
Shin menyeretku. Saat kami keluar toko, dia mengambil sepedanya.
Ehhh?? Aku tidak tahu orang ini punya sepeda? Bukannya dia begitu membenci sepeda? Kenapa dia memakainya untuk pergi ke toko? Pantas saja aku tidak melihat mobil dan supir botak itu!
"Naik" perintah Shin dengan aura mendominasi.
"Kita mau kemana? Aku sama sekali tidak melihat sopir dan mobilmu, kau kemari sendiri?" tanyaku sambil naik ke kursi belakang.
"Kau akan tahu setelah kita sampai." jawabnya singkat dan mulai mengayuh sepedanya.
Akhirnya langit mulai gelap. Ini sudah sore menjelang malam. Kami menemukan sebuah bangku yang dihiasi dengan lampu di tepi jalan. Kami berhenti. Shin meletakkan sepedanya dan menyuruhku duduk.
"Ada apa?" tanyaku lagi. Aku benar-benar penasaran kenapa orang ini membawaku ke tempat ini. Tempat ini sama sekali bukan tempat penting. Aku tahu tidak ada event penting setelah ini. Dan dengan segera aku kehilangan minat dan ingin cepat pulang.
"....." Shin tidak menjawab Nana. Dia merogoh kantong belanjanya dan mengeluarkan keripik kentang. SREKK! dia membuka kantongnya dan menyodorkan di depan Nana. "Mau?"
"...." aku melonggo bingung. Tidak mungkin kan dia membawaku ke tempat ini hanya karena ingin makan keripik kentang!!!
Tapi tanganku tetap bergerak mengambil keripik, lalu mengunyahnya. "Jadi ada apa??" tanyaku cemberut. "Aku benar-benar lelah. Aku ingin pulang, kau tahu..."
"Kau benar-benar mengikuti orang itu?" tanya Shin setelah dia mengigit keripiknya.
Orang itu? Maksudnya Feno?
"Iya." jawabku singkat. "Aku minta satu lagi"
Shin mendekatkan keripiknya dan aku mengambilnya dengan cepat.
"Tapi kau sudah tahu alasannya bukan? orang itu selalu bersama Rin, aku kira mereka punya hubungan" kataku lagi.
Shin menatap keripik di tangannya. Dia mengernyitkan keningnya. "Kalian saling kenal? Bagaimana bisa?" tanyanya dengan nada tidak senang.
Aku melonggo sambil menatap ekspresi Shin. Pertanyaan random apa ini? Kenapa dia menanyakan hal tidak penting ini? Dilihat dari wajahnya yang tidak senang, jangan-jangan.....
"Apa kau cemburuu?" tanyaku langsung dengan nada tidak tahu malu. Yah, kau tahu aku memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi. Dan aku tidak bisa mengontrolnya. Tapi itu belum sampai di kategori narsis.
Shin langsung menundukkan kepalanya. Aku tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi aku bisa melihat telinganya memerah! Ah~ dia benar-benar malu.
'Apa pria ini benar-benar cemburu karena aku dekat dengan pria lain? Ah~ Event romantis yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Apalagi tokohnya adalah Shin. Aku benar-benar beruntung~' pikirku percaya diri.
Shin akhirnya menatapku. "Aku...." dia bergumam ragu.
Dia sama sekali tidak menyangkal perkataanku! Dia benar-benar cemburu! Ayolah tokoh utama, kau pasti tertarik padaku kan~ Ayolah mengaku~
"Kau benar-benar cemburu?" tanyaku sekali lagi dengan mata berbinar.
Blush! Pipi Shin memerah. Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas.
Kalau aku ingat-ingat, biasanya di cerita-cerita, bukankah biasanya ada event ciuman. 'Apa kami benar-benar akan berciuman?' pikirku tanpa sadar menyodorkan mulutku dan memejamkan mataku.
Saat aku membuka mata, aku melihat Shin menatapku dengan wajah Syok.
"Apa yang kau pikirkan?" kata Shin jijik. "Kenapa kau memejamkan mata sambil menyodorkan bibir seperti itu? Itu benar-benar menjijikan....Apa kau mengkhayalkan hal gila lagi"
DUARR! Pikiranku langsung disambar petir saat aku mendengar perkataannya.
"Bukan....aku...." aku berusaha menjelaskan sambil mendekatkan jarak dudukku.
Tapi Shin langsung berdiri dan menghindar. Aku bisa melihat dia gugup dan mulutnya berkedut. "Jangan mendekat. Kau menakutkan..."
DUAR! Aku seperti disambar petir untuk kedua kalinya. Kali ini aku benar sedih.
"Menjawab pertanyaanmu tadi...mungkin benar aku cemburu...." kata Shin tiba-tiba.
Perkataannya membuat mataku berbinar. Lupakan hal memalukan yang kulakukan tadi. Ternyata dia memang tertarik padaku.
"Aku sedikit cemburu pada orang itu. Dia mempunyai penggemar dari sekolahku. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai penggemar dari sekolahnya. karena kedua sekolah saling bermusuhan. Kau seharusnya tidak menyukainya seperti itu, walaupun dia tampan. Masih banyak pria tampan di sekolah kita. Kau bisa memilih..."
DUAR! Untuk ketiga kalinya aku disambar petir. Kali ini mataku benar-benar seperti ikan mati. Shin cemburu padaku karena aku tertarik pada Feno. Dan karena aku satu sekolah dengannya. Sementara dia sama sekali tidak memiliki penggemar dari sekolah Feno. Alasan tidak masuk akal apa itu??
Kali ini aku benar-benar putus asa. Aku terlalu berlebihan. Event yang kuinginkan tidak mungkin terjadi. Aku terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin tokoh utama menyukaiku, aku tahu itu...
Tapi tidak apa-apa! Aku sudah memprediksi hal ini, semangat! Aku menyemangati diriku dan wajah sedihku langsung hilang. Lagipula tujuanku bukan tokoh utama. Aku masih mencari pria tampan lain untuk didekati. Jadi aku masih punya kesempatan untuk mempunyai event bahagia.
Haa~ aku menghela napas. "Kau bisa tenang, aku menyukai pria tampan" kataku santai sambil menggoyang-goyangkan kakiku. Itu memang benar. Aku punya banyak koleksi foto idola tampan. Tidak ada salahnya menganggumi pria tampan bukan "Aku juga bisa beralih ke pria tampan lainnya. Kau tidak usah khawatir. Di sekolah kita memang banyak pria tampan, aku akan menyeleksinya dulu." Aku menatap Shin dari atas ke bawah. "Lagipula kau juga tampan. Aku juga menyukaimu"
Shin langsung menundukkan wajahnya lagi.
"Ayo pulang" katanya kemudian sambil mengambil sepedanya. "Aku akan mengantarmu. Ini sudah malam"
"EH? Tiba-tiba?" kataku tidak senang. Tapi aku tetap naik ke sepedanya. "Dasar orang aneh..." gumamku. Aku melihat punggung di depanku. Tidak apa-apa kalau aku mengambil keuntungan bukan? Jadi tanpa sadar aku menggerakan tanganku dan memegang pinggang Shin. Ini hal biasa yang dilakukan seseorang saat menaiki sepeda bersama. Shin kelihatannya tidak mengatakan hal apa pun, jadi aku pikir dia setuju. Karena persetujuannya, tanpa sadar aku mendekatkan wajahku dan menyandarkan pipiku di punggungnya.
Ah~ kapan lagi kau bisa berpelukan dengan pria tampan. Selama hidupku ini, aku belum pernah memegang pria tampan. Kali ini benar-benar jackpot!
Shin terus mengayuh sepedanya. Aku hanya merasakan desiran angin yang menerpa wajahku dan suara kayuh sepedanya. Sisanya aku tidak mendengar apa-apa. Suasana saat ini begitu sunyi. Kami tidak mengatakan satu patah kata pun.
Beberapa menit kemudian kami sampai di mansionku. "Terima kasih" kataku.
"Tidak masalah" jawab Shin pelan sebelum mengayuh sepedanya kembali.
Aku terus mengawasi Shin sampai dia dan sepedanya tidak terlihat. Lalu masuk ke dalam mansionku.