi aku hanya bisa menurutinya.


***