Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Surfing


Shin sudah selesai dengan semua urusannya. Makan malam juga sudah disiapkan di atas meja makan.


Shin tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi inisiatif untuk memanggil Nana untuk makan malam muncul dalam pikirannya. Dan dia sama sekali tidak menolak pikirannya.


Dengan percaya diri dia pergi ke kamar Nana untuk memberitahu gadis itu bahwa makan malam sudah siap. Padahal sebelumnya Shin berkata pada Nana bahwa pelayan akan mengantarkan makan malam ke kamar nya. Tapi mungkin Shin melupakan sesuatu yang dia katakan sendiri.


Shin membuka pintu kamar, suasana yang sepi menyambut nya. Dalam sekejap dia merasa adegan ini sangat familiar. Ternyata benar, Nana sudah tertidur.


"..."


Ekspresi Shin sangat datar saat melihat posisi tidur Nana. Posisi berantakan inilah yang hampir membunuh nya malam itu. Wajahnya berkedut saat mengingat kembali tendangan kaki dan pukulan tangan yang diterimanya malam itu.


Shin dengan hati-hati memindahkan gadis itu ke posisi yang benar. Nana benar-benar tertidur pulas karena kelelahan, mungkin. Karena dia sama sekali tidak merespon saat tubuhnya dipindahkan oleh Shin.


Setelah Nana tidur di posisi yang benar, Shin menyelimutinya. Lalu dia mencium keningnya sebelum dengan cepat keluar dari kamar.


Tak!


Shin menutup pintu dengan cepat. Lalu dia bersandar di daun pintu dengan wajah memerah. Dia kembali mengingat tindakan yang dilakukannya tanpa sadar. Dia mencium kening gadis itu lagi! Kenapa?!


"Kenapa aku melakukannya..." kata Shin lirih sambil menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.


Shin merasa bahwa dia sangat bodoh sekarang karena dia sama sekali tidak bisa mengendalikan perilakunya. Kalau dia melakukan hal seperti ini di depan publik, semuanya akan memalukan. Dia merasa lega hanya dia yang tahu tindakan memalukan yang dilakukannya. Shin menguatkan tekad untuk mengontrol perilakunya di masa depan.


***


Keesokan harinya, mereka semua memiliki kegiatan di pantai lagi. Kali ini mereka akan mencoba melakukan selancar ombak alias surfing bersama.


Tapi Nana tidak diperbolehkan melakukan hal itu karena dia terluka. Jadi dia hanya bisa menunggu di bibir pantai dengan sedih saay orang lainnya bermain ombak dengan papan selancar mereka dan tertawa.


Bukan hanya Nana, Lista juga tidak diizinkan untuk bermain walaupun kakinya sudah sembuh. Jadi kedua gadis itu hanya bisa bermain air di pesisir pantai.


Semua orang memulai surfing mereka. Para lelaki itu memakai pakaian renang. Mataku berbinar saat melihatnya. Sempurna! Ini sempurna!


Aku langsung mengambil beberapa foto dengan kameraku lagi.


Dua tokoh utama, Shin dan Darwin muncul terakhir. Seperti yang diharapkan dari tokoh utama. Saat mereka muncul, mereka menjadi pusat perhatian.


Aku juga menggunakan kesempatan itu dengan baik untuk mengambil foto-foto mereka.


KREK, KREK


Tapi...aku mendengar suara dari kamera lain saat aku mengambil gambar. Aku pun menoleh ke samping dan melihat Lista juga memegang kamera.


Aku melonggo tak percaya. Di mana orang itu menyembunyikan kameranya? Dan sejak kapan dia juga suka mengambil foto?


Tidak mungkin dia mengikuti gayaku kan...?


Tidak, dia tidak suka mengambil foto! Tapi dia mengambil foto Shin! Dasar wanita ular itu ,ck! Walaupun aku kesal, tetap saja aku tidak bisa melakukan apapun padanya.


Lista sadar Nana menatapnya. Dan dia pun menoleh. Dua orang itu akhirnya bertatapan.


"Humph!" Tapi keduanya langsung mendengus dan membuang pandangan mereka secara bersamaan.


Tidak masalah untuk mengajar orang lain berselancar. Tapi yang membuat ku kesal, mereka hanya mengajari wanita! Karena para pria sudah terbiasa melakukan olahraga ini sehingga mereka hanya harus mengajari wanita.


Aku melihat mereka berdua kelilingi gadis dengan bikini sambil terus tertawa di atas air. Para teman Lista itu benar-benar memanfaatkan kesempatan mereka dengan sangat baik!


Aku sangat iri. Andai saja aku tidak sakit pasti aku juga bisa menikmati fasilitas seperti itu juga. Aku benar-benar tidak beruntung. Hanya bisa memendam kepahitan ini dalam-dalam.


Bahkan aku juga mempunyai pikiran yang buruk saking iri nya. Aku berharap para wanita itu menghilang terbawa ombak! Cih! Walaupun aku tahu pikiran seperti itu sama sekali tidak baik.


Suasana hati Lista juga tidak lebih baik dari Nana. Dia menatap sinis kearah orang-orang yang sudah dibawanya kemari. Lista tidak masalah kalau mereka menyentuh Darwin dengan bebas. Tapi Masalahnya mereka juga menyentuh Shin! Seakan-akan mereka memanfaatkan kesempatan ini.


"Dasar jalang tidak tahu diri!" Lista mengumpat.


Setelah mengajari semua orang, kedua pria itu pun menikmati waktu mereka untuk bermain.


Walaupun aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Tetap saja pemandangan mereka berselancar di atas ombak itu sangat menakjubkan! Aku mengambil beberapa foto dan akan menyimpan semua ini sebagai kenang-kenangan nantinya.


Aku mengambil banyak sekali foto bagus. Terutama foto Shin. Aku mulai mempertimbangkan tawaran Shin untuk mengganti semua foto yang kusimpan dengan foto dirinya. Itu bukan hal yang buruk lagipula.


Setelah puas mengambil foto, aku memutuskan untuk bermain di pesisir pantai. Aku tidak bisa berenang di sini. Jadi aku hanya memainkan ombak di pesisir dengan kakiku. Lalu sesekali mengaduk pasir dan membuat gambar random. Aku ingin menghabiskan waktuku agar tidak bosan.


Beberapa jam berlalu, semua orang sudah puas bermain surfing. Jadi mereka kembali ke daratan. Shin juga kembali dengan tubuh basah kuyup karena air laut.


Jadi aku segera pergi ke salah satu gazebo. Sebelumnya aku membawa tas tote untuk menyimpan kamera dan handuk kecil. Rencananya aku akan memberikan handuk itu pada Shin.


Tapi saat aku kembali, Lista sudah bergerak lebih dulu. Gadis itu memberikan handuk kecil nya pada Shin.


"Shin, keringkan dirimu dulu" kata Lista lembut sambil mengelap rambut Shin


Aku melihat nya dengan wajah suram. Hei, Tentu saja aku tidak senang dengan hal itu!


Aku pun terbakar api cemburu. Dengan wajah cemberut aku menghampirinya mereka. Lalu aku dengan cepat mendorong Lista dengan bahuku dan mengambil tempat nya. Saat itu aku merasakan sedikit kemenangan spesial.


"Shin handuk!" aku menyodorkan handukku pada Shin. "Biarkan aku mengelap tubuhmu!" kataku bersemangat sambil melihat dadanya. Aku hampir mimisan.


Lista yang terdorong ke samping membuat wajah jelek. Lalu dia melihat Nana dengan tatapan jijik.


Nana tidak mempedulikan bahwa Lista memberinya tatapan jijik. Dia malah mengolok-olok nya dengan mengerjapkan matanya. Seakan mengatakan 'kau kalah!'


Shin merespon dengan mengangguk pelan. Aku mematung. Aku tidak mengira dia akan setuju sehingga aku cukup terkejut.


Shin juga merasa dia tidak perlu lagi menggunakan Lista untuk membuat Nana cemburu. Karena itu dia mengabaikannya.


Tapi ini hal yang bagus. Aku pun mengambil kesempatan ini untuk mengelap seluruh tubuhnya dengan mulut sedikit berliur. Aku tidak menganggap Shin sebagai makanan oke. Tapi ini pertama kalinya aku menyentuh otot perut dan lengan pria. Sehingga membuatku sedikit berdebar tidak karuan.


Tanpa Nana ketahui, Shin sedikit tidak bisa mengontrol dirinya sekarang saat disentuh. Wajahnya memerah, tapi dia berusaha menahannya.


Lista melihat semuanya dari samping. Wajahnya membiru karena menahan rasa marah. Tangannya bergetar dan dia melempar kan handuk kecil itu ke tanah. Lalu menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan tempat itu sambil menggertakan gigi.


Lalu Darwin melihat semuanya dari kejauhan dengan mata melankolis. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.