Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Gaun Pertunangan (2)


Kemudian dua orang staff wanita dengan pakaian hitam mulai mengantarkan dua kotak hitam yang terlihat sangat elegan. Masing-masing dari mereka memegang satu kotak. Lalu mereka mulai meletakkan kotak itu di atas meja, di hadapan Nana dan Shin.


Nana linglung. Dia menatap Shin sambil berkedip beberapa kali untuk menunggu aba-aba dari Shin, untuk membuka kotak mewah itu.


Shin melihat bahwa gadis di sampingnya sangat gugup, jadi dia berkata "Kau bisa mencoba gaunnya di ruang ganti"


"Kau tidak akan mencobanya juga ?" tanya Nana.


"Aku sudah melihat modelnya dari katalog" jawab Shin acuh. Baginya semua pakaian formal itu sama. Dia sama sekali tidak ingin mencobanya karena itu melelahkan. Dia hanya ingin membeli itu langsung dan pulang.


Ekpresi Nana langsung muram. Dia menundukkan kepalanya sedih setelah mendengar jawaban acuh Shin. Padahal dia ingin melihat Shin mencoba pakaian pertunangan yang baru saja mereka beli.


Shin menyadari perubahan ekpresi Nana. Dia berdehem dan berkata "Kita bisa mencobanya kalau kau mau" katanya.


Cahaya di mata Nana kembali. Dia menatap Shin dengan mata berbinar "aku ingin".


Staff wanita itu mulai menunjukkan ruang ganti kepada mereka. Ruang ganti pria berada di sebelah kanan dan ruang ganti wanita berada di sebelah kiri.


Nana refleks berdiri dan mengikuti Shin ke ruang ganti di sebelah kanan. Para staff toko melihatnya dengan tatapan kaget. Shin juga menyadari hal itu dan terdiam.


"...." Shin berhenti.


Nana ikut berhenti dan menatapnya polos. Hanya ada pikiran sederhana di otaknya. Dia ingin melihat Shin ganti baju! Lalu tanpa sadar dia tersenyum aneh dan membuat mulut Shin berkedut.


"Ini ruang ganti pria" akhirnya Shin membuka mulutnya.


Nana ingin membalas, tapi kemudian dia sadar bahwa semua orang di ruangan itu menatapnya dengan tatapan aneh.


Nana menundukkan kepalanya, wajahnya memerah malu. "Aku...aku akan ke sana" katanya gugup. Dia dengan cepat berbalik, menuju ke ruang ganti di sisi yang lainnya.


Lalu dia masuk ke dalam ruang ganti dan menutup pintunya dengan kasar.


"Tapi aku masih ingin melihat Shin ganti baju..." keluhnya. Tanpa sadar dia memikirkan Shin membuka kancing bajunya satu persatu. Dia terlena dalam lamunan itu tapi dia langsung tersadar.


Nana menepuk pipinya sebanyak dua kali untuk mengembalikan kewarasannya. Lalu dia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk membuyarkan imajinasi liarnya.


Setelah itu, dia membuka kotak mewah itu. Dia melihat gaun yang terlihat rapi di dalamnya dengan kagum. Gaun itu benar-benar terlihat cantik dan mahal. Dia mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu mulai melebarkan gaun itu di tubuhnya. Cermin didepannya memantulkan seluruh figur tubuhnya. Dia bergerak ke kiri dan kanan, bergaya, untuk menganggumi gaun mahal itu.


Nana memutuskan untuk mencobanya. Dia melepaskan pakaian lamanya dan memasang gaun baru itu dengan hati-hati di tubuhnya.


Gaun itu secara ajaib sangat pas dengan bentuk tubuhnya. Dia merasa takjub karena kesempurnaannya. Dia bahkan mulai menganggumi dirinya sendiri, karena penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.


Nana keluar dengan hati-hati. Dia takut menginjak ujung gaun itu dengan sepatunya. Saat dia keluar, Shin juga sudah selesai ganti baju. Nana langsung terpana saat melihat Shin. Pasalnya, dia benar-benar tampan.


Shin juga melihat Nana. Matanya melebar dan bersinar aneh. Tapi tidak ada yang menyadari hal ini karena ekspresinya yang datar. Dia bahkan membeku sejenak karena terpukau dengan penampilan Nana. Tapi dia mengatasi perasaannya dan berusaha bersikap normal.


Sementara Nana masih terpukau dengan penampilan Shin. Dia bahkan tidak sadar bahwa wajahnya terlihat sangat aneh, tatapan mesum dengan mulut sedikit terbuka.


Shin merasa aneh dengan tatapan Nana. "Apa yang kau pikirkan?" dia langsung menjitak kepala gadis itu.


Nana berteriak kecil sambil memegang keningnya. Dia kembali tersadar dari lamunan bodohnya. "Kau sangat tampan" tembak Nana langsung.


Shin memutar kepalanya ke samping untuk menyembunyikan wajahnya. Lalu dia batuk kecil dan berkata "kau tidak buruk".


Shin bersusah payah mengatur wajah tanpa ekpresinya. Setelah dia berhasil, dia kembali memutar kepalanya dan menatap Nana dengan tatapan dingin.


Nana senang Shin memujinya. Tapi Shin memasang ekspresi datar, tidak antusias. Sehingga Nana bingung, dia harus merasa bahagia atau sedih.


Nana tidak terlalu memikirkan hal itu lebih jauh. Dia melihat dirinya di cermin raksasa yang dipajang di ruangan itu. Dia menyukai penampilannya. Lalu dia menarik lengan Shin untuk berdiri di sampingnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto mereka berdua dari pantulan cermin.


Shin tidak protes. Dia hanya menuruti apa yang Nana mau dengan ekspresi datar, seolah-olah dia tidak tertarik. Padahal dia menatap Nana terus menerus dan matanya tidak bisa lepas darinya. Bahkan dia merasa jantungnya berdetak saat dia melihat gadis itu tersenyum.