Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Rencana yang Gagal


"Panggil tiga orang murid itu" kata kepala sekolah.


"Em...tapi pak. Aku yakin mereka sudah pulang ke rumah masing-masing sekarang. Lagipula pak, tidak usah terlalu berlebihan seperti itu. Walaupun mereka menjebak teman sendiri, aku kira mereka hanya bercanda. Dan mereka juga tidak melakukan kesalahan apa pun seperti mencontek" Guru Pengawas itu bersikeras menolak.


"Hmm... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Ada seorang murid yang tidak bersalah, tapi dia terjebak oleh teman sekelasnya karena teman sekelasnya itu iseng dan hanya ingin bermain. Lalu murid itu menerima akibat yang mengerikan, padahal dia tidak bersalah. Lalu suatu hari kesalahan itu terungkap, tapi murid yang tertuduh itu sudah tidak bisa kembali karena sudah terlanjur dihukum. Bagaimana menurutmu?"


tanya kepala sekolah penuh selidik.


"I...itu..."


"Bukankah kau sebagai guru yang mendukung setuju terhadap pembulian di sekolah?" kata Kepala Sekolah curiga.


"Tidak... Tidak pak. Aku tidak akan pernah menjadi guru seperti itu" kata guru pengawas itu panik.


"Baiklah. Panggil anak-anak itu kesini. Kalau pun mereka sudah pulang sekarang, suruh mereka ke ruangan ku besok." kata Kepala Sekolah tegas. "Kau boleh pergi" katanya kemudian.


Guru pengawas itu menundukkan kepalanya saat berjalan menuju pintu keluar. Kali ini dia benar-benar kecewa dan cemas. jantungnya berdetak sangat kencang karena khawatir.


Dia segera bergegas keluar sekolah dan menuju mobil pribadinya.


Saat dia sudah duduk di kursi mobilnya, dia langsung memegang ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo" katanya saat seseorang di balik telpon sudah mengangkat panggilan nya. "Kita gagal.... bagaimana sekarang?" dia berkata dengan suara gemetar dan cemas.


"Bodoh! Bagaimana bisa gagal? Apa yang kau lakukan?" bentak suara dari balik telpon itu.


"aku tidak tahu. Tapi kepala sekolah mendapatkan bukti. Tapi kau tidak tahu sumbernya dari mana..."


"Dasar bodoh! Apa gunanya kau menjadi guru!"


"Uuhhh...."


"Lalu apa tindakan mereka sekarang?"


"Kepala sekolah ingin memanggil tiga orang itu. Mungkin dia ingin menghukum mereka. Mereka tidak akan setuju. Mereka akan membawa namamu!" katanya. "Kau harus melakukan sesuatu tentang itu. Kita tidak bisa membiarkan mereka melibatkan kita!"


Suara dari balik telpon itu terhenti. Sepertinya orang itu sedang berpikir.


"Aku akan memikirkan sesuatu. Aku akan berbicara dengan mereka." balas suara itu kemudian dengan nada dingin. "Kalau kau melakukan kesalahan lagi aku akan memastikan kau tidak pernah menduduki jabatan apa pun" ancamnya sebelum menutup telpon dengan suara keras.


Sang guru pengawas berkeringat dingin. Dia membuat kerja sama dengan orang itu karena ingin naik jabatan. Tapi semuanya gagal. Walaupun di dalam hatinya dia merasa kesal dan menggap bocah itu tidak sopan, dia tetap tidak bisa melakukan apa pun.


***


Suasana hati Lista saat ini sedang tidak baik. Dia baru saja menerima telpon bahwa semua rencananya gagal. Dia sudah membuat rencana ini cukup matang. Tapi dia lupa akan sesuatu. Dia lupa siapa pendukung musuhnya! Musuh atau orang yang paling dia tidak sukai mempunyai pendukung yang kuat. Dia benar-benar melupakan itu.


Dia gagal sekarang. Nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak dapat mengubahnya. Sekarang dia hanya harus belajar dari kesalahan. Dia harus memperbaiki diri. Dia harus menyiapkan rencana yang matang dan kuat setelah ini.


Sekarang masalah nya, dia perlu memastikan bahwa gadis-gadis bodoh yang dia gunakan tidak membuka mulut tentang keberadaan nya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


....


"Ini mudah. Aku hanya harus mengancam mereka. Apakah mereka memilih menyerah atau tidak" gumam Lista. Dia berencana menggunakan kekuasaan nya untuk menekan mereka. Menyuruh mereka memilih, harta atau harga diri mereka.


Tapi tentu saja Lista sudah menduga pilihan orang-orang itu. Mereka sangat haus akan harta, tidak mungkin mereka mau kehilangan harta mereka. Ini sangat mudah ditebak.


***


"Nana..." aku mendengar teriakan Rin saat aku menuju gerbang depan sekolah. Gadis itu menghampiri ku dengan mata berkaca-kaca. "Syukurlah kau tidak apa-apa" katanya sambil menangis kecil.


Aku kaget saat Rin memelukku sambil menangis. Dulunya aku menganggap dia hanya tokoh utama dalam komik yang kubaca. Tapi saat ini aku tahu dia sangat berharga untukku, sahabat yang sangat berharga. Dia benar-benar sama seperti di komik. Seorang malaikat tanpa sayap


"Aku tidak apa-apa, jangan menangis oke" kataku sambil menepuk kepalanya


Rin melepaskan pelukannya. Wajahnya memerah "aku....aku tidak menangis..." dia berbohong dengan pipi merona.


Akh!


Serangan apa ini?!


Jantung ku terasa sakit! Sangat, sangat imuttt! Sekarang aku tahu kenapa para pria tampan itu menyukainya!


Ternyata tidak hanya Rin yang menungguku di depan gerbang. Saat aku menoleh, aku melihat Darwin dan Shin juga


"Kelinci kecil, kau tidak apa-apa?" tanya Darwin. "Apa guru bodoh itu menghukummu?"


"Aku tidak apa-apa. Sekarang masalahnya sudah selesai" aku menjawab.


Ha~ "baguslah. Kalau Shin turun tangan, semuanya pasti beres hahaha" kata Darwin sambil tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba Shin menatap tajam sahabatnya itu dengan tatapan membunuh. "Jangan bicara omong kosong!" katanya.


Setelah melihat sikap Shin dan Darwin, aku sadar tentang sesuatu yang terjadi. "Apa kau membantuku?" tanyaku pada Shin blak-blakan.


Shin membuang wajahnya ke samping. Tapi kalau kita melihat benar-benar, saat ini wajah Shin memerah. "Aku tidak melakukan banyak hal" katanya sedikit gugup tapi nadanya sangat ketus.


Aku tersenyum saat melihat sikap malu-malu Shin. Aku benar-benar senang. "Terima kasih Shin" kataku sungguh-sungguh.


Pantas saja kasusku terselesaikan secepat ini. Ternyata gara-gara Shin.


Blush! Wajah Shin semakin memerah. "Bukan apa-apa..." katanya dengan suara yang semakin mengecil.


Darwin melihat sikap aneh sahabat nya. Senyum jahil mulai terbentuk di bibirnya.


"Ah~ sahabatku sedang jatuh cinta sekarang"


Buk! Shin langsung memukul sahabatnya itu dengan sikunya.


"Arggh!" Darwin berteriak sambil memegang perutnya. Sebenarnya tidak terlalu sakit tapi dia melebihkan teriakannya. "Kenapa kau memukulku? Kau benar-benar kejam! Apa kau sahabatku?!"


Cih!


Shin menatap Darwin dengan dingin. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan Darwin.


"Eh? Shin? Kau sudah mau pulang? Tunggu akuu!" kata Darwin sambil mengejar langkah Shin.


Aku melihat interaksi Shin dan Darwin. Tanpa sadar aku terpesona. Aku tersenyum sambil mengamati mereka sampai mereka masuk ke mobil masing-masing.


"Rin, ayo kita pulang" kataku sambil merangkul Rin menuju parkiran sepeda.


Suasana hatiku benar-benar baik saat ini. Aku sangat senang.