Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Bimbang


Setelah Shin mengakui perasaannya yang sebenarnya, dia merasa bahwa hal itu tidak terlalu buruk. Awalnya dia mengira mengatakan hal yang sebenarnya itu sangat memalukan. Sehingga dia harus menyembunyikan wajahnya seumur hidupnya. Tapi ternyata hal itu tidak benar. Dia malah merasa lega saat dia menyatakan perasaannya.


"Baiklah..." aku menjawab gugup.


Harusnya aku senang dengan pernyataan Shin bukan? Tapi kenapa aku merasa gugup? Bahkan aku tidak berani menatap wajahnya. Apa yang salah denganku? Semua ini sama sekali tidak benar! Aku harus kembali ke diriku yang semula.


"Jadi, mulai sekarang aku boleh mengumpulkan foto mu?" tanyaku antusias.


Shin menatapku sejenak lalu mengangguk pelan.


"Kalau begitu kita foto berdua oke" aku berjingkrak-jingkrak senang sambil menarik lengan Shin. Saat kami berhadapan, tanpa sadar jantungku berdetak lagi. Tapi aku menahannya dan mengambil beberapa foto selca dengan nya.


Tapi saat kulihat hasilnya, itu tidak sesuai dengan ekspektasi ku. Walaupun aku berusaha tersenyum dan melakukan berbagai gaya yang lucu, gerakan Shin sama sekali tidak berubah. Wajahnya bahkan tidak menghadap kamera, tapi malah melihatku.


"Shin, hadap kamera oke. Aku ingin mengambil beberapa foto kenang-kenangan" kataku cemberut.


Tapi Shin masih menatapku sehingga membuat ku agak gugup.


"Ada apa dengan mu?" aku bertanya bingung. Refleks aku melepaskan pegangan ku pada lengannya.


Tapi Shin tiba-tiba menarik tanganku. Wajah kami berdekatan. Shin? Tidak mungkin kan? Pikiranku mulai berkelana lagi! Tapi kali ini aku tidak salah lagi! Berciuman?


Shin mendekat kan wajahnya. Aku dengan gugup menutup mataku. Ini akan menjadi ciuman pertamaku. Aku sangat gugup sekaligus antusias.


Tapi...


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Darwin tiba-tiba muncul entah darimana.


Nana dan Shin tersentak dan mendorong satu sama lain, refleks.


Darwin mengangkat alisnya. "Apa kalian sedang berkencan sekarang?" katanya mengejek.


Darwin berharap dua orang itu menyangkal. Tapi dugannya salah. Nana dan Shin tidak menyangkal pernyataan nya. Shin menatapnya dengan tajam. Lalu Nana menatapnya dengan wajah kesal. Entah kenapa Darwin merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.


"Aku tidak bermaksud menganggu kalian" katanya sambil menggaruk kepalanya gugup. "Tapi sebentar lagi makan malam. Dan Shin, kepala pelayan memanggil mu"


Shin menatap Darwin dengan ekspresi datarnya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Sampai akhirnya dia menghela napas.


"Ayo masuk" dia berkata sambil menarik tangan Nana. Shin berpikir tidak mungkin dia meninggalkan gadis itu berdua dengan Darwin di tempat ini.


Saat Shin melintas di samping Darwin, untuk kembali ke villa, dia sempat berbisik di telinga Darwin. "Kau sengaja bukan? Aku melihatmu dari tadi di balik pohon..."


Darwin tersentak. Matanya langsung melotot ngeri. Dia ingin menyatakan pembelaan diri nya tapi Shin sudah masuk ke dalam dengan cepat. Jadi Darwin hanya bisa menyerah.


Itu memang benar bahwa Darwin sedari tadi mengintip pasangan itu. Dia sudah ada disana lima belas menit yang lalu. Jadi dia melihat dengan jelas interaksi mereka.


Darwin bisa saja menghentikan mereka lebih awal dan menyuruh mereka untuk masuk ke villa. Tadi rasa penasaran menyuruhnya untuk menunggu. Sampai dia melihat bahea kedua orang itu akan melakukan hal-hal gila.


Itu tidak gila sebenarnya. Hal umum yang dilakukan oleh pasangan kekasih, bahkan mereka sudah bertunangan. Tapi Darwin merasa aneh dan dia merasa harus menghentikan mereka sebelum benar-benar terlambat. Darwin sendiri tidak yakin dengan perasaan nya. Sikap yang selama ini dilakukannya hanya untuk memancing Shin dan mengganggu pria itu.


Tapi dia sadar bahwa dia memiliki sedikit perasaan untuk tunangan sahabatnya itu. Sehingga dia berusaha menekan perasaannya sendiri agar tidak berlebihan. Tapi suatu saat itu akan meledak tiba-tiba. Seperti kejadian saat ini. Atau kejadian saat pesta BBQ itu.


***


Shin menarikku ke dalam. Aku mengernyit bingung dengan sikapnya. Apa dia ingin mengajakku juga saat dia menyelesaikan pekerjaannya? Itu tidak mungkin kan...


Tapi Shin melepaskan pegangannya saat kami sampai di ruang tamu.


"Kembali ke kamarmu"


"Eh?"


"Kembali ke kamarmu. istirahatlah. Aku masih memiliki urusan yang harus aku selesaikan. Saat jam makan malam, aku akan mengantar makananmu ke kamar" kata Shin dingin.


"Aku sama sekali tidak terluka. Aku akan ikut makan malam" kataku cemberut. Luka ini tidak parah. Kenapa dia memperlakukan ku seperti pasien dengan penyakit berat.


Shin menundukkan kepalanya dan menatap nya lekat. "Menurutlah. Jangan buat masalah. Kembali ke kamarmu untuk berisitirahat atau aku tidak akan pernah mengajak mu ke tempat seperti ini lagi" dia mengancam sambil menunjukkan senyum merekah di bibirnya.


"Uh...kau!" Aku ingin mengoceh, tapi aku langsung berhenti. Entah kenapa saat dia menatapku, aku menjadi sangat gugup. Jadi aku hanya bisa melotot padanya.


Shin tersenyum. Dia meluruskan punggungnya dan mengacak-acak rambut Nana. "Kembali ke kamarmu. Jadilah gadis yang penurut atau aku tidak akan memberi mu daging malam ini"


"Oke" aku dengan cepat mengangguk setuju.


Shin sedikit kagum melihat perubahan cepat Nana kalau hal itu berhubungan dengan makanan. Dia akan menjadikan ini referensi untuk mengancam dan membujuk gadis itu di masa depan.


Shin pun pergi untuk melakukan pekerjaan dan bisnisnya. Sementara aku kembali ke kamar.


Aku sekali lagi harus rebahan untuk menghabiskan waktu. Masih harus menunggu dua jam lagi. Aku bingung bagaimana menghadapi rasa bosan ini. Ponselku tidak memiliki sinyal sehingga aku tidak bisa menggunakan internet. Aku juga sudah bosan dengan game offline yang ada di ponselku. Jadi aku hanya bisa menempatkan diriku di atas kasur sambil melihat Langit-langit kamar.


Apa aku akan melamun seperti itu selama dua jam? Aku kira itu tidak mungkin. Rasa kantuk pasti akan datang setelah nya, lalu aku akan tertidur pulas.


"Shin....ya" aku bergumam sendiri sambil membayangkan Shin.


Aku mengenal Shin dengan baik lebih dulu sebelum pria itu mengenalku karena aku adalah pembaca. Aku tahu sifat-sifat umum milik Shin, terutama sifat dingin dan menjengkelkan nya itu.


Tapi aku juga tahu dia benar-benar akan menjadi pria yang lembut di depan orang yang dia sukai. Dia tidak bersikap lembut padaku. Dia bersikap aneh. Kadang dia akan bersikao dingin. Kadang dia akan bersikap misterius seperti hari ini. Sehingga aku sulit memutuskan apakah dia benar-benar menyukaiku atau tidak.


Pernyataannya hari ini memang sedikit membuat ku terharu dan berharap bahwa dia mempunyai perasaan padaku. Dia bilang dia tidak membenci ku dan dia menerima pertunangan ini dengan senang hati. Dia juga cemburu padaku kalau aku melihat pria lain.


Shin juga bersikap seperti ini di dalam komik itu. Karena dia bimbang dengan perasaannya terhadap tokoh utama. Tapi tokoh utama adalah tokoh yang lemah, sehingga orang-orang sering melukainya. Jadi Shin harus menunjukkan sifatnya yang sebenarnya untuk melindungi tokoh utama itu. Sehingga dia benar-benar menjadi pria yang overprotektif dan seorang budak cinta.


Aku yakin Shin memiliki perasaan padaku. Walaupun itu masih suka dan bukan cinta. Jadi aku membuat keputusan untuk diriku sendiri sekarang. Apa aku harus menjadi gadis yang lemah supaya dia bisa melindungiku?


Tidak, tidak. Aku tidak mau. Aku bukan wanita dengan mental kuat seperti Rin. Kalau hanya omongan aku bisa menahannya. Tapi pembulian secara fisik itu sulit untuk dikatakan. Aku tidak akan bisa bertahan dengan pembulian secara fisik. Mungkin aku akan melawan para pembuli itu tanpa sadar, seperti yang kulakukan di masa lalu.


Aku hanya perlu menjadi diri sendiri sepertinya. Sangat susah menjadi orang lain. Terutama gadis yang polos dan lemah. Itu membuat ku tidak nyaman. Aku bukan gadis polos. tapi aku sedikit lemah walaupun tidak lemah-lemah amat.


Nana terus melamun dalam pikirannya sendiri. Tanpa sadar gadis itu melamun selama setengah jam dan jatuh tertidur di tempat.